PUNGLI : Pungutan liar pada jembatan gantung Desa Bugangan dan Kedungpatangewu, Kedungwuni, dikeluhkan warga, karena petugas meminta dengan paksa. (TAUFIK HIDAYAT/JAWA POS RADAR SEMARANG)
PUNGLI : Pungutan liar pada jembatan gantung Desa Bugangan dan Kedungpatangewu, Kedungwuni, dikeluhkan warga, karena petugas meminta dengan paksa. (TAUFIK HIDAYAT/JAWA POS RADAR SEMARANG)

KAJEN-Selama Jembatan Surabayan diperbaiki, telah dimanfaatkan petugas jembantan gantung dengan meminta secara paksa kepada warga yang melintas untuk membayar. Meski berdalih iuran suka rela, namun bagi yang tidak membayar, tidak diberikan jalan untuk melintas. Kalaupun terpaksa diberi jalan, disertai dengan kata sindirin yang memicu amarah warga.

Maka tidak mengherankan jika pendapatan satu jembatan gantung baik di Desa Bugangan dan Desa Kedungpatangewu lebih dari Rp 2 juta per hari. Terlebih dua pekan menjelang Lebaran, lebih dari 400 motor melalui kedua jembatan tersebut setiap harinya.

Lantaran ada penarikan tarif untuk melewati jembatan, para petugas jembatan tersebut tidak mempedulikan kemacetan panjang hingga 500 meter terjadi di kedua jembatan gantung tersebut. Kini, hampir setiap hari terjadi kemacetan di sepanjang ruas jalan Desa Bugangan dan Desa Kedungpatangewu, Kecamatan Kedungwuni, Kabupaten Pekalongan. Akibatnya, warga sekitar lokasi jembatan gantung di kedua desa merasa dirugikan oleh debu beterbangan serta suara bising kendaraan yang lewat.

Darmuji, 31, warga Desa Wonopringgo, mengaku sehari harus mengeluarkan uang Rp 6 ribu rupiah untuk bisa lewat jembatan gantung Desa Kedungpatangewu. Lantaran harus melalui jembatan tersebut sebanyak 6 kali sehari. Bahkan bisa lebih, saat mengantarkan barang dagangan. Menurutnya petugas jembatan gantung selalu marah, jika hanya diberi uang Rp 500 atau tidak memberi uang sama sekali.

“Kalau petugas tidak memaksa warga yang melintas membayar, pasti tidak terjadi kemacetan. Karena tidak semua warga yang melintas membawa uang receh,” ungkap Darmuji, Kamis (2/7) kemarin.

Hal serupa disampaikan oleh Imam, 32, warga Kelurahan Kedungwuni, yang bekerja sebagai penjahit di Desa Wonopringgo. Setiap hari dirinya selalu merasa kesal dengan ulah petugas jembatan gantung di Desa Bugangan yang meminta uang lebih dari Rp 500 atau Rp 1000 untuk bisa melalui jembatan gantung Desa Bugangan.

“Kalau tidak mau bayar, ya tidak bisa melintas. Harusnya mereka tidak menggunakan kesempatan di saat orang lain kesusahan. Pemkab Batang harusnya tidak tutup mata. Pungli ini harus dihentikan,” ujar Imam dengan nada emosi.

Sementara itu, Kepala Desa Kedungpatengewu, Tatik Endah, membenarkan bahwa pasca dibongkarnya Jembatan Surabayan, terjadi peningkatan arus kendaraan roda dua yang melintas di jembatan gantung Kedungpatengewu, hingga mencapai 500 kendaraan per hari. Sehingga pendapatan jembatan gantung lebih dari Rp 2 juta per harinya.

Menurutnya, kondisi jembatan gantung tersebut sebenarnya memperihatinkan, karena ada beberapa pagar pembatas yang keropos, sehingga saat dilalui kendaraan terjadi goyangan, meski tidak terlalu keras.

“Desa telah memperbaiki secara swadaya sebanyak tiga kali dan menghabiskan dana sebesar Rp 36 juta. Jadi uang iuran sukarela warga yang melintas tersebut, disamping untuk pemeliharaan juga untuk operasional warga desa yang bertugas,” tandas Tatik. (thd/ida)