Penimbunan Solar Pertamina Dibongkar

265
DISELEWENGKAN: Kasat Reskrim Polrestabes Semarang AKBP Sugiarto saat melakukan olah TKP di lokasi penimbunan solar bersubsidi milik PT Pertamina oleh tersangka J di lokasi proyek Tambakrejo, Gayamsari, kemarin. (ADITYO DWI/JAWA POS RADAR SEMARANG)
DISELEWENGKAN: Kasat Reskrim Polrestabes Semarang AKBP Sugiarto saat melakukan olah TKP di lokasi penimbunan solar bersubsidi milik PT Pertamina oleh tersangka J di lokasi proyek Tambakrejo, Gayamsari, kemarin. (ADITYO DWI/JAWA POS RADAR SEMARANG)

BARUSARI – Aparat Reserse Kriminal (Reskrim) Polrestabes Semarang membongkar sindikat penimbunan bahan bakar minyak (BBM) jenis solar bersubsidi milik PT Pertamina di lokasi proyek Tambakrejo, Kelurahan Tambakrejo, Kecamatan Gayamsari, Semarang. Penimbunan solar tersebut dilakukan menggunakan truk tangki milik PT Pertamina dengan cara ”dikencingkan” kepada penimbun solar tanpa izin.

Sebanyak 8 drum berisi BBM solar bersubsidi kurang lebih 1.600 liter, 40 drum kosong, 3 buah selang penyedot BBM, 1 alat pembuka tutup drum, 2 buah corong, disita sebagai barang bukti. Selain itu, seorang pria berinisial J, warga Semarang, ditetapkan sebagai tersangka dalam kasus penimbunan BBM solar ini. ”Belum ditahan,” kata Kapolrestabes Semarang Kombes Pol Burhanudin melalui Kasat Reskrim Polrestabes Semarang AKBP Sugiarto ditemui Jawa Pos Radar Semarang di Mapolrestabes Semarang, Senin (29/6).

Dijelaskan Sugiarto, tersangka melakukan penimbunan BBM jenis solar bersubsidi yang berasal dari mobil tangki milik PT Pertamina. ”Dilakukan dengan cara ’kencing’ setiap hari menggunakan truk tangki milik PT Pertamina,” ungkapnya.

Kasus tersebut dibongkar Senin (29/6) sekitar pukul 08.00 kemarin berdasarkan laporan nomor LP/A/188/VI/2015/Reskrim tertanggal 29 Juni 2015. ”Ditemukan penimbunan dan penyimpanan bahan bakar minyak (BBM) jenis solar tanpa izin di lokasi proyek Tambakrejo Gayamsari, Semarang,” katanya.

Pelaku dinyatakan terbukti melakukan pelanggaran sebagaimana dimaksud dalam pasal 53 huruf c UU RI Nomor 22 tahun 2001 tentang minyak dan gas bumi. ”Setiap orang yang melakukan penyimpanan minyak bumi tanpa izin usaha, maka bisa dikenai ancaman pidana 3 tahun penjara,” tegasnya.

Dikatakannya, seharusnya BBM yang dimuat oleh truk tangki milik PT Pertamina tersebut dikirimkan ke sejumlah SPBU. Namun oleh pelaku yang tidak bertanggung jawab, BBM jenis solar bersubsidi itu diselewengkan dan ditimbun di lokasi tersebut. Sejauh ini, pihak kepolisian baru membidik pria berinisial J, selaku penimbun. Sedangkan pelaku lain dari pihak pengirim yang menggunakan truk tangki PT Pertamina belum disentuh oleh pihak kepolisian.

”Masih kami kembangkan. Sejauh ini baru memeriksa dua saksi. Pelaku J juga belum memenuhi panggilan,” katanya.

Dalam kasus ini, lanjut Sugiarto, pihaknya mengaku masih kesulitan melakukan penahanan terhadap pelaku. Sebab, pasal yang terbukti adalah terkait penimbunan BBM tanpa izin. ”Hukumannya 3 tahun, tidak bisa ditahan. Tapi ini masih kami kembangkan,” ujarnya.

Pihaknya mengaku belum mengetahui ke mana saja hasil penimbunan BBM solar ilegal tersebut dijual. ”Belum diketahui dijual ke mana. Nanti, ini pemeriksaan saja belum selesai,” katanya.

Terpisah, Humas PT Pertamina Operasi Regional IV Jateng dan Jogjakarta, Robert Marchelino Verieza Damatubun menjelaskan, pihaknya akan segera melakukan pengecekan untuk mengetahui detail kronologi kasus tersebut.

”Kami perlu mengetahui secara pasti, konteks kasusnya seperti apa. Mulai dari kelengkapan dokumen dan surat-surat lain, apakah telah dijalankan sesuai dengan prosedur atau tidak. Dari situ, baru bisa kami ketahui kasusnya seperti apa,” ujarnya.

Namun yang jelas, kata Robert, ini tindakan kejahatan. Apabila ada oknum PT Pertamina yang terbukti terlibat dalam kasus tersebut, pihaknya akan memberi sanksi tegas. ”Sanksi terberat adalah PHK (pemutusan hubungan kerja) atau dipecat,” tegasnya.

Saat ini, pihaknya masih menunggu proses yang sedang dilakukan pihak kepolisian. Dikatakannya, ada dua istilah yang sering disebut, yakni ”kencing” dan ”pengirisan”. Nah, dalam kasus ini belum bisa didefinisikan atau dipastikan bahwa kasus tersebut termasuk konteks yang mana.

”Kalau istilah kencing, menggambarkan proses pencurian BBM yang dilakukan pada saat mobil tangki BBM telah keluar dari depo instalasi dan sedang menuju ke SPBU. Sedangkan kalau pengirisan ada upaya rekayasa yang membuat pengurangan BBM,” terangnya.

Karena itu, pihaknya masih hasil menunggu proses hukum yang sedang berjalan di kepolisian. ”Kami lihat dulu modus penimbunan yang dimaksud seperti apa. Berdasarkan bukti-bukti dan pemeriksaan saksi. Baru bisa didefinisikan. Jika memang ada (oknum Pertamina, Red) yang terbukti terlibat, kami akan beri sanksi tegas,” pungkasnya. (amu/aro/ce1)