Temukan 11 Penderita HIV/AIDS Baru

182

KAJEN – Peningkatan jumlah penderita HIV/AIDS di Kabupaten Pekalongan kian memprihatinkan. Bahkan hingga awal Juni 2015, Dinas Kesehatan Kabupaten Pekalongan telah menemukan 141 orang yang mengidap virus HIV/AIDS. Sebanyak 11 diantaranya adalah penderita penyakit baru HIV/AIDS.

Bahkan diperkirakan, ada sekitar 1.500 orang di Kabupaten Pekalongan terindikasi terjangkit HIV/AIDS. Dari angka tersebut, sekitar 400 orang masuk dalam zona paling berpotensi, sedangkan sebagian besar lainnya belum terdeteksi.

Hal itu terungkap pada Rapat Koordinasi Komisi Penanggulangan AIDS, Kabupaten Pekalongan Tahun 2015, di Aula Lantai 1 Setda Kabupaten Pekalongan, Kamis (11/6) siang. Kasi Pengendalian dan Pemberantasan Penyakit Menular, Dinkes Kabupaten Pekalongan, Suwondo mengatakan, jika dilihat dari perkembangan kasus, diperkirakan ada sekitar 1.500 orang yang terindikasi HIV/AIDS di Kabupaten Pekalongan.

Menurutnya hitungan yang digunakan Dinkes, jika di suatu wilayah ada satu orang saja yang terkena HIV, maka diperkirakan ada 100 orang lain yang tertular di wilayah tersebut. “Dari jumlah tersebut, yang paling rawan terinfeksi ada sekitar 400 orang. Mereka berasal dari kelompok berisiko, dan kebanyakan adalah pekerja seks. Untuk lokalisasi Kebonsuwung saja, ada sekitar 100 PSK. Satu PSK melayani beberapa pembeli yang juga berisiko,” ungkapnya.

Suwondo juga mengatakan rata-rata penderita berusia produktif, yakni 25 hingga 34 tahun, dan sebanyak 84 orang teridentifikasi terjangkit HIV dan 64 orang sudah meningkat statusnya menjadi AIDS. Adapun rentang waktu dari HIV ke AIDS, membutuhkan waktu inkubasi selama lima hingga sepuluh tahun. “Pada 1 Desember 2014 tercatat ada 130 kasus. Namun, hingga saat ini, sudah bertambah lagi 11 orang penderita HIV/AIDS baru,” katanya.

Sementara itu, Wakil Bupati Pekalongan, Fadia Arafiq, merasa prihatin dengan adanya 11 penderita HIV/AIDS baru. Dia berharap agar masalah ini menjadi perhatian semua pihak, karena masalah HIV/AIDS sudah menjadi masalah masyarakat luas, yang menyangkut aspek sosial, budaya dan psikologis.

Menurutnya perlunya adanya upaya terus menerus, untuk melindungi dan membentengi generasi penerus dengan sebaik-baiknya, dari bahaya HIV /AIDS. Sehingga mereka dapat tumbuh kembang dengan optimal, baik jasmani, rokhani maupun sosialnya. “Oleh karena itu kita harus senantiasa bersinergi, dan membangun kekuatan untuk melaksanakan upaya pencapaian, sesuai dengan proporsi, potensi dan kemampuan daerah sehingga target dapat tercapai, penyakit HIV/AIDS pun tidak lagi berkembang lebih luas” tegasnya. (thd/ric)