EMPATI: Puluhan anak-anak menandatangani gerakan Anti Kekerasan Terhadap Anak di Jalan Pahlawan, Minggu (21/6) pagi. (NUR CHAMIM/JAWA POS RADAR SEMARANG)
EMPATI: Puluhan anak-anak menandatangani gerakan Anti Kekerasan Terhadap Anak di Jalan Pahlawan, Minggu (21/6) pagi. (NUR CHAMIM/JAWA POS RADAR SEMARANG)

SEMARANG – Kisah kematian Angeline yang dibunuh secara keji di Bali, mengundang empati dari masyarakat luas. Tak terkecuali puluhan anak-anak di Kota Semarang, yang menggelar aksi empati saat kegiatan car free day (CFD) di Jalan Pahlawan, Minggu (9/6) pagi.

Puluhan anak-anak mencoret-coret selembar kain putih sepanjang sekitar 10 meter. Aksi corat-coret dan membubuhkan tanda tangan itu sebagai satu bentuk keprihatinan kepada Angeline. Kegiatan yang diprakrasi oleh para jurnalis perempuan dan Bunda Perlindungan Anak Jawa Tengah, Dewi Susilo Budiaharjo, ”Jangan sampai ada kasus (pembunuhan) mirip Angeline di Kota Semarang,” kata Sendra, seorang siswa kelas VI sebuah sekolah dasaar (SD) di Kota Semarang, yang ikut dalam aksi.

Di sela aksi, para jurnalis perempuan dan Dewi Susilo membagikan kaus seragam warna putih yang bertuliskan Stop Kekerasan pada Anak. ”Saya ingin Kota Semarang enak buat bermain dan tenang buat belajar,” tandas Sendra.

Kegiatan yang berlangsung pukul 06.00 hingga pukul 08.00 itu mengumpulkan ratusan tanda tangan. Tak hanya anak-anak saja, para orang tua yang sedang menikmati suasana Minggu pagi di Kawasan Simpang Lima yang bebas kendaraan menyambut antusias dan memberikan tanda tangan sebagai wujud dukungan.

Sementara itu, Dewi Susilo mengungkapkan bila kegiatan ini sebagai satu wujud dukungan untuk menjadikan Kota Semarang sebagai kota Layak Anak. Menurut Dewi, Pasal 21 Undang-Undang Nomor 35 tahun 2014 tentang Perlindungan Anak menyebutkan bila pemerintah diwajibkan memenuhi dan menghormati hak anak. ”Tragedi Angeline membukakan mata kita semua supaya kita menciptakan ruang yang aman serta nyaman bagi anak,” ujar wanita pengusaha yang juga bakal calon (balon) Wakil Wali Kota Semarang dari PDI Perjuangan tersebut.

Dewi menambahkan, anak sudah semestinya memiliki kebebasan bergerak, menyampaikan pendapat, aman dari kejahatan, mendapatkan pendidikan, dan dijauhkan dari kekerasan serta berada di dalam lingkungan yang sehat. ”Pencanangan Kota Semarang sebagai Kota Layak Anak harus mendapat dukungan dari semua pihak, termasuk masyarakatnya,” terangnya. (amh/zal/ce1)