RESMI DITUTUP : Lokalisasi Kebunsuwung di Desa Sidomukti, Karanganyar, Kabupaten Pekalongan, Rabu (17/6) kemarin resmi ditutup Pemkab Pekalongan. (TAUFIK HIDAYAT/JAWA POS RADAR SEMARANG)
RESMI DITUTUP : Lokalisasi Kebunsuwung di Desa Sidomukti, Karanganyar, Kabupaten Pekalongan, Rabu (17/6) kemarin resmi ditutup Pemkab Pekalongan. (TAUFIK HIDAYAT/JAWA POS RADAR SEMARANG)

KAJEN–Satu hari menjelang datangnya bulan suci Ramadan 1436 Hijriyah, Lokalisasi Kebunsuwung di Desa Sidomukti, Kecamatan Karanganyar, Rabu (17/6) kemarin, resmi ditutup oleh Bupati Pekalongan, Amat Antono. Penutupan tersebut ditandai dengan ditancapkannya papan peringatan yang bertuliskan “Peringatan. Segala bentuk protitusi di Kebunsuwung dilarang/ditutup. Bagi yang melanggar akan ditindak sesuai hukum yang berlaku.”

Sebelum kedatangan Bupati Pekalongan, Amat Antono dan petugas Satuan Polisi Pamong Praja (Satpol PP) Kabupaten Pekalongan, puluhan mucikari dari Lokalisasi Kebunsuwung Desa Sidomukti, Kecamatan Karanganyar, melakukan protes atas penutupan lokalisasi tersebut.
Karena Bupati Antono tidak menanggapi protes para mucikari tersebut, mereka akhirnya mendatangi kantor DPRD Kabupaten Pekalongan untuk menyampaikan aspirasi keberatannya atas penutupan Lokalisasi Kebunsuwung oleh Pemkab Pekalongan.

Maysaroh, 42, warga Desa Sidomukti, Kecamatan Karanganyar, mengungkapkan bahwa bupati boleh menutup Lokalisasi Kebunsuwung, tapi tempat hiburan lain seperti karaoke dan warung harusnya tidak ikut ditutup. “Ada ratusan warga yang bekerja dan hidup dari dunia hiburan di Lokalisasi Kebunsuwung,” kata Saah –sapaan akrab Maysaroh.

Sarah mengatakan bahwa di Lokalisasi Kebunsuwung ada 57 Pekerja Seks Komersil (PSK) yang menetap dan 27 PSK yang datang dan pergi. Bahkan, ada puluhan pekerja parkir dan pedagang warung lainnya. Nah, dengan diperbolehkannya tempat hiburan karaoke dan warung dibuka, maka mereka masih bisa tetap bekerja kembali.

“Kami akan mengurus perizinan tempat hiburan tersebut, kalau karaoke yang ada ini dianggap ilegal,” kata Sarah, mucikari yang sudah lebih 5 tahun bekerja di lokalisasi tersebut.

Menanggapi hal itu, Kepala Satpol PP Pemkab Pekalongan, Alif Nurfiyanto menandaskan, dengan ditutupnya Lokalisasi Kebunsuwung secara resmi, maka Satpol PP akan terus menerus melakukan operasi, hingga kegiatan di Lokalisasi Kebunsuwung tidak lagi ada.

Menurutnya, ada 22 rumah yang digunakan sebagai tempat protitusi dengan jumlah PSK sebanyak 70-an warga. Serta ada 8 tempat hiburan berupa karaoke, yang semuanya tidak berizin. “Dengan adanya penutupan Lokalisasi Kebunsuwung ini, maka segala kegiatan protitusi akan kami tindak tegas, sesuai dengan aturan yang berlaku,” tandas Alif Nurfiyanto.

Sementara itu, Bupati Antono menegaskan bahwa Perda Nomor 6 Tahun 2012 tentang ketertiban umum, harus ditegakkan dan tanpa toleransi. Dan penutupan Lokalisasi Kebunsuwung, bukan hanya untuk menghormati kedatangan bulan suci Ramadan, tapi untuk menjaga kondusivitas keadaan, serta untuk kebaikan bersama warga Kabupaten Pekalongan.

“Jika masih ada yang membandel dan tetap beroperasi, akan kami tindak tegas. Termasuk tempat hiburannya. Amanat Perda harus ditegakkan,” tegas Bupati Antono. (thd/ida)