Hanya dengan Lesung dan Alu, Hasilkan Irama Pelecut Semangat

220
PEDE: Walaupun tidak lagi muda, Grup Musik Samaela tetap bisa eksis dan banyak berkarya. Penampilannya dinikmati banyak orang ketika didapuk menjadi pengisi acara di event Disbudpar beberapa waktu lalu. (IST)
PEDE: Walaupun tidak lagi muda, Grup Musik Samaela tetap bisa eksis dan banyak berkarya. Penampilannya dinikmati banyak orang ketika didapuk menjadi pengisi acara di event Disbudpar beberapa waktu lalu. (IST)

Seni musik bisa terasa enak dinikmati, meski hanya dengan menabuh peralatan rumah tangga seperti lesung dan alu. Seperti yang dilakukan sekelompok ibu-ibu dari Desa Wisata Kandri yang menggunakan lesung dan alu untuk menciptakan irama musik. Bagaimana kisahnya?

ADENNYAR WYCAKSONO

ALUNAN suara musik begitu merdu ketika Jawa Pos Radar Semarang berkunjung ke Desa Wisata Kandri beberapa waktu lalu. Sekumpulan ibu-ibu yang sudah terbilang tak lagi muda, namun sangat lihai memainkan lesung dan alu hingga tercipta sebuah irama musik yang indah. Para ibu itu tergabung di dalam grup musik Samaela. Ada 7 ibu-ibu yang kerap tampil memeriahkan berbagai event Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Pemkot Semarang.

Mengapa memilih peralatan tradisional lesung dan alu? Ternyata itu sesuai dengan kearifan lokal masyarakat Desa Wisata Kandri. Yakni, kebanyakan warganya pada masa lampau bermata pencaharian petani. Dengan hamparan sawah nan luas. Setiap kali melakukan panen raya, selalu menggunakan alat tradisional berupa lesung dan alu untuk menumbuk padi agar menjadi beras. ”Lesung dan alu merupakan alat penumbuk padi peninggalan nenek moyang,” kata Ketua Pokdarwis Pandanaran, Syaiful Ansori.

Grup Musik Samaela yang dibentuk sejak tahun 2012 ini, diharapkan bisa melestarikan lesung dan alu peninggalan nenek moyang lewat sajian irama musik. Mayoritas anggota grup Samaela ini adalah ibu-ibu yang sudah berumur. Termuda di kelompok ini adalah ibu-ibu berumur 56 tahun. Anggotanya meliputi, Suwarni berusia 73 tahun, Sutirah 70 tahun, Sutarni 71 tahun, Markonah 72 tahun, Isrokah 56 tahun, Imronah 57 tahun, dan Sakdiyah berumur 67 tahun.

”Mayoritas dari mereka sudah punya cucu bahkan cicit. Namun semangatnya tidak kalah dengan kaum muda. Hal itu yang memberikan ciri khas tersendiri bagi Desa Wisata Kandri. Walaupun tidak menggunakan vokalis, alunan musik yang diciptakan bisa mengubah atmosfir irama tanpa nada yang begitu indah,” tuturnya.

Diakuinya, budaya musik lesung dan alu sebenarnya sudah ada sejak zaman nenek moyang yang tinggal di Desa Kandri. Zaman dahulu, musik ini digunakan untuk membakar semangat para petani ketika menumbuk padi saat masa panen raya tiba. ”Musik yang diciptakan mengalir, sesuai ketukan dan bunyi dari lesung dan alu. Musik ini pun jadi pembeda antara Kandri dan desa wisata lainnya,” tandasnya.

Sementara untuk perekrutan anggota, Saiful mengaku tidak pernah mencari ataupun menyeleksi. Justru mereka lah yang sebenarnya membentuknya sendiri. Karena prinsip dan hobi yang sudah terbentuk sejak masih kecil. ”Sehingga kami tidak pernah memberikan pengajaran bagaimana cara memainkan alat tersebut, melainkan mengalir dengan sendirinya. Namun, kami hanya mendukung penyediaan kostum agar terlihat kompak,” jelasnya.

Terpisah, Ketua Grup Musik Samaela, Sakdiyah mengaku jika permainan lesung dan alu tidaklah sulit. Keterampilan tersebut sudah ia miliki sejak dirinya masih kecil karena sering membantu kedua orang tuanya memanen padi.

”Dulu sering membantu ibu menumbuk padi sehingga keterampilan memukul lesung dengan alu ini mengalir begitu saja. Dari situlah kami bersama teman-teman sebaya membuat irama musik dengan alat ini,” ujarnya.

Menurutnya, sejak dibentuk beberapa tahun lalu, Grup Musik Samaela sering mengisi berbagai acara penting yang diselenggarakan Pemkot Semarang. ”Harapannya, ada yang mau nerusin kesenian ini. Tentunya agar terjadi regenarasi dan tidak punah termakan modernisasi,” pungkasnya. (*/ida/ce1)