Disdik Merasa Kecolongan

161
DOK JAWA POS RADAR SEMARANG
DOK JAWA POS RADAR SEMARANG

Bunyamin
Kepala Disdik Kota Semarang

”Karena yang kami legalisir jumlahnya ribuan. Kami juga sudah melakukan kroscek ke sekolah asal dan penyelenggara yang mengeluarkan piagam tersebut. Kami telah melakukan sesuai dengan peraturan. Mungkin yang diduga abal-abal tersebut lolos dari kroscek kami.”

CANDISARI – Meski banyak disorot, masih saja ditemukan piagam yang diduga abal-abal selama pelaksanaan Penerimaan Peserta Didik (PPD) 2015 Kota Semarang. Tragisnya, piagam tersebut telah terlegalisir oleh Dinas Pendidikan Kota Semarang dan sekolah asal siswa tersebut.
Menanggapi hal tersebut, Kepala Dinas Pendidikan (Disdik) Kota Semarang, Bunyamin mengakui jika pihaknya sempat kecolongan dalam melegalisir piagam penghargaan yang digunakan dalam pendaftaran PPD tahun ini.

”Karena yang kami legalisir jumlahnya ribuan. Kami juga sudah melakukan kroscek ke sekolah asal dan penyelenggara yang mengeluarkan piagam tersebut. Kami telah melakukan sesuai dengan peraturan. Mungkin yang diduga abal-abal tersebut lolos dari kroscek kami,” ujar Bunyamin, Minggu (28/6) kemarin.

Oleh karenanya, lanjut Bunyamin, untuk meminimalisasi peredaran piagam yang diduga abal-abal tersebut, pihak Disdik menginstruksikan kepada semua sekolah untuk melakukan uji kompetensi kepada siswa yang bersangkutan terkait dengan kemampuannya dalam piagam tersebut.
”Jikalau siswa yang bersangkutan tidak mampu melakukan seperti yang tertera di dalam piagam tersebut, sekolah berhak tidak mengakui keabsahan piagam tersebut. Selain itu, setiap sekolah juga kita minta melakukan kroscek ke sekolah, guna memastikan keabsahan piagam tersebut. Meskipun pihak Disdik sebelumnya juga melakukan pengkroscekan,” tuturnya.

Seperti diketahui, beberapa waktu yang lalu, ditemukan piagam yang diduga abal-abal pada pelaksanaan PPD di SMA N 11 Semarang. Piagam tersebut berlevel nasional. Anehnya dalam piagam tersebut nama dan juara ditulis menggunakan tulisan tangan dan terkesan semrawut.

Melihat hal tersebut, pihak SMA N 11 segera mengkroscek ke sekolah asal guna memastikan tentang validitas piagam tersebut. Namun jawaban yang diperoleh pihak SMA N 11, justru pihak sekolah asal tidak merasa mengirim anak didiknya untuk mengikuti perlombaan sesuai yang tertera di dalam piagam.

Dihubungi via seluler, Ketua Panitia PPD SMA N 11 Semarang, Mujo mengatakan pihaknya akan selalu berhati-hati dalam melakukan verifikasi setiap berkas yang diserahkan oleh calon peserta didik. Hal tersebut dilakukan guna meminimalisasi masuknya piagam abal-abal dalam PPD di sekolahnya.

”Pengalaman kemarin setelah kami temukan 3 piagam yang tidak bisa dipertanggungjawabkan keabsahannya. Sekarang kami sangat lebih hati-hati dalam memeriksa berkas calon peserta didik ketika hendak melakukan verifikasi,” kata Mujo.

Oleh karenanya jika ditemukan piagam yang mencurigakan dan jika dilakukan pengecekan ternyata tidak dapat dibuktikan kebenarannya, pihaknya tak segan-segan mengembalikan piagam tersebut ke calon peserta didik.

Pada hari kelima jumlah terbanyak calon peserta didik yang sudah melakukan verifikasi yaitu SMA N 15 Semarang dengan 1.337 calon peserta didik. Padahal daya tampung sekolah tersebut sebanyak 352 siswa. Sementara itu, SMA N 11 Semarang menempati peringkat terbanyak kedua calon peserta didik yang telah melakukan verifikasi yaitu 1.331.

”Daya tampung hanya 427 siswa. Jika dibandingkan dengan tahun kemarin, tahun ini kami prediksi jumlahnya akan lebih banyak. Karena pada hari kelima jumlah pendaftar di SMAN 11 sudah sebanyak 1.496 siswa,” tutur Mujo. (ewb/ida/ce1)