MEMPRIHATINKAN : Petugas Candi Dukuh sedang melakukan perawatan dengan peralatan seadanya. (Munir Abdillah/JAWA POS RADAR SEMARANG)
MEMPRIHATINKAN : Petugas Candi Dukuh sedang melakukan perawatan dengan peralatan seadanya. (Munir Abdillah/JAWA POS RADAR SEMARANG)

BANYUBIRU—Pelestarian beberapa candi di Kabupaten Semarang dan Salatiga membutuhkan keterlibatan masyarakat. Dengan begitu, masyarakat dapat membantu mempromosikan secara gratis cagar budaya dari mulut ke mulut. Sehingga tidak sepi wisatawan.

Dari pantauan Jawa Pos Radar Semarang, di Candi Dukuh, Desa Rowoboni, Kecamatan Banyubiru, buku tamu milik petugas penjaga candi terlihat kosong. Hanya ada dua penjaga yang sedang melakukan pembersihan candi. Padahal, jika Candi Dukuh diperbaiki, bisa menjadi tempat rekreasi yang bagus. Apalagi Candi Dukuh memiliki gardu pandang langsung menuju Rawa Pening dari ketinggian 200 meter.

Petugas Pelestarian Cagar Budaya Prambanan untuk Candi Dukuh, Wandono, mengatakan pelestarian Candi Dukuh masih dilakukan oleh petugas. Pernah dilakukan pemugaran Candi Dukuh pada tahun 2011. Bahkan, pada saat pembongkaran batu tangga sisi timur dalam kedalaman 20–40 sentimeter, staff BPCB Jawa Tengah menemukan peripih lempengan logam emas. Diduga peripih tersebut berguna untuk menghidupkan suatu candi.

Berat total temuan emas tersebut 4,1 gram. Tempat temuan sudah tidak disitu lagi, karena pada saat dilakukan penggalian, sumuran sudah tidak ada lagi. Namun pernah ada tanah teraduk di sisi utara dan barat, yang diduga pernah ada orang yang mengambil untuk kemudian dijual lagi. Coba seumpama masyarakat juga ikut menjaga, tentunya jika ada yang berniat tidak baik bisa dicegah. Tidak perlu menunggu petugas.

Selain itu, terdapat tujuh lempeng, 6 di antaranya teridentifikasi gambarnya. Tiga lempeng terpahat gambar gajah yang merupakan tunggangan dari Dewa Indra, gambar Fajra (seperti mata tombak) yang merupakan atribut Dewa Indra dan bunga Padma yang merupakan atribut Dewa Wisnu serta gambar bulan sabit yang melambangkan Dewa Siwa.

“Dari informasi yang saya dapat, Candi Dukuh lebih dikenal Candi Brawijaya, didirikan pada masa Hindu. Pada saat ditemukan, tinggal bagian kaki candi. Untuk bagian tubuh dan atap candi ditemukan, namun kondisinya tidak lengkap lagi. berdasar konstruksi sementara serupa dengan Candi Gedongsongo yang dibangun pada abad 9,” katanya.

Sumandi, 24, wisatawan lokal asal Salatiga mengungkapkan dirinya baru tahu kalau ada Candi Dukuh di Rowoboni. Dirinya bersama kelompoknya ingin melakukan penelitian terkait candi-candi di Kabupaten Semarang sebagai tugas kuliah. Menurutnya perlu bekerjasama dengan pemerintah dalam memanfaatkan daerah sekitar.

“Promosi dan kerjasama bersama masyarakat saya kira akan lebih efektif. Selain itu, penanaman rasa memiliki pada masyarakat terhadap cagar budaya, akan meringankan kerja petugas,” pungkasnya. (abd/ida)