DEMAK – Setelah mandek selama bertahun-tahun, pembangunan jalan tol Semarang-Demak kembali disosialisasikan. Rencananya pembangunan jalan tol itu diperkirakan sudah bisa dilakukan mulai 2016 mendatang. Untuk persiapan, kini tengah diupayakan untuk dilakukan pembebasan lahan. Sebetulnya, untuk pembangunan jalan tol tersebut, pada 1996,1997 dan 1998 telah dimulai pembebasan lahan. Namun, pembebasan lahan waktu itu masih sekitar 42 hektare saja.

Sedangkan, untuk tol Semarang-Demak tersebut sedikitnya dibutuhkan lahan seluas 144 hektare. Hal ini mengemuka dalam sosialisasi jalan tol Semarang-Demak yang berlangsung di gedung Bina Praja, kemarin. Sosialisasi yang dilakukan pihak Dirjen Bina Marga, Kementerian Pekerjaan Umum (PU) dan dibuka oleh Asisten I Bidang Pemerintahan, AN Wahyudi ini diikuti unsur Dinas Pekerjaan Umum, Perumahan, Pertambangan dan Energi (DPUPPE), Bappeda, Bagian Pemerintahan Umum, Bagian Hukum, dan instansi terkait lainnya.

Kabag Pemerintahan Umum, Edi Suntoro mengatakan, acara tersebut merupakan sosialisasi awal dari pihak Satuan Kerja (Satker) Bina Marga untuk pembangunan seksi tol Semarang-Demak. “Dulu, sudah pernah ada pembebasan lahan. Sekarang dimulai lagi. Sebab, pembangunan tol Semarang-Demak ini sudah final dan dipastikan segera dibangun. Hanya ada sedikit pergeseran rute saja, ” katanya, kemarin.

Kejelasan soal akan dibangunnya tol ini sesuai dengan surat pejabat pembuat komitmen (PPK) terkait inventarisasi dan pengadaan tanah jalan tol Semarang-Demak dari Dirjen Bina Marga, Kementerian PU tersebut. Dengan adanya UU Nomor 2 Tahun 2012 tentang pengadaan tanah bagi pembangunan untuk kepentingan umum dan Perpres Nomor 71 Tahun 2012, maka pengadaan tanah dilakukan dari nol lagi. Ini dilakukan dalam rangka penyesuaian dengan adanya penetapan lokasi oleh Gubernur Jateng.

Untuk keperluan jalan tol Semarang-Demak ini, untuk sementara ada 18 desa di empat kecamatan yang akan dilalui. Yaitu, Kecamatan Sayung meliputi; Desa Sriwulan, Bedono, Purwosari, Sidogemah, Gemulak, Loireng dan Tambakroto. Kemudian Kecamatan Karangtengah yakni melintasi Desa Batu, Wonokerto, Kedunguter, Dukun, Karangsari, Pulosari dan Grogol. Sedangkan, Kecamatan Wonosalam meliputi Desa Karangrejo, Wonosalam, dan Kendaldoyong. Terakhir di Kecamatan Demak Kota tol akan berhenti di wilayah Kelurahan Kadilangu. Tol tersebut sepanjang 24 kilometer.

Kasubag Pertanahan Bagian Pemerintahan Umum, Sigit Raharjo menambahkan, untuk wilayah desa yang dilintasi tol ini sudah bisa dipastikan. Hanya tinggal titik tol yang belum ditentukan. Karena itu, tim akan meninjau lapangan lagi untuk melakukan pengecekan langsung.

Untuk tol Semarang-Demak ini, akan tersambung dan dimulai dari wilayah Terboyo Kulon, Terboyo Wetan, lalu masuk ke Trimulyo, Kecamatan Genuk, Semarang dan dilanjut ke jalur Desa Sriwulan, Kecamatan Sayung dan ke wilayah kecamatan lainnya. Sedangkan, untuk exit tol kemungkinan diletakkan di Desa Loireng, Kecamatan Sayung dan Kelurahan Kadilangu, Kecamatan Demak Kota.

Sigit menambahkan, berdasar UU baru tersebut, setidaknya ada empat tahapan yang dilalui untuk membangun tol Semarang-Demak ini. Yaitu, mulai perencanaan, persiapan pembebasan lahan, pelaksanaan serta penyerahan hasil. “Sehingga pekerjaan fisik kemungkinan dimulai 2016 nanti,”katanya.

Jalan tol Semarang-Demak menjadi prioritas karena jalur pantura tersebut sudah sering terjadi kemacetan lalulintas. Tol Semarang-Demak ini pada perkembangannya akan dilanjutkan hingga Kudus sebagai bagian dari jalan tol Trans Jawa. (hib/fth)