PASANG JILBAB: Pelatihan beauty class di Lapas Wanita Bulu Semarang untuk menyemarakkan bulan suci Ramadan kemarin. (ADENNYAR WYCAKSONO/ JAWA POS RADAR SEMARANG)
PASANG JILBAB: Pelatihan beauty class di Lapas Wanita Bulu Semarang untuk menyemarakkan bulan suci Ramadan kemarin. (ADENNYAR WYCAKSONO/ JAWA POS RADAR SEMARANG)

SEMARANG – Tampil cantik dan menarik adalah hak semua kaum hawa. Tak terkecuali ratusan narapidana yang ada di Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Kelas II A Wanita Bulu, Semarang. Para warga binaan di lapas tersebut tampak antusias mengikui berbagai kegiatan yang dilakukan oleh sebuah lembaga amil zakat bekerja sama dengan Korpri, Dharma Wanita Persatuan Dinas Pertanian Pangan dan Hortikultura Jateng, kemarin (22/6). Salah satunya, beauty class yang mengajari menggunakan hijab dengan baik dan fashionable meski berada di dalam lapas. Selain beauty class, para penghuni lapas juga mendapatkan kesempatan mendengarkan tausiah dan siraman rohani.

Salah satu panitia, Muhammad Miftahul Surur, mengatakan, serangkaian kegiatan yang dilakukan sengaja dikemas menarik dan menyenangkan agar pesan yang diberikan bisa memberikan motivasi yang kuat, dan bisa lebih optimistis dalam menjalani kehidupan baru setelah keluar dari lapas.

”Kegiatan ini sudah dilakuan rutin selama 8 tahun terakhir saat bulan Ramadan. Tujuannya jelas untuk berbagi kebahagiaan dengan warga binaan yang ada di sini (Lapas Wanita Bulu),” katanya kepada Jawa Pos Radar Semarang, kemarin.

Menurut Surur, acara tersebut juga untuk memberikan motivasi dari sisi rohani. Sementara beauty class sengaja diberikan agar para warga binaan bisa tetap tampil menarik meski di dalam lapas.

”Secara tersirat kita juga mengajarkan syiar tentang tata cara penggunaan pakaian yang baik dan benar. Sehingga saat keluar nanti, mereka bisa menjadi manusia yang lebih baik dan bisa diterima oleh masyarakat,” harapnya.

Kepala Lapas Wanita Kelas II A Bulu, Semarang, Suprobowati, mengatakan, setiap Ramadan, pihak lapas memberikan kesempatan bagi warga binaan yang beragama Islam untuk melakukan kegiatan kerohanian seperti pesantren kilat, tadarus Alquran, salat Tarawih berjamaah hingga kultum. ”Tujuannya jelas untuk meningkatkan iman dan takwa para warga binaan,” katanya.

Probo menyebutkan, saat ini penghuni lapas yang dipimpinnya sebanyak 339 warga binaan. Mereka mayoritas beragama Islam. ”250 orang bergama Islam, jadi saat bulan suci Ramadan ini kami sengaja mendidik karakter mereka agar lebih baik lagi ke depan saat keluar dari lapas,” ujarnya.

Salah satu warga binaan, Saning, 42, yang tejerat kasus narkoba mengaku bisa lebih menghayati kegiatan Ramadan di dalam lapas. ”Banyak kegiatan yang bisa dilakukan, di dalam lapas justru bisa lebih khusyuk dalam beribadah,” kata penghuni lapas yang mendapatkan hukuman penjara seumur hidup ini. (den/aro/ce1)