Pengurus Baru Minimal Harus Bisa Pertahankan Prestasi

230
TUGAS BERAT: Pengurus Persani Kota Semarang Periode 2015-2019 saat mengikuti proses pelantikan di Kompleks Balai Kota dipimpin Ketua barunya Arnaz Agung Andrarasmara. (IST)
TUGAS BERAT: Pengurus Persani Kota Semarang Periode 2015-2019 saat mengikuti proses pelantikan di Kompleks Balai Kota dipimpin Ketua barunya Arnaz Agung Andrarasmara. (IST)

SEMARANG – Pengurus Persatuan Senam Indonesia (Persani) Kota Semarang periode 2015-2019 dituntut bisa mengembangkan senam di Kota Atlas. Minimal bisa mempertahankan prestasi yang selama ini sudah diraih dalam pengurusan lama. Tepatnya mampu mendulang medali emas dalam Pekan Olahraga Pelajar Daerah (Popda) minimal 13 medali.

Hal itu disampaikan Kepala Dinas Sosial, Pemuda dan Olahraga (Dinsospora) Kota Semarang Gurun Risyadmoko usai pelantikan pengurus Persani Kota Semarang, belum lama ini. Menurutnya, target tersebut sangat realistis karena dalam Popda sebelumnya, Persani bisa membawa pulang 13 medali. ”Targetnya kan bisa melebihi perolehan medali Popda kemarin, tapi minimal ya bisa mempertahankan perolehan 13 medali emas tersebut,” terangnya.

Dijelaskan, prestasi Persani terus menunjukkan peningkatan yang cukup baik. Dalam Popda 2014, Persani bisa menyumbang 10 medali emas.
Namun setahun berikutnya, cabang senam dari Kota Semarang justru mampu menyumbang 13 medali. Meski Kota Semarang tidak lagi menjadi juara umum, namun setidaknya ada peningkatan prestasi dan medali dari cabang senam. ”Ini harus dipertahankan, jaga eksistensi dan dinamisasi di mana pengurus harus punya tiga sikap yakni mau, tahu dan mau tahu. Dengan demikia, senam bisa berprestasi lebih tinggi di tingkat nasional dan internasional,” tukasnya.

Gurun menambahkan, pihaknya memiliki visi menjadikan Kota Semarang sebagai kota atlet. Karenanya, pihaknya akan berupaya membangun sarana prasarana olahraga yang memadai agar prestasi atlet terjaga.

Ketua Persani Kota Semarang Arnaz Agung Andrarasmara mengakui tidak mudah mempertahankan raihan medali dalam Popda 2015. Terlebih selama ini pihaknya tidak memiliki sarana training centre (TC) yang memadai. ”Setiap kali mau TC harus ke Jakarta di mana biayanya tentu sangat mahal. Tapi pengurus ke depan saya harapkan mau bekerja keras demi prestasi senam Kota Semarang,” ujarnya sembari menambahkan, semua cabang olahraga dipastikan memiliki kendala. Namun melalui kepengurusan yang solid, dirinya yakin kendala-kendala tersebut akan dapat dilewati dengan mudah. (zal/ce1)