Bos Salon Anggap Bali Holiday Mengada-ada

402

KRAPYAK – Sidang gugatan biro Bali Holiday Tour and Travel kepada pengusaha salon Hj RA Dwi Rahayu Widisari, kembali berlangsung di Pengadilan Negeri (PN) Semarang, Rabu (17/6) kemarin. Sidang beragendakan gugatan tersebut tergugat menganggap Bali Holiday mengada-ada dalam menggugat dirinya.

Tergugat Hj RA Dwi Rahayu Widisari mengatakan, gugatan Bali Holiday tersebut merupakan fitnah dan mengada-ada. ”Lebih jelasnya silakan menghubungi pengacara kami,” ujar bos salon yang akrab disapa Widisari singkat.

Selanjutnya, Ari Widiyanto kuasa hukum Widisari menerangkan, setelah mempelajari bukti-bukti pembayaran yang ada, kliennya, memang benar sudah melakukan pelunasan pembayaran biaya travel, sepertinya gugatan Bali Holiday itu mengada-ada dan ada upaya penyesatan fakta hukum dalam gugatan yang diajukan Bali Holiday.

”Kami justru berencana menggugat Bali Holiday, tapi nampaknya Sari Suryanti (Direktur Bali Holiday) memakai trik mendahului menggugat daripada digugat. Klien kami justru dirugikan miliaran rupiah untuk perjalanan ke Eropa dengan Bali Holiday,” kata Ari usai sidang dalam persidangan yang dipimpin majelis hakim, Erwin Tumpak Pasaribu, SH MH.

Ari menjelaskan, sebelumnya Bali Holiday telah menawarkan kepada kliennya program perjalanan dengan fasilitas VIP ke London dan Paris pada 26 Agustus-7 September 2014 untuk 5 orang tapi pada kenyataannya setelah biaya dibayar lunas, Sari Suryanti hanya memberangkatkan 2 orang tanpa ada pengembalian biaya (refund) kepada kliennya. ”Sehingga fasilitas dan jadwal program perjalanan kacau tidak seperti yang ada dalam penawaran. Perubahan kelas tiket pesawat dan hotel berubah tanpa ada konfirmasi. Menurut saya sangat konyol dan tidak profesional, dia (Sari Suryanti) menjadwalkan ke Paris Disneyland Minggu, 31 Agustus 2014, tapi setelah sampai di Paris, dia beralasan Paris Disneyland tutup hari itu,” ungkap Ari.

Ari juga menyebutkan, berdasarkan bukti yang ada, memang banyak ketidaksesuaian antara penawaran dengan kenyataan pelayanan Bali Holiday kepada kliennya, sehingga dalam hal ini ada hak subjektif, kliennya sebagai konsumen untuk mendapatkan pelayanan yang semestinya telah dilanggar atau tidak dipenuhi oleh Bali Holiday.

Ia menyebutkan, menurut undang-undang hak subjektif konsumen harus dilindungi. Sehingga ia akan menempuh upaya hukum yang ada terhadap kliennya, nantinya, lanjut Ari baik secara perdata dengan melakukan gugatan balik maupun secara pidana akan ia lakukan. ”Kami juga menganggap Bali Holiday telah melanggar ketentuan pasal 8 juncto pasal 62 UU Nomor 8 Tahun 1999 tentang Perlindungan Konsumen. Perkara ini bisa menjadi pelajaran bagi masyarakat umum agar lebih berhati-hati dan lebih cermat dalam memilih biro travel,” imbuh Ari
Sebelumnya, pemilik Bali Holiday Tour and Travel, Sari Suryanti mengatakan, gugatan ini diajukan pihaknya pada 4 April lalu. Alasannya, karena respons tergugat terlalu lama. Ia juga menilai, tergugat lupa akan komitmennya terhadap pihaknya. Terlebih lagi, ia pengusaha kaya, cantik, dan supersibuk. ”Ada kekurangan biaya traveling sekitar Rp 108 juta. Ini belum seberapa dibandingkan pembelian barang-barang mewah seperti tas sekitar Rp 509 juta, arloji Rp 450 juta, dan parfum Rp 49 juta,” tandasnya.

Seperti diketahui, gugatan ini terjadi karena pengusaha salon, RA Dwi Rahayu Widisari dianggap belum melunasi biaya piknik keliling Eropa sekitar Rp 108 juta terhadap Bali Holiday Tour and Travel. Pengusaha salon tersebut beralamat di Jalan Sriwijaya, Semarang. (bj/zal/ce1)