Lebih Suka Motret di Lokasi Baru yang Tersembunyi

188
MANFAATKAN WAKTU: Para mahasiswa ini memanfaatkan hobi motretnya menjadi ladang bisnis. (NUR CHAMIM/JAWA POS RADAR SEMARANG)
MANFAATKAN WAKTU: Para mahasiswa ini memanfaatkan hobi motretnya menjadi ladang bisnis. (NUR CHAMIM/JAWA POS RADAR SEMARANG)

Memotret dan merekam gambar pada kegiatan pre wedding dan wedding, kini menjadi sasaran bisnis kalangan anak muda. Bahkan mereka yang terdiri atas mahasiswa Udinus dan Undip yang kini membentuk Production House (PH) Kite Creative Pictures. Seperti apa?

M. HARIYANTO

MEMOTRET dan merekam gambar tak lagi sekadar hobi kalangan anak muda Kota Semarang. Terutama beberapa mahasiswa dari berbagai perguruan tinggi, seperti Universitas Diponegoro (Undip) dan Universitas Dian Nuswantoro (Udinus). Dari hobi mereka jadikan ladang bisnis, untuk melatih jiwa kewirausahaan.

Bahkan mereka membentuk Production House (PH) Kite Creative Pictures (KCP). Kegiatan bisnis khusus bidang potret-memotret dan merekam gambar pada acara pernikahan. ”Seperti pre wedding dan wedding pada acara pernikahan yang menggunakan tradisi Jawa. Hasilnya lumayan buat tambahan jajan kuliah,” ungkap Ketua KCP, Ragil Wijokongko kepada Jawa Pos Radar Semarang, Minggu (7/6) kemarin.

Dijelaskan, bahwa Kite Creative Pictures terbentuk pada tahun 2013 dengan jumlah anggota yang hanya segelintir orang. Awal terbentuknya pun sederhana, hanya lantaran memiliki kesamaan hobi memotret dan merekam.

”Kali pertama, sebenarnya kami bertemu di acara wedding video dan ada kecocokan. Akhirnya kami membuat PH dan akhirnya berjalan sampai sekarang. Memang, dulunya anggotanya hanya lima orang, sekarang tingga 4 orang. Tapi ada tambahan lagi, 6 orang inti dan 6 masih kerja lepas atau freelance,” katanya.

Diakuinya, hasil berbisnis pemotretan sangat menggiurkan. Namun, hal itu juga musiman. Kalau musim pernikahan, baru ramai. Yakni saat mendekati awal puasa. Dalam musim ini, PH KCP bisa mendapatkan job hingga 3 kali dalam satu bulan.

”Ya lumayan kalau seperti ini. Tapi, pada Februari lalu, kami tidak mendapatkan job sama sekali. Namanya orang cari uang, kadang dapat banyak kadang dapat sedikit, kadang tidak dapat juga ada,” ujar pemuda alumnus Udinus jurusan broadcasting ini.

Diakuinya, kebutuhan peralatan yang digunakan memang cukup mahal, mencapai Rp 50 juta termasuk penyewaan lensa dengan pembayaran Rp 250 ribu per hari. Sedangkan, dalam pelayanan sekali job dibanderol antara Rp 8-20 juta.

”Kalau wedding, paket terendah Rp 8-10 juta paket video. Sedangkan pre wedding sama wedding Rp 15-20 juta, full foto video dan ada hasil cetakan. Tapi kalau sepi, kami mencari event kecil-kecilan semacam company profile,” katanya.

Menurutnya, lokasi pemotretan pre wedding, diakuinya berganti-ganti agar tidak monoton. Kadang sengaja mencari lokasi yang tidak diketahui pesaing di bisnis yang sama.

”Kalau orang, sukanya memilih di Kota Lama. Tapi itu sudah terlalu sering dipakai orang. Kami berusaha mencari tempat baru yang belum pernah dipakai orang lain. Tapi, semua juga tergantung yang punya hajat, maunya di tempat seperti apa,” terangnya.

Diakuinya, bisnis yang dijalaninya selama tiga tahun berjalan ini tidak menyita waktu. Bahkan, terkesan nyantai atau tidak mengganggu proses kuliah para anggotanya. ”Paling hanya memilih lokasi dan mengambil gambar butuh hingga 4 hari. Biasanya acara wedding ada banyak seremonial, mulai pengajian, siraman, midodareni hingga akad nikah. Biasanya hari Kamis-Minggu. Dalam satu resepsi kami bisa membawa 8-10 kru,” pungkasnya. (*/ida/ce1)