MEMBATIK : Ratusan buruh batik di Kabupaten Pekalongan menyelesaikan pesanan yang jumlahnya tak sebanyak tahun lalu. (TAUFIK HIDAYAT/JAWA POS RADAR SEMARANG)
MEMBATIK : Ratusan buruh batik di Kabupaten Pekalongan menyelesaikan pesanan yang jumlahnya tak sebanyak tahun lalu. (TAUFIK HIDAYAT/JAWA POS RADAR SEMARANG)

KAJEN-Ratusan buruh batik di Desa Kemplong, Kepatihan, Mayangan dan Desa Waru, Kecamatan Wiradesa, Kabupaten Pekalongan, diberhentikan dari tempatnya bekerja. Lantaran pesanan batik menjelang Lebaran 2015 ini sangat menurun di banding tahun-tahun sebelumnya.

Ruyati, 21, buruh batik mewarnai asal Desa Mayangan, Kecamatan Wiradesa, mengaku sudah dua minggu ini diberhentikan dari tempatnya bekerja di Desa Kemplong. Tidak hanya dia, banyak temannya yang diberhentikan bekerja dengan alasan tidak ada order. ”Sementara tidak kerja dulu, nanti kalau ada order ya kerja lagi seperti biasa,” ujar Ruyati, buruh lepas dengan upah Rp 9 ribu per hari.

Pengurus Paguyuban Batik Wiradesa, asal Desa Waru, Kecamatan Wiradesa, Amsori, 47, mengungkapkan bahwa lesunya penjualan batik terjadi selama 6 bulan terakhir. Hal itu dipicu kenaikan harga bahan baku minyak dan melemahnya nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika.
”Tahun lalu, dua minggu menjelang Lebaran, kami sudah tidak terima order, karena ramainya penjualan. Sekarang barang dagangan baru terjual 20 persen dari persediaan yang tidak terlalu banyak. Kondisi ini dialami oleh semua pedagang batik,” ungkap Amsori di bengkel batik miliknya, Rabu (1/7) siang kemarin.

Menurutnya, untuk menaikkan harga jual batik menyesuaikan harga bahan baku, tidak bisa dilakukan. Karena sebagian besar pemilik toko pakaian, butik atau pedagang batik yang lebih besar, juga mengaku sepi. Untuk mengurangi kerugian, sebagian buruh diberhentikan.

“Kalau order sebenarnya ada terus, cuma harga jualnya rendah. Masih mengikuti harga lama dan itu pasti rugi. Makanya, saat ini ada 600-an lebih buruh batik yang diberhentikan, khususnya di Kecamatan Wiradesa,” lanjut Amsori yang juga memberhentikan 30 karyawannya.

Pemberhentian buruh batik tidak hanya di Kecamatan Wiradesa, tapi terjadi di Kecamatan Wonokerto, Siwalan, Buaran, dan Kecamatan Kedungwuni. Beberapa industri batik sablon, terpaksa menghentikan karyawan jauh sebelum bulan puasa, karena tidak adanya order batik yang bisa dikerjakan lagi.

“Selama ini sebagian pengrajin batik sablon, hanya mengerjakan seragam sekolah atau seragam haji. Untuk seragam perkantoran atau perusahaan jumlahnya sedikit, tidak sebanding dengan harga beli bahan baku,” terang Mahmudi, 52, warga Desa Sapugarut, Kecamatan Buaran.
Sementara itu, Kasi Perindustrian, Dinas Perindustrian Perdagangan, Koperasi UMKM (Perindagkop), Kabupaten Pekalongan, Eko Hendry, mengatakan naiknya sebagian harga bahan baku, memang sangat berpengaruh pada penjualan batik yang terus menurun. Menurutnya untuk meningkatkan penjualan batik, Perindagkop telah mengikutsertakan sebagian pedagang batik, untuk pameran dagang di Jakarta atau Surabaya.
“Kondisi penjualan batik memang agak lesu. Namun penjualan batik akan kembali ramai, sepekan menjelang Lebaran. Makanya pedagang batik, diikutkan pameran dagang untuk membuka peluang pemasaran baru,” kata Hendry. (thd/ida)