1732 Kasus DBD, 18 Orang Meninggal

226
AWAS DBD : Pramudi (penyuluh demam berdarah dari dinas kesehatan Kabupaten Semarang) memberikan penjelasan terkait penanganan demam berdarah di Kabupaten Semarang. (MUNIR ABDILLAH/JAWA POS RADAR SEMARANG)
AWAS DBD : Pramudi (penyuluh demam berdarah dari dinas kesehatan Kabupaten Semarang) memberikan penjelasan terkait penanganan demam berdarah di Kabupaten Semarang. (MUNIR ABDILLAH/JAWA POS RADAR SEMARANG)

AMBARAWA – Angka penderita demam berdarah dengoe (DBD) di Kabupaten Semarang ternyata cukup tinggi. Berdasarkan data Dinas Kesehatan Kabupaten Semarang setidaknya ada sebanyak 1732 penderita demam berdarah dari tahun 2009 sampai 2014. Dari jumlah itu, 18 orang diantaranya meninggal dunia. Pinggiran rawa pening terutama Ambarawa merupakan daerah yang paling rawan demam berdasarah, karena ketersediaan air yang melimpah.

Berbagai upaya dilakukan Pemkab Semarang untuk mengatasi penyebaran Demam Berdarah. Salag satunya dengan melakukan penyuluhan dengan menggandeng Alfamartcare yang berlangsung di Kelurahan Panjang, Kecamatan Ambarawa, Kabupaten Semarang, (15/6). Setidaknya puluhan kader PKK Kecamatan Ambarawa mengikuti kegiatan yang menitikberatkan kebersihan lingkungan.

Penyuluh demam berdarah dari Dinas Kesehatan Kabupaten Semarang, Pramudi mengatakan, kesadaran masyarakat tentang demam berdarah harus terus ditingkatkan. Jangan sampai KLB demam berdarah tahun 2010 di Kabupaten Semarang terulang kembali. Saat itu penderita demam berdarah mencapai 525 orang. “Peduli lingkungan dan kebersihan rumah harus menjadi prioritas utama dalam mencegah terjangkitnya penyakit demam berdarah,” katanya, kemarin.

Ia menambahkan, kasus demam berdarah di Kabupaten Semarang cenderung terus naik. Dari tahun 2011 sebanyak 108 penderita terus naik 111 penderita di tahun 2012; 296 penderita di tahun 2013 dan naik mnejadi 337 ditahun 2014. Secara geografis 6 kecamatan di Gunung Ungaraan merupakan endemis dan sporadis yang mengalami kenaikan dalam 3 tahun terakhir. “Lereng gunung Merbabu, 1 kecamatan sporadis. Sementara 12 kecamatan di dataran rendah merupakan endemis,” tambahnya.

Area Manajer Alfamart Kabupaten Semarang, Teguh Prasetyo mengatakan, penyuluhan demam berdarah merupakan upaya Alfamart peduli terhadap masyarakat. Diharapkan kegiatan ini dapat mencegah terjadinya demam berdarah. Meskipun biasanya demam berdarah muncul ketika musim hujan. Paling tidak dengan memberikan pengetahuan kepada ibu-ibu PKK dapat meminimalisir penyangkit di lingkungan keluarga. “Tentu tidak perlu menunggu sampai musim penghujan, lantaran mencegah lebih baik dari pada mengobati,” katanya. (abd/fth)