Kumpulkan Rp 1,5 Juta Per Hari, Diperbaiki Swadaya

220
DARURAT : Warga melintas di jembatan gantung Kedungpatangewu, dengan memberikan iuran sukarela, karena tidak usah antre saat melintas, tidak seperti pada jembatan darurat di sebelahnya. (Taufik hidayat/jawa pos radar semarang)
DARURAT : Warga melintas di jembatan gantung Kedungpatangewu, dengan memberikan iuran sukarela, karena tidak usah antre saat melintas, tidak seperti pada jembatan darurat di sebelahnya. (Taufik hidayat/jawa pos radar semarang)

Saat jembatan Surabayan diperbaiki, hampir setiap hari dijumpai kemacetan sepanjang ruas jalan Desa Kedungpatangewu, Kecamatan Kedungwuni, Kabupaten Pekalongan. Selain jembatan darurat yang bisa dilalui, ada jembatan gantung yang hanya bisa dilalui kendaraan roda dua. Dalam sehari lebih dari 300 kendaraan yang melalui jembatan tersebut dan tak kurang dari Rp 1,5 juta per hari, uang yang diperoleh dari iuran sukarela warga yang melalui jembatan tersebut.

Taufik Hidayat, Pekalongan

Sejak jembatan Surabayan dibangun, kemacetan panjang setiap hari terjadi. Karena Dinas Komunikasi Informatika dan Perhubungan, Kabupaten Pekalongan, melakukan buka tutup bagi kendaraan yang melalui jembatan darurat tersebut. Akibatnya antrean panjang tak terelakkan lagi. Belum ditambah debu yang beterbangan setiap kendaraan melintas di sekitar jembatan darurat.

Bagi kendaraan roda dua, dapat melalui jalan pintas melalui jembatan gantung Kedungpatangewu dengan memberikan iuran sukarela yang dimasukan pada kotak besar, yang ada tepat di depan pintu keluar masuk jembatan gantung tersebut. Warga pun dengan suka rela memberikan iuran tersebut, karena tak perlu antre panjang dan berdesak-desakan.

“Bagi saya tidak masalah uang Rp 1.000 untuk iuran sukarela setiap melalui jembatan gantung, karena ada warga yang mengatur dan tidak antre,” ungkap Hidayah, salah seorang pengguna jembatan Kamis (11/6) siang.

Waluyo, 42, warga Desa Kedungpatangewu, yang bertugas di jembatan gantung mengatakan dalam satu hari tak lebih dari 300 kendaraan yang melalui jembatan tersebut selama 24 jam. Menurut dia pihaknya tidak pernah meminta atau memaksa warga yang melintas, untuk memberikan uang sebagai iuran sukarela, dan dalam sehari uang iuran tersebut bisa terkumpul Rp 1,5 juta bahkan lebih. “Untuk hari Senin hingga Jumat, uang iuran sukarela yang terkumpul bisa Rp 1,5 juta per hari, selain hari itu terkadang hanya mencapai Rp 1 juta,” kata Waluyo.

Dia juga menjelaskan, setiap harinya ada 15 an orang yang bekerja pada jembatan gantung. Mereka bertugas untuk mengatur lalu lintas di sekitar jembatan, serta ada dua orang yang berada di ujung jembatan untuk mengatur keluar masuknya warga yang melintas. “Dulu sebelum ramai seperti ini, sehari hanya ada 2 atau 3 orang saja yang bekerja, sekarang ada 15 orang yang bekerja, dan semua dibayar dari uang iuran sukarela itu,” jelasnya.

Kepala Desa Kedungpatengewu, Tatik Endah, membenarkan bahwa pasca dibongkarnya Jembatan Surabayan, terjadi peningkatan arus kendaraan roda dua yang melintas di jembatan gantung Kedungpatengewu, hingga mencapai 300 kendaraan per hari.

Menurutnya, kondisi jembatan gantung tersebut sebenarnya memprihatinkan, karena ada beberapa pagar pembatas yang keropos, sehingga saat dilalui kendaraan terjadi goyangan. “Desa telah memperbaiki secara swadaya sebanyak tiga kali, dan menghabiskan dana sebesar Rp 36 juta. Jadi uang iuran sukarela warga yang melintas tersebut, disamping untuk pemeliharaan juga untuk operasional warga desa yang bertugas,” tandas Tatik.

Sementara itu, Bupati Pekalongan, Amat Antono, sangat mendukung dengan adanya sumbangan suka rela dari warga yang melintas pada jembatan gantung Kedungpatangewu. “Berarti warga mempunyai rasa memiliki, iuran sukarela boleh dengan catatan, tidak memaksa, tapi kalau sampai ada paksaan, itu baru persoalan tersendiri.” tuturnya. (thd/ric)