Rawat Candi Klero Secara Manual

456
BERSIH-BERSIH: Seorang petugas Konservasi Candi Klero sedang membersihkan candi dengan alat seadanya. (MUNIR ABDILLAH/ JAWA POS RADAR SEMARANG)
BERSIH-BERSIH: Seorang petugas Konservasi Candi Klero sedang membersihkan candi dengan alat seadanya. (MUNIR ABDILLAH/ JAWA POS RADAR SEMARANG)

TENGARAN – Sejumlah warga menilai perawatan Candi Klero di Dusun Ngentak, RW 5, RT 20, Desa Klero, Kecamatan Tengaran, Kabupaten Semarang masih seadanya. Yakni dengan dengan menyiramkan air dan menggosok dengan sikat. Pemerintah dinilai masih belum ikut turun tangan dalam dilakukan untuk pelestarian candi tersebut.

Petugas konservasi di Candi Klero, Sunardi, 38, mengatakan penggunaan bahan kimia hanya untuk mengelem batu yang pecah atau retak dan perbaikan kebocoran, sedangkan untuk mengendalikan pertumbuhan lumut tidak lagi menggunakan bahan kimia. Pembersihan atau pemeliharaan Candi Borobudur kini dilakukan manual dengan menyikat atau mencabut sehingga setiap hari petugas melakukannya secara bergiliran.

Sebelumnya memang menggunakan cairan kimia untuk menghambat pertumbuhan lumut. Tapi hanya bisa tertunda dua hingga tiga bulan. Malah dengan mencabuti, satu persatu, pertumbuhan lumut bisa lebih lama. “Dampak pemakaian bahan kimia hingga sekarang belum kelihatan, tetapi untuk lingkungan sewaktu-waktu bisa saja terjadi dampaknya,” katanya, kemarin.

Bentuk candi tidak terlalu besar, mempermudah para petugas untuk melakukan pembersihan. “Candi ini ditemukan tahun seribu sembilan ratus sembilan puluh lima. Saat itu kondisinya masih belum terawat. Tempat ini, sering digunakan untuk bertapa,” imbuhnya.

Sekarang, kondisinya mulai tertata. Dan banyak anak sekolah yang datang ketika hari-hari biasa. Candi ini di bawah perawatan, Balai Pelestarian Cagar Budaya Jawa Tengah yang berpusat di Prambanan, Klaten. Sebenarnya ada cara yang lebih tradisional dalam menjaga candi ini, yaitu dengan mencampurkan jeruk nipis ke dalam air yang akan digunakan untuk membersihkan candi. “Tapi saya hanya menjalankan instruksi dari dinas,” tambahnya.

Candi Klero merupakan candi peninggalan umat hindu. Hal ini dibuktikan dengan adanya alat upacara berupa Yoni dan Arca Siwa. Candi ini dilindungi oleh undang-undang RI tahun 2010 tentang cagar budaya. Struktur bangunan candi lebih rendah sekitar satu meter dari tanah sekitar, sehingga sekiling candi dilakukan penggalian yang lebarnya 14 akali 14 meter. Tinggi candi dari teras penggalian atau dasar candi kurang lebih 4 meter. Bangunan candi terlihat berundak atau tingkat. Tingkat pertama sebagai dasar candi yang tingginya sekitar 1.4 meter dengan lebar kurang lebih 4 x 6 meter yang berfungsi sebagai teras. Bagian atasnya adalah candi itu sendiri yang di dalamnya terdapat yoni. (abd/fth)