Hakim Tolak Eksepsi Harini

214
Harini Krisniati. (Dok/Jawa Pos Radar Semarang)
Harini Krisniati. (Dok/Jawa Pos Radar Semarang)

MANYARAN – Majelis hakim Pengadilan Tipikor Semarang memutuskan menolak seluruh nota keberatan (eksepsi) yang disampaikan mantan Kepala Badan Koordinasi Penanaman Modal, Pemberdayaan BUMD, dan Aset (BKPM-PB dan A) Kota Semarang, Harini Krisniati, melalui tim kuasa hukumnya atas kasus dugaan korupsi penyelenggaraan program Semarang Pesona Asia (SPA) 2007, Senin (22/6) kemarin.

”Menyatakan menolak eksepsi tim kuasa hukum terdakwa Harini Krisniati. Memerintahkan JPU (Jaksa Penuntut Umum) untuk melanjutkan pemeriksaaan pokok perkara dengan memanggil saksi-saksi,” kata majelis hakim yang diketuai Gatot Susanto dalam amar putusan selanya.

Hakim Gatot menyebutkan, dari eksepsi yang disampaikan tim kuasa hukum Harini, majelis hakim mempunyai pendapat yang berbeda. Ia mengatakan, dalam eksepsi, tim kuasa hukum menilai proses penahanan terdakwa Harini tidak sah. Hal itu dikarenakan didasarkan pada proses penyidikan yang dinilai cacat hukum.

”Mengenai sah tidaknya penyidikan adalah objek praperadilan bukan eksepsi. Sehingga majelis hakim berpendapat dakwaan yang disampaikan JPU sudah memenuhi aturan,” ujar Gatot.

Selanjutnya, mengenai eksepsi yang mengatakan JPU tidak cermat, hakim Gatot menjelaskan, karena kedudukan terdakwa Harini Krisniati adalah pengguna anggaran (PA) bukan kuasa pengguna anggaran (KPA). Menurut hakim, hal itu sudah masuk materi pokok perkara yang harus dibuktikan.

Sementara mengenai dakwaan terkait kerugian negara Rp 520,5 juta yang dihitung penyidik dan dianggap menyalahgunakan wewenang, hakim pun mempunyai pendapat yang berbeda dari tim kuasa hukum terdakwa Harini.

”Hakim menilai itu sudah masuk materi pokok yang harus dibuktikan dalam persidangan. Termasuk juga perbuatan terdakwa tersebut dilakukan sendiri atau bersama orang lain,” ungkap hakim Gatot.

Karenanya, hakim menilai eksepsi tim kuasa hukum harus ditolak. Menurut hakim, dakwaan JPU sudah memenuhi syarat formil dan materiil, serta sidang harus dilanjutkan pada pemeriksaan pokok perkara.

Saat pembacaan putusan sela, Harini terlihat diam. Pun setelah putusan usai dibacakan majelis hakim. Namun Harini sempat mengajukan permohonan pengalihan menjadi tahanan kota. Surat permohonan tersebut diajukan dalam map warna cokelat. ”Saya mengajukan permohonan pengalihan tahanan yang mulia,” kata Harini.

Majelis hakim pun menerima surat permohonan pengalihan tahanan tersebut. Hanya saja, majelis hakim akan mempelajari dan mempertimbangkannya terlebih dahulu.

”Ini permohonan pengalihan tahanan. Untuk sementara kami terima. Akan kami pelajari terlebih dahulu, apakah akan kami kabulkan atau tidak,” ujar Gatot.

Kuasa hukum Harini, Musyafak Kasto, mengatakan, permohonan tersebut merupakan inisiatif dari pihak keluarga. Harini yang saat ini ditahan di Lapas Wanita, Bulu, Semarang, mengajukan permohonan agar diubah statusnya menjadi tahanan kota. ”Permohonan pengalihan menjadi tahanan kota. Tapi itu inisiatif keluarga,” kata Musyafak singkat. (bj/aro/ce1)