Korban Capai 1.200 Orang

166

GAYAMSARI – HM Sigit Wibowo SE, Direktur Utama (Dirut) PT Divan Global Indonesia (DGI), perusahaan travel perjalananan umrah yang berkantor di Jalan Soekarno-Hatta No 176 C Semarang, diduga kabur. Sejumlah nasabah yang berusaha mencari keberadaan bos umrah tersebut tak menuai hasil. Akibatnya, sebanyak 30 calon jamaah umrah yang gagal ke Tanah Suci kecewa karena Sigit Wibowo tidak diketahui batang hidungnya.

Pantauan Jawa Pos Radar Semarang, PT Divan Global Indonesia yang terletak di Jalan Soekarno-Hatta No 176 C Semarang, tampak sepi dan tidak ada aktivitas. Kantor yang menempati ruko berlantai II itu tampak terkunci rapat. Halaman kantor biro perjalanan haji dan umrah tersebut tampak kotor. Terlihat berserak sampah daun kering tak pernah disapu. Hal itu menunjukkan bahwa kantor tersebut sudah lama tidak beraktivitas alias tidak beroperasi.

”Sudah lama tutup, Mas. Kurang lebih sejak 5-6 bulan lalu,” ujar Muhammad, warga yang tinggal tak jauh dari lokasi kantor PT DGI, ditemui Jawa Pos Radar Semarang, Minggu (21/6).

Muhammad menjelaskan, sejak kurang lebih 5-6 bulan lalu itu, kantor PT DGI tidak ada aktivitas. Direktur utama yang bertanggung jawab terhadap kantor tersebut juga sudah lama tidak menyambangi kantor tersebut. Muhammad sendiri mengaku mengetahui bila sebelumnya juga banyak nasabah umrah PT DGI memiliki masalah serupa.

Dia menyebutkan, sebelumnya ada kurang lebih 1.200 orang nasabah PT DGI memiliki masalah yang sama, yakni para calon jamaah tidak diberangkatkan dan uang tidak dikembalikan. Muhammad sendiri merupakan salah satu tim lembaga advokat dan konsultan hukum yang berkantor bersebelahan dengan kantor PT DGI. Ia mengaku pernah mendampingi kasus yang melilit PT DGI. ”Yang tercatat di tempat saya itu kurang lebih 1.200 orang nasabah. Dulu (PT DGI) klien saya, sekarang tidak.” ujar Muhammad yang enggan membeberkan lebih lanjut.

Hasil penelusuran Jawa Pos Radar Semarang, pada Desember 2014, kasus penipuan travel umrah ini sebenarnya sudah diungkap oleh dua orang korbannya, yakni Suryanti dan Wahyuni, keduanya warga Jalan Sunan Bromo II, Bebengan, Boja, Kendal. Keduanya mengaku menjadi korban bersama 20 warga lainnya. ”Kami dan kawan-kawan tertarik karena biayanya dinilai murah,” tutur Suryanti dan Wahyuni saat itu.

Menurut keduanya, para pendaftar yang sudah telanjur setor dana, tidak hanya dari Semarang, tetapi juga datang dari kota-kota kecil seputar Semarang, seperti Boja, Kaliwungu, Grobogan, Pekalongan, Demak, dan Kudus.

Menurut Wagiman, tukang becak yang mangkal di sekitar kantor PT DGI, perusahaan biro perjalanan umrah tersebut sudah tutup sejak Oktober 2014 lalu. ”Memang banyak orang berdatangan ke sini menanyakan. Sampai hari ini masih banyak yang datang, kebanyakan dari luar kota,” kata Wagiman.

Selain Sigit Wibowo, pengurus PT DGI lainnya adalah Ny Mia (istri Sigit) yang menjabat marketing dan Novan selalu Komisaris. Namun keduanya juga lenyap di telan bumi.

Sebelumnya, seorang nasabah yang menjadi korban, Fikri Hidayat, 35, warga Jalan Jendral Sudirman No 96 Godong, Grobogan menjelaskan, sedikitnya 30 nasabah merasa tertipu. Para calon jamaah umrah yang terdaftar di perusahaan jasa transportasi tersebut hingga kini terkatung-katung tak kunjung diberangkatkan ke Tanah Suci.

PT Divan dinilai tidak menepati perjanjian yang telah ditandatangani oleh kedua belah pihak. Dalam perjanjian menyebutkan, pihak PT Divan akan memberangkatkan nasabah umrah setelah dalam kurun 18 bulan (masa tunggu). Namun setelah melewati batas seperti waktu yang ditentukan, pemberangkatan umrah tak juga dilaksanakan.

Pihaknya mengaku masih berkoordinasi dengan sejumlah korban lain melengkapi berkas sebagai barang bukti untuk melaporkan ke Mapolrestabes Semarang. Sejauh ini, kasus ini belum dilaporkan secara resmi. ”Baru sebatas konsultasi, kami juga masih koordinasi dengan kuasa hukum. Kalau masih bisa diajak melalui jalur kekeluargaan, maka masalah ini tidak perlu dilaporkan ke kepolisian,” katanya.

Pihaknya bersama nasabah lain berharap PT DGI tidak lari dari tanggung jawab sebagaimana perjanjian awal. ”Tuntutan kami saat ini ya uang dikembalikan, atau kami diberangkatkan, yang penting ada kejelasan,” katanya. (amu/aro/ce1)