RIMBUN: Kawasan hutan mangrove di Desa Bedono, Kecamatan Sayung sudah tumbuh lebat. Bahkan, di dalamnya ada jalan pintas bagi wisatawan untuk melihat-lihat daerah tersebut. (WAHIB PRIBADI/JAWA POS RADAR SEMARANG)
RIMBUN: Kawasan hutan mangrove di Desa Bedono, Kecamatan Sayung sudah tumbuh lebat. Bahkan, di dalamnya ada jalan pintas bagi wisatawan untuk melihat-lihat daerah tersebut. (WAHIB PRIBADI/JAWA POS RADAR SEMARANG)

DEMAK – Hutan bakau atau mangrove di wilayah Desa Bedono, Kecamatan Sayung terus tumbuh lebat. Bahkan, hutan mangrove itu kini telah menjadi jujukan wisatawan asing maupun domestik. Mereka menyewa perahu nelayan setempat sehingga bisa meningkatkan pendapatan warga sekitar yang mayoritas nelayan.

Kasi Pemantauan dan Pemulihan Lingkungan Kantor Lingkungan Hidup (KLH) Demak, Sulhan mengatakan, sejak ditanam beberapa tahun lalu secara bertahap, kini hutan bakau banyak yang hidup dan berkembang dengan baik. Menurutnya, pada 1999, ada sekitar 300 ribu mangrove. Dalam perkembangannya, pada 2014 sudah ada 80 ribu batang mangrove. “70 persen batang mangrove yang ditanam mampu bertahan hidup sampai sekarang,”katanya, kemarin.

Dia mengatakan, daerah yang mangrovenya tumbuh lebat akan dibuat sebagai wilayah konservasi mangrove. Sejak terbitnya Peraturan tentang tata ruang dan wilayah (RTRW) pada 2011 sudah ditetapkan, bahwa daerah sepanjang pantai antara Sayung hingga Wedung menjadi hutan lindung mangrove. Karena itu, KLH Pemkab Demak terus berupaya menjaga kelestarian lingkungan hutan mangrove yang sudah berkembang lebat tersebut. “Kita berupaya bekerjasama dengan masyarakat setempat termasuk membuat peraturan desa (perdes) tentang pengelolaan lingkungan mangrove yang ada didaerah masing-masing,” imbuhnya.

Tidak hanya mangrove, namun juga soal ekosistem sekitar mangrove termasuk keberadaan burung kuntul yang banyak beterbangan dan beranak pinak di hutan mangrove tersebut. Burung-burung itu tidak boleh diganggu dan tembak. Ini sesuai dengan UU Nomor 5 Tahun 1990 ntentang keanekaragaman hayati ekosistem. Selain itu, ada pula Perda Nomor 8 Tahun 2005 tentang hutan lindung. “Jadi, sepanjang sempadan pantai Demak telah dilindungi UU dan Perda,” tambahnya.

Hanya saja, kawasan yang menjadi pilot project baru difokuskan di Desa Bedono, Kecamatan Sayung. Bahkan, di Desa Bedono ini, hutan mangrove yang mengarah ke wisata religi makam Syech Mudazkir telah dibuat jalan atau tracking untuk wisatawan agar bisa melihat dalam kawasan hutan mangrove tersebut.

“Kini, sudah banyak wisatawan yang berkunjung ke hutan mangrove ini. Mereka biasanya sewa perahu ke nelayan. Hasilnya lumayan bisa mengantongi Rp 600 ribu sekali sewa perahu. Upaya ini semua untuk mendukung terwujudnya ekowisata,”katanya. (hib/fth)