Permintaan Tinggi, Harga Buah Labu Naik

246
LARIS MANIS : Tradisi buka puasa dengan yang manis-manis atau kolak, memberikan keuntungan bagi penjual buah labu di Klero, Tengaran, Kabupaten Semarang. (Munir Abdillah/Jawa Pos Radar Semarang)
LARIS MANIS : Tradisi buka puasa dengan yang manis-manis atau kolak, memberikan keuntungan bagi penjual buah labu di Klero, Tengaran, Kabupaten Semarang. (Munir Abdillah/Jawa Pos Radar Semarang)

TENGARAN—Tradisi mengawali berbuka puasa dengan yang manis-manis berupa kolak, menyebabkan permintaan terhadap buah labu meningkat tajam. Akibatnya, harga buah yang biasa diolah menjadi kolak, dodol, geplak, stik labu ini, naik hingga 100 persen dari hari-hari biasa.

“Kalau hari-hari biasa, pembeli rata-rata adalah pedagang. Kemudian dijual kembali di Salatiga atau di Pasar Kembangsari,” kata Nurul, 43, penjual labu di Tengaran ini.

Setiap hari, kata Nurul, harus menyediakan 4-5 ton buah labu per hari. Saking tingginya permintaan masyarakat. “Biasanya para pedagang yang membeli buah labu, kemudian dipotong-potong dengan ukuran sedang dijual lagi kepada kalangan rumah tangga,” tuturnya.

Suryadi, pedagang kolak di Pasar Kembangsari mengaku, memasuki Ramadan jualan kolaknya selalu habis. Jadi setiap hari harus membeli buah labu agar bisa mengumpulkan uang ketika hari raya.

“Kolak saya jual dengan harga Rp 3000. Dijual setelah Asyar di depan Pasar Kembangsari sampai habis. Tapi alhamdulillah sebelum waktu berbuka puasa datang, biasanya sudah habis,” katanya.

Menurutnya, pendapatan paling tinggi terjadi ketika pertengahan bulan Ramadan. Karena banyak keluarga yang ingin makan di luar rumah. Atau kurang lebih sudah mulai masak di rumah. “Kalau awal-awal Ramadan begini, banyak yang masih makan dengan keluarga,” katanya. (abd/ida)