Mampu Mendeteksi Kadar Gas H2S dan CO2 Gunung Berapi

281

AQUACOPTER 2_EKO BUDIweb

KREATIF: Empat mahasiswa Undip menciptakan Aquacopter. (DOK)
KREATIF: Empat mahasiswa Undip menciptakan Aquacopter. (DOK)

Kreativitas mahasiswa Undip dalam membuat Aquacopter patut diapresiasi. Pasalnya, karya tersebut dapat membantu pengawasan khususnya gunung berapi. Seperti apa?

EKO WAHYU BUDIYANTO

SAAT ini, Indonesia sedang ditimpa berbagai bencana alam, salah satunya bencana gunung meletus. Seperti yang terjadi beberapa bulan kemarin ketika Gunung Slamet mengalami kenaikan aktivitas vulkanis sehingga Badan Pengawasan Gunung Slamet harus menaikkan status menjadi Siaga.

Ditambah lagi sebagian besar gunung yang ada di Pulau Jawa merupakan gunung api, baik yang masih aktif atau hanya mengeluarkan semburan belerang seperti di Gunung Ungaran. Hal ini tidak menutup kemungkinan beberapa wisata alam, dekat dengan gas belerang.

Misalnya, wisata Krakatau, Tangkuban Perahu, Dieng, Candi Gedong Songo, dan lain sebagainya. Sehingga tempat-tempat tersebut perlu pemantauan lebih intensif dan efektif untuk menjaga keamanan dan keselamatan terutama bagi para wisatawan.

Oleh karena itu, 4 mahasiswa Fakultas Sains dan Matematika Universitas Diponegoro (Undip) semester 6 yaitu Agus Sulistiyo, Figur Humani, Inayatul Inayah, dan Eva Yulianti bergerak bersama untuk membuat suatu Program Kreativitas Mahasiswa Karsa Cipta (PKM-KC) Aquacopter.

Aquacopter merupakan pesawat tanpa awak dengan 4 baling-baling (Quadcopter) yang dapat bergerak di air dan dapat mendeteksi kadar gas H2S (Hydrogen sulfide) dan CO2 (karbon dioksida).

Menurut Ketua Tim, Agus Sulistiyo, inovasi Aquacopter ini dapat bergerak di air bukan tanpa alasan, karena ketika pemantauan gas di sekitar perairan maka Aquacopter turun ke permukaan air.

”Apabila daya baterai sudah hampir habis, Aquacopter tetap dapat bergerak di permukaan air dengan daya yang masih tersisa untuk menggerakkan 1 motor. Penemuan ini, kami harapkan berguna untuk meminimalisasi kemungkinan buruk akibat dari peristiwa alam,” ujar Agus.
Agus menambahkan, hasil pengambilan data kadar gas dapat dipantau secara real time melalui layar monitor di stasiun darat. Rentang waktu pelaksanaan untuk membuat alat tersebut yaitu dari bulan Maret sampai Juni.

”Sasaran dari program Aquacopter yaitu sebuah prototype yang mampu mengirimkan data kadar gas secara real time, sehingga proses pemantauan akan lebih mudah karena Badan Pemantauan tidak perlu meninjau langsung ke lapangan. Apalagi jika medan lokasi pemantauan sulit dilalui,” ujar Agus.

Inayatul menambahkan jika terjadi kecelakaan seperti kejadian seorang pendaki jatuh di kawah Gunung Merapi beberapa hari yang lalu. Untuk mengevakuasi korban harus tahu posisinya terhadap pusat kawah yang mempunyai suhu ratusan derajat celcius dan kandungan gas beracun.

”Walaupun kemarin sudah menggunakan Quadcopter tetapi baru menggunakan kamera untuk mengetahui lokasi korban. Dengan menggunakan Aquacopter kita dapat mengetahui lokasi korban melalui kamera serta dapat mengetahui kadar gas sulfur di sekitar lokasi jatuhnya korban,” katanya.

Proses pembuatan alat tersebut juga tidak memakan waktu lama. Selama tiga bulan alat yang diklaim mampu terbang dengan ketinggian 100 meter lebih tersebut dihasilkan. Semua biaya pembuatan ditanggung oleh para mahasiswa kreatif tersebut. (*/ida/ce1)