SEMARANG–Produktivitas komoditas kopi Gunung Kelir, salah satu andalan Kabupaten Semarang terus meningkat. Salah satunya disebabkan oleh peralihan penggunaan pupuk dari kimia ke pupuk organik.

Kepala Bidang Perkebunan Dinas Pertanian dan Perkebunan Kabupaten Semarang Wigati Sunu mengatakan, kopi Gunung Kelir memiliki total luasan wilayah 3500 hektare. Dengan produktivitas per tahunnya mencapai sekitar 600 ton.

“Di kawasan ini ada beberapa sentra kopi. Di antaranya dari Kecamatan Jambu, Banyubiru, Sumowono dan Bandungan,” ujarnya di sela kunjungan dari sejumlah crew film Filosofi Kopi, belum lama ini.

Menurutnya, kualitas kopi dari kawasan ini cukup baik dan mampu bersaing di pasar internasional. Terbukti dari kerjasama yang terjalin dengan sejumlah eksportir yang menyalurkan kopi tersebut ke sejumlah negara.

“Kopi dari kawasan ini memiliki citarasa tersendiri yang bisa diunggulkan. Bahkan sejumlah eksportir telah mengekspor komoditas kopi kawasan ini ke Jepang, Korea dan beberapa negara tujuan ekspor lainnya,”ujar Sunu.

Terkait hal tersebut, pihaknya dengan sejumlah pihak terus berupaya meningkatkan produktivitas maupun kualitas komoditas ini. Salah satunya dengan peralihan pupuk, yang semula menggantungkan pada pupuk kimia beralih ke pupuk organik. “Ternyata peralihan ini memberikan dampak yang baik. Produktivitas per tahunnya bisa meningkat hingga 10 persen,” ujarnya.

Selain itu, pihaknya juga menggandeng pihak-pihak lain yang memiliki keahlian di bidang ini untuk memberikan pembinaan pada para petani kopi. Terkait cara pemeliharaan kopi, proses pemetikan hingga paska panen. “Harapannya dengan berbagai upaya ini, komoditas kopi dari Gunung Kelir akan semakin baik. Sehingga kesejahteraan para petani kopi juga kian membaik,” tandasnya. (dna/ida)