Jualan Aksesoris HP, Butuh Biaya Lepas Pen

272
TETAP TERSENYUM: Mumfasilah, 23, yang mengalami kelumpuhan usai tertimpa pintu gerbang sekolah. Ia membutuhkan uluran atangan agar bisa kembali tersenyum. (DINAR SASONGKO/JAWA POS RADAR SEMARANG)
TETAP TERSENYUM: Mumfasilah, 23, yang mengalami kelumpuhan usai tertimpa pintu gerbang sekolah. Ia membutuhkan uluran atangan agar bisa kembali tersenyum. (DINAR SASONGKO/JAWA POS RADAR SEMARANG)

Mumfasilah, 23, sebelumnya dikenal sebagai gadis pintar dan supel dalam bergaul. Tapi sayang, semua itu kini tinggal kenangan. Ia tak lagi bisa menikmati dunia remaja setelah pintu gerbang sekolah menimpanya saat pulang sekolah. Begitu pula dengan pendidikannya yang terhenti hanya sampai di pertengahan semester kelas satu di SMKN 1 Tengaran Kabupaten Semarang, tujuh tahun yang lalu. Bagaimana Kisahnya?

Dhinar Sasongko, Tengaran

PAGI itu sekitar pukul 09.00, seorang gadis cantik duduk di atas kursi roda terlihat sedang berjemur diri di depan rumah kecil di Dusun Kembangsari RT 37 RW 9, Desa Karang Duren, Kecamatan Tengaran, Kabupaten Semarang. Dari raut wajah yang segar dan rambutnya yang masih agak basah, menunjukkan ia baru saja mandi.
Kedua tangannya memegang jarum dan benang tengah menyulam kain kecil warna warni. Ia sedang membuat aksesoris HP. Ia terpaksa harus dibantu dengan kursi roda, karena separo bagian tubuh ke bawahnya mengalami kelumpuhan. Dan hal itu sudah dia alami sejak 2008 hingga usianya kini hampir 23 tahun.

Fasil, itulah sapaan akrab gadis yang memiliki nama lengkap Mumfasilah ini. Gadis cantik kelahiran 11 Oktober 1992 ini sebelumnya dikenal tetangga sebagai gadis kecil yang pintar dan supel dalam bergaul. Sejak kecelakaan yang dialaminya, ia hanya bisa tidur di dalam kamar yang sekaligus juga menjadi ruang tamu dan dapur rumahnya.

Sesekali ia keluar rumah dengan kursi roda yang didorong kakaknya, Ni’mathul, 34, untuk berjemur di halaman rumah dan beraktivitas menyulam pernik aksesoris HP dan bros yang kemudian ia tawarkan melalui media sosial.“Ya, hanya bisa sampai depan rumah saja, karena kursi rodanya tidak bisa melewati satu-satunya gang yang menghubungkan rumahnya dengan rumah-rumah lain,” kata Ni’mathul.

Di dalam rumah berukuran 4×6 meter persegi dengan dinding terbuat dari anyaman bambu tersebut, bungsu dari empat bersaudara ini juga tinggal bersama ayahnya, Nursalim, 80, dan ibunya, Siti Tasniah, 65. Sedangkan kedua kakaknya yang lain, Turkhamun, 45, dan Munasiroh, 40, sudah menikah dan tinggal terpisah di daerah lain.

Saat koran ini menyambangi rumahnya, Fasil menceritakan ikhwal musibah yang menimpanya. Bermula ketika Fasil hendak pulang sekolah di SMKN I Tengaran, 28 Desember 2008 lalu. Untuk lebih menyingkat jarak keluar menuju jalan raya, ia bersama teman-temannya melewati halaman SMPN II Tengaran yang berada dalam satu lingkungan dengan sekolahnya dan juga satu kepala sekolah, Solimin. Tapi ketika ia tengah melewati pintu gerbang, tiba-tiba pintu besi besar itu roboh. Ia jatuh dengan pintu besi menimpa punggungnya. Tiga siswi temannya berusaha membantu mengangkat pintu tersebut, tapi tidak kuat. Fasil bisa dievakuasi setelah dibantu beberapa orang mengangkat pintu tersebut.

Pihak sekolah yang mendengar kejadian itu lantas membawa Fasil ke pengobatan tulang alternatif sangkal putung di Desa Klero, Kecamatan Tengaran. Namun satu minggu menjalani rawat inap tidak juga menunjukkan perkembangan. Keluarga lantas membawa Fasil ke rumah sakit ortopedi di Solo dengan biaya sendiri. Setelah satu bulan mendapat penanganan medis di rumah sakit ortopedi, keluarga membawa Fasil pulang dengan dua pen terpasang di tulang belakangnya hingga sekarang. “Dari pihak sekolah membantu biaya pengobatan selama di sangkal putung. Kalau untuk perawatan di rumah sakit selama satu bulan biayanya kami tanggung sendiri,” tambah Fasil

Karena sepulang dari rumah sakit juga belum menunjukkan kepulihan, pihak keluarga selanjutnya mengupayakan pengobatan alternatif ke berbagai daerah. Hingga akhirnya empat tahun kemudian, tepatnya pada 2012, pihak keluarga terpaksa ‘angkat tangan’ karena sudah tidak ada biaya, hingga sekarang.“Masih ada dua pen yang terpasang di tulang belakang saya karena sudah tidak ada biaya lagi untuk melepas,” terangnya sembari menunjukkan punggungnya.

Keberadaan dua pen di punggungnya itulah yang sering dia keluhkan terasa ngilu pada malam hari. Karena itu, sekumpulan warga yang mengetahuinya segera mencarikan penutup dinding rumahnya yang terbuat anyaman bambu tersebut menggunakan MMT bekas agar bisa mengurangi penderitaan Fasil dan keluarganya yang tidur dalam satu ranjang.

Meskipun menyadari kondisinya yang lumpuh separo badan dari pinggang ke bawah dan kakinya semakin mengecil dan mengkerut, hal itu tidak menyurutkan hati Mumfasilah yang bercita-cita ingin membahagiakan kedua orang tuanya. Ia tidak berkecil hati dengan kondisinya saat ini. Ia pun memanfaatkan waktunya untuk mencoba berbisnis online. Selain menawarkan bross dan aksesoris HP buatannya, Fasil juga menawarkan pakaian, sepatu, HP melalui media sosial. Sedangkan di lingkungannya nyambi ia jualan pulsa. “Saya ingin bisa membahagiakan kedua orang tua saya,” jawab Fasil.

Dengan upayanya itu, ia berharap mampu menopang beban ekonomi ayahnya yang sehari-hari sebagai pencari kayu bakar dan ibunya yang jualan cendol di Pasar Ampel, Boyolali.(*/fth)