Prasetyo Budi Yuwono. (Ahmad Faishol/Jawa Pos Radar Semarang)
Prasetyo Budi Yuwono. (Ahmad Faishol/Jawa Pos Radar Semarang)

SEMARANG – Jawa Tengah saat ini telah memasuki musim kemarau. Oleh karenanya, penghematan air mutlak dilakukan. Selain itu, masyarakat juga diimbau untuk mematuhi pola tanam yang telah disepakati. Sehingga volume air yang ada dapat dipertahankan hingga berakhirnya musim kemarau.

”Misalnya, ketika waktunya menanam palawija ya sama-sama menanam palawija. Jangan malah menanam padi. Sehingga kebutuhan air dapat terus terjaga,” ungkap Kepala Dinas Pengelolaan Sumber Daya Air (PSDA) Jawa Tengah, Prasetyo Budi Yuwono.

Dia menjelaskan, hingga saat ini persedian air di Jawa Tengah masih di atas batas yang ditetapkan. Artinya, volume air yang ditampung di sejumlah waduk di Jateng masih cukup untuk back-up pertanian dan memenuhi kebutuhan lainnya. ”Memang ada beberapa sungai yang telah kering. Namun masih cukup untuk kegiatan irigasi,” imbuhnya.

Prasetyo mengklaim persediaan air pada sejumlah waduk besar di Jawa Tengah masih 80 persen. Sementara untuk waduk-waduk kecil tinggal 70 persen. Kemungkinan jumlah tersebut akan terus menurun hingga bulan Agustus mendatang. ”Memang di daerah waduk kecil terbiasa begitu,” terangnya.

Diakuinya, saat ini ada empat waduk yang mulai mengering. Di antaranya waduk yang ada di Pati, Wonogiri, dan dua lainnya di Sragen. Untuk mengantisipasi terjadinya kekurangan air, pemprov menyediakan sejumlah pompa yang tersebar di beberapa daerah. Pompa-pompa tersebut dapat dipinjam sesuai dengan permintaan. ”Seperti yang dilakukan di Solo dan Sukoharjo baru-baru ini yang meminta melalui layanan Lapor Gub,” sambungnya.

Selain untuk mengantisipasi kemarau, lanjut Prasetyo, penyediaan air juga menyiapkan cadangan masa tanam (MT) pertama yang direncanakan pada 1 Oktober mendatang. Oleh karena itu, pihaknya berencana menutup sejumlah waduk untuk memenuhi kebutuhan tersebut. ”Tentunya tergantung kesepakatan dengan masing-masing pihak,” tandasnya. (fai/ric/ce1)