Keringkan Enceng Gondok, Tambah Penghasilan

269
TAMBANG EMAS : Seorang warga Kesongo, Kecamatan Tuntang sedang mengeringkan enceng gondok di depan rumahnya. (Munir Abdillah/Jawa Pos Radar Semarang)
TAMBANG EMAS : Seorang warga Kesongo, Kecamatan Tuntang sedang mengeringkan enceng gondok di depan rumahnya. (Munir Abdillah/Jawa Pos Radar Semarang)

TUNTANG—Memasuki musim panas, warga di pinggiran Rawa Pening beramai-ramai mengeringkan enceng gondok. Meskipun harganya mengalami penurunan, dari Rp 5000 per kilogram menjadi Rp 4000 untuk enceng gondok kering, tidak membuat warga khawatir. Pasalnya, warga memanen enceng gondok secara gratis di Rawa Pening.

Dari pantauan Jawa Pos Radar Semarang, hampir seluruh rumah di pinggiran Rawa Pening di Desa Kesongo Lor, RT 1, RW 1 dan sepanjang Desa Kebondowo, Kecamatan Tuntang, Kabupaten Semarang, halamannya rumah penuh dengan enceng gondok. Yang sudah kering, langsung diambil pengepul yang menjadi langganan.

Umam, 29, warga Kesongo mengaku sudah cukup lama dirinya menekuni pengeringan enceng gondok. Selain bisa didapatkan secara gratis, juga menambah penghasilan bagi dirinya dan keluarga. Apalagi di daerah Kesongo ada 3 pengepul enceng gondok. Warga Kesongo Lor dan Kecamatan Banyubiru yang menganggur bisa memanen enceng. Hasilnya bisa digunakan untuk membeli beras selama seminggu. “Memang enceng gondok sering menjadi masalah bagi masyarakat nelayan. Tapi bagi masyarakat yang lain adalah tambang penghasilan,” ungkapnya.

Wasiyah, 58, warga Dusun Kesongo Lor yang juga mengeringkan enceng gondok di halaman rumahnya menambahkan bahwa musim panas menjadi ladangnya petani enceng gondok. Biasanya petani padi juga ikut memanen enceng gondok sambil menunggu hasil sawahnya. Bahkan anak muda sekarang tidak malu-malu memanen enceng gondok di Rawa Pening.“Menurut saya, enceng gondok di Rawa Pening, bagi sebagian warga di pinggiran rawa adalah tambang emas,” pungkasnya. (abd/ida)