Budi Setyo Purnomo. (Ricky Fitriyanto/Jawa Pos Radar Semarang)
Budi Setyo Purnomo. (Ricky Fitriyanto/Jawa Pos Radar Semarang)

SEMARANG – Di bulan Ramadan ini stasiun televisi seolah berlomba-lomba menghadirkan berbagai program spesial. Namun tak sekadar menonton, masyarakat diharapkan juga ikut serta mengawasi program yang ditayangkan.

Ketua Komisi Penyiaran Indonesia Daerah (KPID) Jateng, Budi Setyo Purnomo mengatakan partisipasi publik dalam bentuk pengawasan tersebut penting untuk tetap mengontrol program siaran televisi agar tetap berada pada relnya. ”Selain mengawasi, ini juga membantu masyarakat untuk selektif menentukan program berkualitas yang layak ditonton. Publik juga bisa melakukan pengaduan bila ditemukan pelanggaran,” katanya.

Dia menambahkan program siaran bernuansa komedi dan lawakan murahan sangat rentan dan berpotensi melanggar. Karenanya, KPID mengharapkan program sejenis lebih baik dihindari saja untuk ditayangkan.

”Dalam Alquran ada kaidah dar’ul mafasid muqaddamun ’ala jalbil masolih, yakni menghindari potensi kerusakan dan kemudaratan itu didahulukan dan perlu lebih diutamakan,” ungkapnya.

Berkaca pada Ramadan sebelumnya, KPID juga mengapresiasi sejumlah stasiun televisi yang berhasil menciptakan program berkualitas, mendidik sekaligus menarik bagi publik.

Sebelumnya KPID Jateng melakukan penandatanganan MoU pengawasan siaran selama Ramadan dengan Majelis Ulama Indonesia (MUI) Jateng. Kerja sama tersebut diupayakan sebagai upaya pengawasan konten siaran Ramadan selama sebulan penuh. Sebab disinyalir, banyak tayangan Ramadan yang dikemas dalam nuansa islami namun berkedok iklan.

Ketua MUI Jateng Ahmad Daroji menambahkan, pihaknya memang tak bisa melakukan tuntutan terhadap lembaga penyiaran. Namun, dengan syiar bahwa siaran yang ditonton adalah hal negatif, maka masyarakat bisa memilah sendiri. ”Kita bisa menjelaskan itu tidak baik dan merusak akhlak bangsa. Kami siap memfasilitasi masyarakat atas aduan yang dianggap tidak pantas disiarkan selama Ramadan,” katanya. (ric/ce1)