Sahur Bersama Pemeluk Katolik dan Konghucu

132
SALING MENGHORMATI: Shinta Nuriyah Abdurrahman Wahid, istri Presiden RI ke-4, foto bersama tokoh agama dan umat Katolik di pelataran Gereja Kebon Dalem, Semarang, ralam rangka sahur bersama, Senin (29/6). (FOTO: NUR CHAMIM/RADAR SEMARANG)
SALING MENGHORMATI: Shinta Nuriyah Abdurrahman Wahid, istri Presiden RI ke-4, foto bersama tokoh agama dan umat Katolik di pelataran Gereja Kebon Dalem, Semarang, ralam rangka sahur bersama, Senin (29/6). (FOTO: NUR CHAMIM/RADAR SEMARANG)

SEMARANG – Pluralisme yang digembar-gemborkan mendiang Gus Dur agaknya masih merasuk di jiwa masyarakat. Hal itu tampak jelas ketika istri Bapak Tionghoa Indonesia sekaligus ibu negara ke-4 Indoesia Shinta Nuriyah Abdurrahman Wahid bertandang ke Semarang untuk menggelar sahur bersama.

Tidak hanya muslim, puluhan pemeluk Katolik tumplek-blek di pelataran Gereja Kebon Dalem, Senin (29/6) dini hari kemarin. Bahkan di acara sahur bareng anak-anak jalanan, kaum marginal, sekaligus penduduk sekitar tersebut dihibur oleh musisi dari kalangan Konghucu.

Menurut Shinta, pemandangan ini memang bukan hal yang lazim, tapi tidak melanggar norma agama. Bahkan dari kacamatanya, Shinta melihat Indonesia seutuhnya. Dia melihat ada semacam bentuk penghormatan dari beragam agama kepada kaum muslim yang tengah menjalankan ibadah puasa. ”Di sini saya melihat keindahan pelangi, wajah Indonesia seutuhnya. Tidak ada lagi batasan agama. Bahkan mereka menghormati muslim yang tengah berpuasa,” katanya.

Shinta mengaku ini bukan kali pertama sahur on the road. Sejak Gus Dur menjabat sebagai presiden, dia mulai sahur bersama dengan tukang becak, penjual sayur, kaum tunawisma, dan kaum marginal lain hingga di bawah kolong jembatan. ”Sejak itu saya kerap menggelar sahur bersama dengan siapa saja dan di mana saja. Karena itu tadi, saya melihat pelangi di suasana semacam ini. Coba bayangkan bila warna pelangi itu hilang satu saja, maka keindahannya akan sirna. Oleh karena itu dengan sahur bersama ini mari kita wujudkan persatuan itu. Ini adalah ungkapan persatuan yang indah itu,” paparnya.

Tahun ini, Shinta berencana menggelar sahur dan buka bersama keliling Pulai Jawa. Itu merupakan permintaan masyarakat sejak tiga bulan sebelum Ramadan tiba. ”Tapi kami harus memilih, tidak semua permintaan bisa terlayani karena Ramadan hanya 30 hari. Untuk luar Pulau Jawa pun saya hanya bisa memenuhi dua kota,” imbuh Shinta.

Dalam acara itu, Tarian Sufi tampil besutan Kiai Budi Harjono, pengasuh Pondok Pesantren Al Ishlah sebagai hiburan. Tarian itu dilakukan dengan gerakan memutarkan tubuh secara terus-menerus hingga jubah yang dipakai berkibar membentuk lingkaran. Yang menarik, tarian itu diiringi alunan musik Tiongkok yang dimainan grup Boan Hian Tong Musik Lam Kwan.

Beberapa waktu kemudian, Romo Budi sebagai tuan rumah turut menyumbangkan melodi dari saksofonnya. Sempat juga berkolaborasi dengan grup rebana Assalam yang mengiringi lantunan syair milik Budi Harjono. (amh/zal)

BAGIKAN

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here