SALAMI WARGA: Wali Kota Semarang Hendrar Prihadi dan istri, Krisseptiana disambut masyarakat saat naik kereta kencana menuju Masjid Kauman, kemarin. (Nur Chamim/Jawa Pos Radar Semarang)
SALAMI WARGA: Wali Kota Semarang Hendrar Prihadi dan istri, Krisseptiana disambut masyarakat saat naik kereta kencana menuju Masjid Kauman, kemarin. (Nur Chamim/Jawa Pos Radar Semarang)

SEMARANG – Pembukaan karnaval budaya Dugder 1436 H, Selasa (16/6), kemarin berlangsung semarak. Tradisi tahunan tersebut diawali dari halaman Balai Kota Semarang, dengan pertunjukan seni dan atraksi Tari Warag Ngendog. Prosesi dilanjutkan dengan upacara pembukaan tradisi dugderan yang dipimpin langsung Wali Kota Semarang, Hendrar Prihadi. Yang menarik dalam prosesi ini, para peserta kirab memakai pakaian khas Semarangan dan berbahasa Jawa Pesisiran. Hal ini dilakukan untuk melestarikan tradisi yang telah dilakukan turun-temurun.

Pembukaan ditandai dengan pemukulan beduk oleh Raden Mas Aryo Purboningrat, yang diperankan oleh Hendrar Prihadi. Arak-arakan makin meriah dengan hadirnya maskot dugder, yakni Warak Ngendog serta Kembang Manggar, yang banyak menghiasi kendaraan yang ditumpangi peserta karnaval. Kemeriahan karnaval mengundang antusiasme warga, yang memadati sepanjang jalan protokol yang dilewati peserta karnaval.

Usai upacara, wali kota menaiki kereta kencana sambil dikawal oleh pasukan Pandanaran. Diikuti pasukan berkuda dan bendi hias yang ditumpangi jajaran Muspida Kota Semarang menuju Masjid Agung Semarang (Kauman). Sampai di Masjid Agung Kauman, wali kota yang mengenakan busana pakaian beskap Jawa berwarna merah dengan corak batik khas Semarangan lantas masuk ke dalam masjid untuk menunaikan ibadah salat Ashar. Tidak lupa dia sowan kepada para sesepuh Masjid Kauman dan mendoakan korban bencana kebakaran Pasar Johar. ”Ini harus kita pertahankan untuk menanamkan rasa handarbeni, dan cinta terhadap budaya Kota Semarang,” ungkap wali kota.

Hendi –sapaan akrabnya—mengakui, dugderan tahun ini memang sengaja dihelat tidak semeriah tahun-tahun sebelumnya. ”Kita jalankan prosesi ini dengan lebih sederhana sebagai wujud prihatin atas musibah kebakaran Pasar Johar yang terjadi belum lama ini,” katanya.

Sebagai tradisi budaya khas Semarang, lanjut Hendi, dugderan mengandung makna ungkapan suka cita khususnya kaum muslim akan datangnya bulan suci Ramadan. Namun yang lebih penting adalah bahwa event dugderan mengandung makna kebersamaan yang dilandasi semangat mengangkat kearifan budaya lokal yang digambarkan dengan ikon Warak Ngendog. Ikon ini menyiratkan adanya kebersamaan, kerukunan dan guyubnya masyarakat Kota Semarang tanpa melihat etnis atau latar belakang budaya maupun agama.

”Intinya karnaval ini bukan hanya sekadar arak-arakan saja, namun menjadi salah satu cerminan keberagaman yang ada di Kota Semarang, namun tetap rukun dan guyub. Selain itu, ini merupakan bagian tradisi turun-temurun yang harus dilestarikan,” tegas Hendi.

Di Masjid Besar Semarang Kauman, dilaksanakan prosesi pembacaan skukuf halaqah, pemukulan beduk dan bom udara serta pembagian makanan khas Semarang Kue Ganjel Rel dan air khataman Quran. Usai prosesi di Masjid Kauman, rombongan melanjutkan perjalanan menuju Masjid Agung Jawa Tengah (MAJT) dengan menaiki bus. Guna menyerahkan skukuf halaqah kepada Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo yang bertindak sebagai Raden Mas Tumenggung Probo Hadikusumo dan juga pemukulan beduk dan meriam.

”Terima kasih karena telah mengadakan dugderan kali ini lebih sederhana. Kalau terlalu meriah, rasanya kurang enak karena saudara kita di Johar baru terkena musibah kebakaran,” ucap Ganjar.

Setelah keduanya memberikan sambutan, rombongan bertolak menuju beduk kemudian berdoa. Bunyi beduk dan meriam mengumandang sebagai tanda Dugderan sudah dilaksanakan. (zal/amh/aro/ce1)