SIDANG DITUNDA : Jaksa belum bisa menghadirkan saksi, sidang kasus dugaan penganiayaan di Pengadilan Negeri (PN) Pekalongan Kota, Rabu (23/6), ditunda seminggu lagi. (LUTFI HANAFI/JAWA POS RADAR SEMARANG)
SIDANG DITUNDA : Jaksa belum bisa menghadirkan saksi, sidang kasus dugaan penganiayaan di Pengadilan Negeri (PN) Pekalongan Kota, Rabu (23/6), ditunda seminggu lagi. (LUTFI HANAFI/JAWA POS RADAR SEMARANG)

PEKALONGAN-Angela Marle Noending, 41, warga Kandang Panjang Pekalongan Utara, Kota Pekalongan, yang dijadikan tersangka kasus dugaan penganiayaan, membuat pengakuan yang mengejutkan. Dirinya kepada wartawan mengaku kerap diintervensi jaksa Kejari Pekalongan selama proses penyidikan sampai menjelang sidang di Pengadilan Negeri (PN) pada Rabu (23/6) kemarin.

“Saya sudah ditekan sejak dalam proses pemeriksaan dan selama wajib lapor ke Kejari Pekalongan Kota. Terakhir sebelum sidang, Jaksa masih terus melakukan intervensi. Saya disuruh berkata sesuai berkas yang sudah ada. Intinya disuruh mengakui perbuatan. Bilang saja khilaf saat melakukan,” ucap Angela.

Menurut Angela, dirinya dipaksa untuk mengakui perbuatan sesuai berita acara, agar urusan persidangan cepat beres. Padahal, kata Angela, dirinya sama sekali tidak melakukan perbuatan sebagaimana dalam berita acara tersebut.

Ditambahkan Angela, jika dirinya mau menuruti permintaan jaksa tersebut, bisa memudahkan permintaan penangguhan penahanan. Tapi kalau masih berbelit-belit, akan menanggung sendiri akibatnya. Bahkan Jaksa jengkel kenapa, dirinya ikut menyebarkan berita ini ke media. “Suami saya dan beberapa orang lain mendengar. Saya menyesal tidak merekamnya,” ucapnya.

Sementara itu, kasus persidangan Angela ini bermula saat dirinya dituduh menganiaya keponakannya Nazar Ayun. Pada 11 Juli 2013, Angela dituduh memukul Nazar dengan sapu miliknya serta didorong 3 kali. Sehingga keluarga tidak terima dan mengadukannya ke Polisi. Namun besoknya dilakukan mediasi dan sudah terjadi perdamaian. Saat mediasi Nazar juga mengaku tidak dipukul sama sekali oleh Angela.

Yang heran, enam bulan berselang, Angela tiba-tiba mendapatkan surat berupa panggilan dari Polres Pekalongan yang menyatakan bahwa kasus tersebut dilanjutkan. Bahkan, tiba-tiba ada surat visum dokter dan polisi mengakui memiliki alat bukti pemukulan.

“Padahal sapu yang dituduhkan kepada saya untuk memukul, masih ada di rumah sampai sekarang. Jadi alat bukti di polisi itu yang mana?” jelasnya didampingi suaminya Suyatno, 42.

Mengatahui merasa dikrimanilisasi, Angela sempat mengadu ke anggota DPRD dan sempat ke Wali Kota Pekalongan. Serta minta pendampingan hukum ke Lembaga Bantuan Hukum (LBH). Meski begitu, dirinya kembali mendapatkan surat panggilan pada Agustus 2014, bahwa kasusnya sudah dilimpahkan ke kejaksaan. Sehingga dirinya diminta wajib lapor seminggu dua kali.

Kemudian pada 21 April 2015 lalu, muncul surat lagi. Dirinya diminta ke Polres, kemudian dibawa ke Kejaksaan dan akan ditahan. Namun Angela ngotot, tidak mau. Dan kejaksaan mau menangguhkan penahanannya.

Salah satu pendamping Angela, Abu Ayas, berharap jaksa bisa bersikap netral. “Selama ini jaksa malah terkesan menjerumuskan Angela. Tidak menggunakan, azas praduga tak bersalah. Malah menyuruhnya mengakui perbuatannya,” jelasnya.

Menurut Abu Ayas, Angela dikriminalisasi, karena ada sentimen rasial pasca Angela menjadi mualaf. “Kemudian kasus tersebut dimunculkan oleh pihak pelapor,” katanya. Sementara itu, sidang di PN Pekalongan Kota ditunda seminggu kemudian. Karena jaksa tidak bisa menghadirkan saksi. (han/ida)