Dibangun Utusan Raja Demak, Alquran Raksasa Jadi Pemikat

275
CAGAR BUDAYA : Kitab Alquran berukuran beras yang masih terawat dengan baik, serta mimbar dan empat soko penyangga Masjid Jami Aulia masih kokoh berdiri. (TAUFIK HIDAYAT/JAWA POS RADAR SEMARANG)
CAGAR BUDAYA : Kitab Alquran berukuran beras yang masih terawat dengan baik, serta mimbar dan empat soko penyangga Masjid Jami Aulia masih kokoh berdiri. (TAUFIK HIDAYAT/JAWA POS RADAR SEMARANG)

Setiap kali datang bulan Ramadan, suasana Masjid Jami Aulia, Kelurahan Sapuro, Kecamatan Pekalongan Timur, Kota Pekalongan selalu ramai dikunjungi umat Islam dari luar kota atau luar pulau. Sebagian ada yang menginap dan sebagian ada yang ingin melihat langsung Alquran raksasa yang di dalam masjid tersebut.

TAUFIK HIDAYAT, Pekalongan

MASJID yang mampu menampung 500 jamaah ini memiliki banyak ornamen ukir-ukiran yang unik. Di depan pintu masjid terdapat prasasti bertuliskan huruf Arab yang terbuat dari kayu. Ada tiga prasasti yang menunjukkan tahun pembangunan dan perbaikan masjid. Tiga tahun penunjuk pembangunan dan perbaikan itu adalah tahun 1035, 1134 dan 1207 Hijriyah.

Sedangkan ruang utamanya mengacu tradisi Jawa dengan menggunakan empat saka guru yang semuanya menggunakan kayu jati berukuran besar sekitar 40 x 40 sentimeter. Lengkap dengan umpak penyangga dari batu. Konon, kayu-kayu untuk bangunan masjid tersebut berasal dari sisa pembangunan Masjid Demak masa Walisongo. Demikian pula dengan tembok masjid, bercorak arsitektur Timur Tengah dengan tiga pintu besar dari kayu.

Sobari, 34, warga Kota Tegal, Rabu (26/6) siang kemarin, mengaku rutin datang ke Masjid Jami Aulia Sapuro, setiap awal Ramadan. Dia menginap dan salat tarawih selama tiga hari pertama. Menurutnya, salat di Masjid Jami Aulia Sapuro bisa sangat khusuk karena lokasinya bersebelahan dengan makam serta tempatnya yang teduh dan luas. “Ini hanya pengalaman pribadi saya saja, namun sudah saya lakukan lebih dari 4 tahun,” ujar Sobari, pengusaha asal Kota Tegal ini.

Sementara itu, Takmir Masjid Jami Aulia, Kiai Dananir, mengungkapkan bahwa para musyafir yang masuk ke masjid, biasanya menyempatkan melihat Alquran raksasa tersebut. “Masjid Jami Aulia Sapuro merupakan masjid tertua di Karesidenan Pekalongan dan sudah menjadi cagar budaya. Konon, masjid ini dibangun tahun 1035 hijriyah, oleh empat utusan Raja Demak, yakni Kiai Maksum, Kiai Sulaiman, Kiai Lukman, dan Nyai Kudung,” tuturnya.

Menurut sejarah, tuturnya, masjid ini sebenarnya akan dibangun di Alas Roban Batang, karena saat itu di Alas Roban sering terjadi konflik atau perang. Namun oleh Kiai Maksum, Kiai Sulaiman, Kiai Lukman, dan Nyai Kudung dipindah ke Kota Pekalongan. “Sampai saat ini sebagian warga Kota Pekalongan, masih menamakan Masjid Tiban atau yang tiba-tiba ada,” ujar Kiai Dananir.

Menurut Kiai Dananir, bahwa Alquran raksasa dengan ukuran tinggi 235 sentimeter dan lebar 200 sentimeter terbuat dari bahan baku kain kanvas mori Amerika, triplek tebal kayu Kalimantan. “Ini menjadi daya tarik para pengunjung,” tandasnya.

Alquran tersebut, katanya, berisi khusus juz 30 dan ditambah surat Al Fatehah. Huruf-hurufnya dibuat dari cat hitam tulisan tangan. Tulisannya cukup bagus, seperti hasil cetakan pada Alquran. “Kitab Alquran raksasa ini sudah ada sejak tahun 1970-an. Kitab ini merupakan pemberian seorang polisi dari Polwil Pekalongan. Untuk merawatnya, selalu dibersihkan dari debu dan kelembapan air,” kata Kiai Dananir.

Di lingkungan Masjid Jami Aulia juga dimakamkan beberapa kiai, habib dan ulama. Seperti Habib Ahmad Al-Atas, Pangeran Adipati Aryo Notodirjo, Bupati Pasuruan R Tumenggung Amongnegoro dan beberapa sesepuh lainnya. (*/ida)