INOVATIF: Empat mahasiswa FSM Undip dan alat pengering ikan temuan mereka. (EKO WAHYU BUDIYANTO/JAWA POS RADAR SEMARANG)
INOVATIF: Empat mahasiswa FSM Undip dan alat pengering ikan temuan mereka. (EKO WAHYU BUDIYANTO/JAWA POS RADAR SEMARANG)

Empat mahasiswa Fakultas Sains dan Matematika (FSM) Universitas Diponegoro (Undip) membuat inovasi alat pengering ikan berbasis lampu pijar yang diklaim mampu mereduksi logam berat dari pencemaran air laut. Seperti apa?

EKO WAHYU BUDIYANTO, Tembalang

INDONESIA merupakan negara maritim yang memiliki hasil laut yang melimpah. Namun lautan yang biru tersebut kini sudah banyak yang tercemar oleh limbah industri berupa logam berat. Karena itu, ikan-ikan laut di Indonesia saat ini sudah banyak yang tercemar logam berat seperti Timbal (Pb), Merkuri (Hg), dan Kadmium (Cd).

Dari hal tersebut, empat mahasiswa Undip, yakni Yoyon Wahyono, Yanuar Aji Saputro dan Alfin Darari, ketiganya jurusan Fisika FSM, serta Eko Siswoyo jurusan Kimia, tertantang untuk memberikan solusi. Mereka membuat inovasi Teknologi Pengolahan Ikan Asin Berdaya Saing Internasional Berbasis Fotokatalis dan Lampu Pijar. Alat ini diklaim mampu mereduksi logam berat dari pencemaran air laut.

Menurut penuturan Yoyon, ikan laut banyak diolah menjadi ikan asin. Metode pengolahan ikan asin yang berkembang di masyarakat selama ini dengan penggaraman kering dan penggaraman basah. Metode tersebut, menurutnya, masih memiliki kelemahan, yakni tidak dapat mereduksi logam berat yang terkandung pada ikan yang tercemar.

”Masyarakat dalam pengeringan ikan asin masih bergantung pada sinar matahari. Apabila cuaca hujan atau mendung, masyarakat tidak dapat melakukan penjemuran ikan asin. Akibatnya ikan yang diolah menjadi ikan asin menjadi busuk atau rusak. Ironisnya, sebagian pengolah menggunakan formalin dan pengawet pestisida untuk menghindari kebusukan pada ikan asin,” kata Yoyon kepada Jawa Pos Radar Semarang.

Teknologi yang diciptakan oleh mahasiswa semester 6 itu terbuat dari bahan utama kaca dan stainless. Terdiri atas tiga bagian, yakni bagian atas, tengah, dan bawah. Bagian atas merupakan tempat untuk meletakkan lampu dan lapisan tipis fotokatalis. Bagian tengah adalah tempat untuk meletakkan ikan asin yang akan dikeringkan, dan bagian bawah adalah tempat lampu pijar, penggaraman basah, dan penyimpanan ikan asin yang telah jadi.

”Di bagian tengah juga terdapat tempat sirkulasi udara dan kipas kecil fungsinya untuk mempercepat aliran udara. Aliran udara yang cepat akan membawa uap air dari permukaan ikan asin, dan mencegah uap air tersebut menjadi jenuh di permukaan ikan asin,” terangnya.

Dijelaskan Yoyon, dengan adanya sirkulasi udara dan kipas kecil ini akan mempercepat proses pengeringan. Teknologi ini dapat digunakan langsung di bawah sinar matahari. Sumber cahaya matahari digunakan untuk fotokatalis dan panas matahari untuk mengeringkan ikan asin.

Dari reaksi fotokatalis tersebut membentuk senyawa superoksida yang melepaskan O2 dan OH radikal yang dapat mengoksidasi berbagai logam berat dan bakteri dengan efektifitas mencapai 97,19 persen.

“Sehingga teknologi pengolahan ikan asin dengan prinsip fotokatalitik ini mampu mengeringkan ikan asin dengan cara membunuh bakteri dan mikroorganisme penyebab kebusukan dan mereduksi logam berat yang terkontaminasi pada ikan, sehingga produk ikan asin teksturnya bagus dan terbebas dari logam berat,” jelasnya.

Reaksi fotokatalis, imbuh Yanuar, dapat digambarkan pada cuaca hujan atau awan mendung dan malam hari, alat tersebut tetap dapat digunakan. Hal itu dikarenakan alat tersebut dilengkapi dengan lampu neon dan lampu pijar.

”Cahaya lampu neon dapat digunakan untuk reaksi fotokatalis, karena fotokatalis dapat bekerja pada cahaya tampak. Lampu neon yang digunakan adalah lampu neon dengan daya 14 watt. Untuk sumber panas dari lampu pijar. Lampu pijar yang digunakan hanya membutuhkan daya listrik 80 watt (2 lampu pijar),” kata Yanuar.

Panas yang dihasilkan dari lampu pijar tersebut setara dengan suhu yang dibutuhkan untuk pengeringan, yakni kurang lebih 36 derajat celcius. Pemanasan dengan suhu terlalu tinggi, menurut Yanuar, tidak bagus karena akan merusak tekstur dan rasa dari ikan asin.

”Untuk kontrol suhu menggunakan termometer. Alat ini sangat berguna bagi masyarakat Indonesia, khususnya para pengolah ikan asin di Indonesia. Teknologi ini merupakan teknologi yang berdaya saing internasional,” ujarnya.

Dengan teknologi ini, Yanuar mengklaim ikan asin aman dari bahaya pencemaran logam berat. Sehingga teknologi ini menjadi solusi penyediaan ikan asin bermutu baik dan dapat meningkatkan produktivitas pengolah ikan asin di Indonesia.

Anggota lain dari tim ini, Eko menjelaskan, inovasi teknologi tersebut juga berhasil meraih pendanaan Program Kreativitas Mahasiswa DIKTI tahun anggaran 2015 bidang PKM-KC.

”Penelitian dari teknologi ini juga berhasil dipublikasikan pada 12th Hokkaido Indonesian Student Association Scientific Meeting (HISAS 12) Hokkaido University, Sapporo, Jepang, pada Maret 2015. Hasilnya, jurnal penelitian dari teknologi ini masuk dalam Proceeding of Hokkaido Indonesian Student Association Scientific Meeting (HISAS), Vol. XII, 21 Maret 2015, ISSN: 2355-4398,” kata Eko bangga. (*/aro/ce1)