Banyak yang Mangkrak, Roboh dan Dirobohkan

211
MERANA: Gedung tua di kawasan Kota Lama Semarang terpaksa ditopang oleh ratusan bambu untuk menghindari roboh yang membahayakan warga yang melintas di sekitarnya. (NURCHAMIM/JAWA POS RADAR SEMARANG)
MERANA: Gedung tua di kawasan Kota Lama Semarang terpaksa ditopang oleh ratusan bambu untuk menghindari roboh yang membahayakan warga yang melintas di sekitarnya. (NURCHAMIM/JAWA POS RADAR SEMARANG)

Kota Semarang banyak menyimpan bangunan tua yang bernilai sejarah. Khususnya, di kawasan Kota Lama. Sayangnya, kini banyak bangunan yang kondisinya memprihatinkan, mangkrak, bahkan banyak yang roboh maupun dirobohkan oleh pemiliknya.

SALAH satunya, gedung tua bekas kantor redaksi De Locomotief, surat kabar berbahasa Belanda yang terbit di Semarang, tepatnya di Jalan Kepodang, Kota Lama. Kini, kondisi bangunan bersejarah itu sudah roboh. Ironisnya, kerusakan bangunan itu diduga karena ulah pemiliknya sendiri.

Warga yang tinggal di Kota Lama, Tanjung Mas, Semarang Utara, Herry W, mengakui, kini banyak bangunan cagar budaya yang kondisinya memprihatinkan. Namun ada pula bangunan tua yang dipugar dan dicat ulang digunakan sebagai kantor dan restoran. Di antaranya, Gedung Spiegel yang berubah menjadi kafe, bangunan bekas Pengadilan Negeri Semarang karya arsitek Belanda Thomas Karsten yang kini menjadi resto Ikan Bakar Cianjur, serta Gedung Nederlandshe Handel Maatschappij (Maskapai Perdagangan Belanda) yang kini dipakai menjadi kantor Bank Mandiri dan Kantor Pantja Niaga.

”Itu setahu saya Mas, saya tinggal di sini dari zaman Soekarno, apakah sudah jadi bagian cagar budaya atau belum saya gak tahu pasti. Pastinya gedung-gedung itu sudah sangat tua,” ujarnya.

Herry berharap bangunan-bangunan tua yang sudah menjadi cagar budaya terus dijaga dan dirawat, hingga anak cucu bisa merasakan dan menikmati pesona secara langsung. ”Tetap harus dijaga, jangan sampai cuma digunakan dan dibiarkan mangkrak sampai rusak,” katanya.

Zainal Arifin, warga lainnya mengaku tidak banyak mengetahui bangunan cagar budaya yang ada di Kota Lama. ”Saya tinggal di Kota Lama saja nggak tahu bangunan cagar budayanya Mas, seharusnya memang dibutuhkan pelestarian dan perawatan bangunan cagar budaya, tentunya agar bisa diketahui generasi kita ke depan,” kata mahasiswa Undip ini.

Ketua Tim Ahli Cagar Budaya (TACB) Kota Semarang, Widya Wijayanti, mengatakan, jumlah gedung tua yang masuk daftar bangunan cagar budaya semakin bertambah. Ia menyebutkan, pada 1992 total bangunan cagar budaya di Kota Semarang sebanyak 101 buah, dan pada 1995 bertambah menjadi 176 buah.

”Tahun 2003, bertambah sekitar 100-an bangunan dari hasil survei kilat untuk bangunan di Kota Lama Semarang, dan berdasarkan Perda Kota Semarang No 8 Tahun 2003 tentang RTBL (rencana tata bangunan dan lingkungan) Kota Lama,” bebernya.

”Setelah itu pada 2006 berdasarkan hasil inventarisasi, totalnya menjadi sekitar 300-an bangunan, dan terakhir pada 2011 dari hasil inventarisasi bertambah menjadi 400-an bangunan,” tambah Wijayanti.

Menurut dia, hal paling ideal dalam penyelamatan bangunan cagar budaya harus sesuai dengan peraturan yang berlaku di kota atau kabupaten setempat. ”Artinya, tidak sekadar mengikuti peraturan yang ada, melainkan harus mendukung pelestarian,” katanya.

Wijayanti menyebutkan, kesadaran pemerintah melindungi bangunan cagar budaya terbangun sejak 1970-an, yang dimulai dari Ibu Kota Jakarta. ”Di Kota Semarang salah satunya dipelopori oleh Prof Sidharta tahun 1970-an, saya melihat modernisasi sekarang ini agak keblinger,” ujarnya.

Dia menjelaskan, Kota Semarang juga bagian dari pelopor dalam melindungi bangunan cagar budaya. Hal itu diperkuat dengan penerbitan SK Wali Kota Semarang No 646/50/1992 tentang Konservasi Bangunan-bangunan Kuno atau Bersejarah di Wilayah Kotamadya Daerah Tingkat II Semarang yang melindungi 101 bangunan. SK ini dikenal dengan SK 646. ”Bagi saya pemugaran bukan satu-satunya tindakan, jadi setuju atau tidaknya bangunan cagar budaya untuk dipugar harus melihat bangunannya dulu,” katanya.

Setelah melihat bangunannya, lanjut Wijayanti, maka harus dilakukan kajian, apakah bangunan itu layak dipugar, di revitalisasi, atau dibongkar sebagian, semua itu harus dilakukan lewat kajian khusus.

”Kajian itu lebih mendalam tentunya yang sesuai dengan bangunan tersebut. Jadi, pemugaran itu harus ada kajiannya tidak dilakukan semaunya sendiri. Tentunya kajian itu harus beretika dan mendukung kode etik sesuai tata laku kaidah profesi masing-masing,” jelasnya.

Menanggapi apakah bagunan cagar budaya lebih baik dikelola swasta, Wijayanti menegaskan jangan berpikir swasta lebih baik. Namun ia mengaku hal itu sah dan diperbolehkan. Akan tetapi, khusus pasar tradisional, Wijayanti tidak setuju dikelola oleh swasta.

”Khusus pasar tradisional harus dikelola pemerintah, kalau bangunan lain, dikaji dulu. Kalau memang pemerintah tidak sanggup, bisa dibuat aturan-aturan agar bangunan cagar budaya tetap dijaga keindahannya,” ujarnya.

Menurut Wijayanti, saat ini bangunan cagar budaya di Kota Semarang sudah menunjukkan kemajuan, seperti halnya di Kota Lama Semarang ada dua kafe yang ditangani secara profesional. Selain itu, kesadaran masyarakat dan komunitas-komunitas pencinta bangunan cagar budaya sudah mulai bagus. ”Berbicara cagar budaya jangan sampai keblinger, karena ada tingkatannya,” ucapnya. (bj/aro/ce1)