KREATIF: Lima mahasiswi Undip menciptakan spray inovatif dari tanaman lidah mertua menjadi spray absorben polutan hasil pembakaran rokok. (DOK. PRIBADI)
KREATIF: Lima mahasiswi Undip menciptakan spray inovatif dari tanaman lidah mertua menjadi spray absorben polutan hasil pembakaran rokok. (DOK. PRIBADI)
KREATIF: Lima mahasiswi Undip menciptakan spray inovatif dari tanaman lidah mertua menjadi spray absorben polutan hasil pembakaran rokok. (DOK. PRIBADI)

Banyak yang tidak tahu tentang bahaya menjadi perokok pasif. Lima mahasiswi Universitas Diponegoro (Undip) ini menciptakan sebuah spray yang mampu menguraikan asap dari rokok. Seperti apa?

EKO WAHYU BUDIYANTO

KEBIASAAN merokok hampir dilakukan orang di mana pun. Termasuk di ruang publik. Tentu polusi asap rokok yang ditimbulkan bisa berbahaya bagi orang di sekitarnya yang tidak merokok (perokok pasif). Hal tersebut memicu lima mahasiswi Fakultas Kesehatan Masyarakat (FKM) semester 6 dan Fakultas Undip Undip menciptakan spray inovatif dari tanaman lidah mertua (Sansevieria). Spray yang diberi nama Panda Sansevieria tersebut sebagai absorben polutan hasil pembakaran rokok.

Kelima mahasiswi kreatif tersebut adalah Nia Dhesti Arindita, Farah Ghina Arifah, Raisha Selviastuti, dan Dita Roykhana Robella Nur, keempatnya mahasiswi FKM. Serta Shofi Farhana satu-satunya mahasiswi Fakultas Hukum di tim ini.

Nia Dhesti Arindita menjelaskan, spray tersebut diproduksi dengan menyintesa ekstrak daun tanaman lidah mertua dengan penambahan minyak atsiri tumbuhan sebagai aromatherapi.

Menurut Nia, selama ini bahaya terpapar asap rokok tentunya menimbulkan risiko bagi kesehatan manusia yang menjadi keprihatinan bagi kebanyakan perokok pasif.
”Parahnya, dapat menyebabkan rusaknya pita suara bagi perokok pasif sebagaimana makna yang terkandung dalam sebuah iklan imbauan untuk berhenti merokok, karena merokok bukan hanya akan membahayakan diri sendiri tetapi juga orang lain di sekitarnya,” ujar Nia kepada Jawa Pos Radar Semarang.

Dikatakan Nia, sekuat apa pun suatu perintah ditegakkan, tetap saja ada yang melanggar, apalagi hanya imbauan untuk tidak merokok. Alhasil, tetap masih banyak masyarakat sebagai perokok aktif.

”Menurut penelitian yang dilakukan oleh Badan Antariksa Amerika Serikat (NASA), Sanseviera juga mengandung bahan aktif pregnan glikosid yang berfungsi mengurai polutan menjadi asam organik, gula, dan asam amino. Dengan demikian, polutan tersebut tak lagi berbahaya bagi manusia,” paparnya.

Selain itu, lanjut Nia, diketahui pula bahwa tanaman lidah mertua juga mampu menyerap radiasi dari berbagai peralatan elektronika yang ada di dalam ruangan agar tidak lagi berbahaya bagi kesehatan penghuni ruangan.

Dijelaskan Nia, penelitian yang dilakukan oleh anggota tim, dan didukung dengan studi referensi tumbuhan, Sanseviera mampu menurunkan kandungan gas CO yang terdapat pada asap rokok dengan perlakuan sebelum dan sesudah disemprotkan spray.

”Dengan hasil tersebut, diharapkan Panda Sansevieria dapat mendukung keadaan lingkungan alam yang sehat, dan terciptanya udara bersih bagi kebutuhan makhluk hidup. Panda Sansevieria ini akan diproduksi dengan kemasan unik guna menarik minat calon konsumen dan juga guna memiliki nilai estetika yang baik,” tuturnya.

Harga yang ditawarkan pun bisa dibilang cukup murah, hanya Rp 15 ribu. Nia dan tim akan menjalin mitra usaha dengan instansi pemerintah dan tempat-tempat yang memiliki smoking area seperti bandara, hotel, stasiun, dan fasilitas umum lainnya.

”Dengan Panda Sansevieria seharga hanya Rp 15 ribu ini setidaknya kita dapat membantu mewujudkan hak asasi mendapat lingkungan yang baik dengan menghirup udara bersih bagi perokok pasif,” tutur salah satu anggota tim, Farah. (*/aro/ce1)