MERUGI : Tanaman cabai terkena anamoli dan jamur fusarium dan pseudomonas sehingga gampang membusuk dan mengering. (TAUFIK HIDAYAT/JAWA POS RADAR SEMARANG)
MERUGI : Tanaman cabai terkena anamoli dan jamur fusarium dan pseudomonas sehingga gampang membusuk dan mengering. (TAUFIK HIDAYAT/JAWA POS RADAR SEMARANG)

KAJEN-Puluhan petani cabai merah di Desa Kayuguritan, Kecamatan Karanganyar, Kabupaten Pekalongan, Jum’at (26/6) pagi kemarin, terpaksa melakukan panen dini. Selain karena permintaan cabai yang tinggi dan harganya naik hingga Rp 48 ribu, karena buah cabai mulai dijangkiti hama tanaman.

Ahmad Fauzan, 38, warga Desa/Kecamatan Wonopringgo, Kabupaten Pekalongan, mengungkapkan, bahwa daun tanaman cabainya tetap segar, namun buahnya cepat kering, membusuk dan mengecil.

Akibatnya, tanaman cabai seluas setengah hektare, yang rencananya akan dipanen awal bulan Juli untuk menyambut Lebaran, sudah dipanen duluan. Bahkan, kalau biasanya bisa dipanen 70 kilogram hingga 100 kilogram, kini hanya bisa menghasilkan sebanyak 20 kilogram. Padahal harga cabai merah keriting, di Pasar Kedungwuni dan Wiradesa saat ini mencapai Rp 48 ribu per kilogramnya. “Harapan mendapatkan keuntungan besar pada saat Lebaran, akhirnya gagal,” tandasnya.

Menurutnya, jika tanaman cabai tersebut dibiarkan, maka semua tanaman cabainya akan mati. Untuk mengurangi kerugian, tanaman cabe tersebut harus dipanen lebih awal. ”Kalau daunnya tetap segar, tapi buah cabainya mengering dan busuk,” ungkap Ahmad Fauzan, sambil memetik sisa buah cabainya.

Ahmad Fauzan menambahkan, gejala mengering dan membusuknya buah cabai tersebut, sudah nampak sejak sebulan yang lalu. Sudah dilakukan penyemprotan dengan segala obat, namun hasilnya tidak memuaskan. Bahkan serangan hama semakin meluas ke tanaman lainnya.

”Rencananya akan saya panen, seminggu menjelang Lebaran. Makanya terus saya semprot dengan obat, namun tetap saja hasilnya buah mengering dan busuk,” tambah Ahmad Fauzan yang mengaku rugi lebih dari Rp 25 juta.

Pengurus Asosiasi Pedagang Pasar, Kecamatan Wiradesa, Solkhin mengatakan bahwa meski harga cabai merah terus naik hingga mencapai Rp 48 ribu, namun pasokan dari daerah penghasil cabai seperti Magelang dan Ambarawa masih lancer. Demikian juga dengan cabai merah impor. ”Pasokan cabai merah dan sayuran lainnya masih lancar, namun harga masih terus naik. Karena banyaknya permintaan selama bulan puasa,” kata Solkhin.

Sementara itu, Penyuluh Pertanian, Kecamatan Karanganyar, Dinas Pertanian, Perkebunan dan Kehutanan, Kabupaten Pekalongan, Hery Haryanto, menjelaskan, jika dilihat dari kondisi pohon cabai, kemungkinan penyebab busuknya buah karena terserang anomali cuaca. Dimana saat tanaman cabai tengah berbuah, hujan terus mengguyur sehingga tanaman membusuk. Apalagi, tanaman cabai dikenal tak tahan dengan kondisi air yang menggenang. “Penyebab busuknya buah dan mengering, bisa karena jamur fusarium dan pseudomonas, atau anomali cuaca,” jelas Hery.

Hery juga menandaskan, kegagalan petani tradisional, kebanyakan disebabkan oleh rendahnya kualitas benih. Biasanya mereka menggunakan benih buatan sendiri, yang mutunya tidak sebaik benih impor. Akibatnya, tanaman mudah terserang hama dan penyakit. “Petani terkadang tidak memperhatikan benih, terlebih untuk tanaman cabai rentan dengan hama,” tandas Hery. (thd/ida)