Retribusi Terminal Mangkang Diduga Bocor

259
TAK OPTIMAL: Petugas Dishubkominfo menerima uang retribusi dari awak bus yang masuk Terminal Mangkang. (ADITYO DWI/JAWA POS RADAR SEMARANG)
TAK OPTIMAL: Petugas Dishubkominfo menerima uang retribusi dari awak bus yang masuk Terminal Mangkang. (ADITYO DWI/JAWA POS RADAR SEMARANG)

MANGKANG – Terminal Mangkang yang diperuntukkan sebagai terminal penumpang hingga kini masih belum optimal. Masih banyak bus luar kota maupun dalam kota yang tidak masuk terminal. Awak bus memilih ngetem di luar terminal. Akibatnya, muncul sejumlah terminal bayangan. Seperti di daerah Krapyak tepatnya di depan SPBU Krapyak. Selain itu, di tempat tersebut juga berjajar deretan agen tiket bus.

Kemarin (22/3), petugas Dishubkominfo di Terminal Mangkang yang hanya duduk-duduk mendadak kebingungan dan langsung berdiri setelah mengetahui Ketua DPRD Kota Semarang, Supriyadi, melakukan sidak di terminal tersebut.

Supriyadi sempat menanyakan jumlah rata-rata per hari angkutan penumpang yang masuk Terminal Mangkang. Selain itu, ia juga menanyakan pendapatan retribusi yang masuk terminal tersebut. Namun tak satu pun petugas Dishubkominfo yang bisa menjelaskan.

”Kami dapat laporan masyarakat kalau bus-bus yang harusnya masuk ke Terminal Mangkang ternyata tidak masuk meski sudah ada petugas yang berjaga. Kalau begini, terminal kan jadi tidak optimal,” kata Supriyadi.

Koordinator Regu C Dishubkominfo di Terminal Mangkang, Marno, saat berdialog dengan Supriyadi hanya bisa menjelaskan jumlah angkutan penumpang baik dalam kota maupun luar kota pada terminal tersebut diperkirakan mencapai 100 unit lebih per hari. Namun demikian, petugas tidak bisa memberikan keterangan terkait jumlah tiket retribusi yang dikeluarkan per harinnya.

”Kalau bus kecil dari Kendal masuk Teminal Mangkang retribusinya Rp 1.500-Rp 2.000 . Kalau bus besar AKAP bayar retribusi Rp 3.000. Sedangkan jumlah total retribusi yang didapat kami kurang tahu. Biasanya, tidak kami hitung dan langsung diserahkan ke bagian bendahara,” ujarnya.

Supriyadi mengatakan, banyaknya bus baik dalam maupun luar kota yang tidak masuk Terminal Mangkang dinilai banyak menghilangkan pendapatan restribusi. Bahkan, pihaknya menduga terjadi kebocoran pendapatan retribusi Terminal Mangkang.

”Kalau penanganannya seperti ini jelas tidak maksimal. PAD (pendapatan asli daerah) akan merosot. Sebaiknya petugas harus berusaha mengarahkan setiap bus untuk masuk ke dalam Terminal Mangkang. Sehingga mereka tidak menaikkan dan menurunkan penumpang di luar terminal,” tegasnya.

Dia mengatakan, keberadaan terminal bayangan di sejumlah ruas jalan bakal mengganggu kelancaran arus mudik. Selain itu, penghilangan terminal bayangan sebaiknya tidak hanya dilakukan menghadapi Lebaran, namun harus dilakukan seterusnya untuk menjamin optimalisasi fungsi Terminal Mangkang.

”Kami ingin terminal bayangan ini bersih, apalagi sebentar lagi akan ada arus mudik. Penertiban terminal bayangan harus konsisten dan seterusnya. Jangan hanya mendekati Lebaran saja. Bukan hanya di Kalibanteng dan Mangkang, namun juga terminal bayangan di kawasan Terminal Terboyo,” katanya.

Seorang warga yang enggan disebut namanya mengakui penjagaan petugas Dishubkominfo dalam mengatur masuknya bus ke Terminal Mangkang masih kurang optimal. Menurutnya, petugas lebih suka berjaga di luar terminal dalam menarik retribusi setiap bus penumpang yang tidak mau masuk ke dalam terminal.

”Biasanya kalau tidak disidak oleh dewan, bus tidak masuk ke dalam terminal. Awak bus hanya melempar uang kepada petugas yang ada di jalan depan terminal. Setiap hari ya seperti itu. Ada yang melempar uang Rp 2.000-Rp 3.000 per bus. Kemungkinan juga tidak pakai tiket retribusi,” ujarnya kepada Jawa Pos Radar Semarang. (mha/aro/ce1)