Oleh Imam Taufiq
Oleh Imam Taufiq

BAGI orang Islam, kedatangan Ramadan adalah saat-saat yang dinantikan. Ibarat tamu agung yang sudah lama ditunggu, Ramadan menjanjikan banyak keistimewaan. Tidak hanya perintah puasa yang memiliki banyak hikmah positif untuk mendidik pengelolaan diri, akan tetapi juga memberikan dampak sosial yang bermanfaat bagi masyarakat dan kemanusiaan.

Karena itu, kehadiran bulan khusus ini patut disambut dengan suka cita dengan penuh kegembiraan. Dalam bahasa Arab, penyambutan seperti ini menggunakan kalimat Marhaban ya Ramadan. Berbeda dengan pernyataan ahlan wa sahlan yang berarti ungkapan formal selamat datang tanpa menyertakan luapan hati yang berbunga-bunga.

Secara kebahasaan, marhaban berasal dari kata rahb yang artinya luas dan lapang, yang menggambarkan bahwa tamu yang datang disambut dan diterima dengan tangan terbuka, dada yang lapang, penuh kegembiraan, penuh suka cita serta dipersiapkan baginya ruangan yang luas untuk melakukan apa saja yang diinginkannya.

Marhaban ya Ramadan, selamat datang bulan suci Ramadan, berati kami kami menyambutmu dengan penuh kegembiraan dan kami persiapkan untukmu tempat yang luas agar engkau bebas melakukan apa saja, yang berkaitan dengan upaya introspeksi diri untuk mengasah kapasitas jiwa kami dalam memberikan kontribusi kedamaian kepada umat.

Secara psikologis, penyambutan dengan hati yang senang dan gembira dapat dipahami tidak saja karena tamu agung akan menjumpai kita, tamu kehormatan berkenan menghampiri kita, akan tetapi Ramadan merupakan komitmen perubahan dan perbaikan diri untuk umat, karena momentum itu tidak setiap saat datang dan tidak setiap tahun setiap kita sempat menghormatinya.

Komitmen untuk peningkatan diri ini akan menentukan kualitas kerja dan kesuksesan seseorang. Sebab ada hadis Nabi Muhammnad SAW yang bersumber dari Umar bin Khattab menyatakan Innama al-a’mal bi al-niyyah, sesungguhnya setiap perbuatan tergantung pada niatnya. Dengan kata lain, nilai dan produktivitas tindakan manusia bergantung pada komitmennya.

Banyak ulama memahami niat atau motivasi kerja sebagai syarat sahnya perbuatan. Beberapa ulama melihatnya sebagai syarat kesempurnaan. Sementara ada pula yang menyebutnya sebagai pencipta atau penggerak perbuatan (al-mujid li al-’amal). Semua pandangan tersebut menunjukkan betapa peran motivasi sangat penting dalam membangun kualitas dan produktivitas perbuatan kita.

Menyambut dengan penuh harap dan motivasi tinggi adalah kunci awal meraih prestasi tertinggi orang-orang yang berpuasa, yaitu derajat muttaqin, orang yang berpedikat takwa. QS. al-Baqarah/2: 183 menjelaskan bahwa output puasa Ramadan adalah la ’allakumtattaqun, agar kamu sekalian menjadi orang-orang yang bertakwa. Maka perintah puasa yang dalam ayat ini diawali dengan seruan indah, ”Hai orang-orang yang beriman.” Sesungguhnya memiliki makna penting bagi tercapainya prestasi puncak bernama takwa.

Panggilan ini dimaksudkan untuk menggerakkan dan menggelorakan semangat iman dalam hati kaum beriman (li tahrikhararah al-iman fi qulub al-mu’minin).

Dalam konteks kemasyarakatan, menyambut Ramadan tahun 1436 H ini dapat menjadi momentum kebersamaan umat Islam. Memulai dengan semangat baru untuk menggapai kualitas terbaik kemanusiaan atau takwa, dimulai secara bersama-sama oleh seluruh lapisan umat Islam. Tidak ada lagi perbedaan penentuan 1 Ramadan. Baik pemerintah ataupun organisasi kemasyarakatan terbesar di Indonesia, Nahdlatul Ulama maupun Muhammadiyah menjalaninya dengan semangat bersama mengisi hari-hari Ramadan dengan semarak.

Berpuasa yang dilakukan selama bulan Ramadan merupakan aktivitas untuk mengalahkan hawa nafsu dan mendapat kemenangan takwa. Orang yang menang adalah orang berhasil mengalahkan hawa nafsu itu disebut sebagai orang yang menang. Nafsu ingin menang sendiri, benar sendiri, merasa selalu unggul dari yang lain, sombong, serakah, bakhil, tidak mau bersyukur, dan lain-lainnya, akan dikalahkan oleh kegiatan berpuasa ini.

Jika aktivitas Ramadan mampu mengelola diri dan menjadikan sifat-sifat mulia, seperti saling mencintai, menghargai, peduli sesama, menjunjung tinggi kebersamaan, dan seterusnya, maka puasa akan berhasil melahirkan semangat persatuan dan kebersamaan di kalangan umat Islam. Memasuki Ramadan akan terasa indah penuh dengan harapan kebaikan dengan keberkahan. Marhaban ya Ramadan, bulan yang penuh keindahan. (*/zal/ce1)