Kembangkan Burung Hantu

681
LUCU: Anak burung hantu yang baru lahir tampak lucu. Burung tersebut sudah lama di kembangkan di Desa Tlogoweru, Kecamatan Guntur. Kini, Kecamatan Karangawen pun segera mengembangkan burung pemakan tikus tersebut. (WAHIB PRIBADI/JAWA POS RADAR SEMARANG)
LUCU: Anak burung hantu yang baru lahir tampak lucu. Burung tersebut sudah lama di kembangkan di Desa Tlogoweru, Kecamatan Guntur. Kini, Kecamatan Karangawen pun segera mengembangkan burung pemakan tikus tersebut. (WAHIB PRIBADI/JAWA POS RADAR SEMARANG)

DEMAK – Pemerintah Kecamatan Karangawen segera mengembangkan budidaya burung hantu Tyto Alba di Desa Sidorejo. Pengembangan burung ini dilakukan agar predator tersebut bisa mengurangi dampak kerusakan tanaman akibat ulah hama tikus.

Camat Karangawen, HM Syahri mengungkapkan, pihak kecamatan telah melakukan rapat koordinasi terkait pengembangan burung hantu tersebut. Kebetulan, kata dia, Desa Sidorejo bertetangga dengan Desa Tlogoweru, Kecamatan Guntur yang sebelumnya sudah lebih dulu mengembangkan burung bermata besar tersebut. “Kita koordinasi dengan Desa Tlogoweru dan Desa Sidorejo agar upaya ini dapat terwujud. Koordinasi langsung dibawah komando saya selaku Camat Karangawen,” kata Syahri, kemarin.

Untuk mengembangkan burung itu, pihaknya akan mengajak pihak swasta sebagaimana yang dipraktikkan di Desa Tlogoweru. Agar bisa maksimal, setidaknya dibutuhkan 250 rumah burung hantu (Rubuha) yang didirikan di areal persawahan warga. Satu rubuhan nilainya mencapai Rp 3 juta. Rumah tersebut akan direalisasi melalui swadaya masyarakat maupun bantuan dari APBD setempat. “Kita berharap, tingkat swadaya masyarakat bisa tinggi sehingga program ini nanti dapat tercapai,” tambahnya.

Ia menambahkan, Desa Sidorejo sangat potensial untuk tanaman padi maupun jagung. Namun, gangguan hama tikus masih menjadi kendala serius bagi petani pemilik lahan garapan tersebut. Selain hama, areal pertanian di wilayah tersebut kerap juga terkena dampak banjir akibat jebolnya tanggul sungai sehingga mengakibatkan gagal panen.

“Saat banjir beberapa waktu lalu, setidaknya ada 20 bahu tanaman padi tidak bisa dipanen karena puso atau rusak. Petani pun merugi. Kini, saat kemarau lahan pertanian di wilayah tersebut juga kekeringan karena hanya tadah hujan. Jadi, nasib petani betul-betul memperihatinkan,” tambahnya. (hib/fth)