SPI Masih Diperlukan Sekolah

173

”Menarik uang di awal penerimaan siswa membuat besaran uang gedung dianggap berpengaruh dengan proses penerimaan peserta didik. Yang perlu diperbaiki adalah posisi penarikan SPI.”
Pengamat Pendidikan, Muhdi

KARANGTEMPEL – Penerimaan Peserta Didik (PPD) di sekolah negeri di Kota Semarang memang tidak mematok uang Sumbangan Pembangunan Institusi (SPI) atau yang juga dikenal dengan uang gedung.

Hal ini berbeda dengan beberapa sekolah swasta yang masih menerapkan uang gedung meski jumlahnya fleksibel. Menurut Pengamat Pendidikan, Muhdi, hal tersebut bukan merupakan suatu hal yang bagus.

”Memang untuk pendidikan dasar sekarang sudah dibebaskan dari uang gedung oleh pemerintah sementara untuk operasionalnya sudah disiapkan dana BOS (bantuan operasional sekolah) tapi perlu diingat, dana bos merupakan standar minimal untuk membangun sarana pendidikan,” kata Muhdi, Jumat (5/6).

Menurut Muhdi, untuk membangun pendidikan yang lebih baik memang perlu dana yang besar untuk mendorong pembangunan infrastrukur dan prasarana sekolah. Hanya saja menurutnya peletakan SPI memang dinilainya kurang tepat. ”Menarik uang di awal penerimaan siswa membuat besaran uang gedung dianggap berpengaruh dengan proses penerimaan peserta didik. Yang perlu diperbaiki adalah posisi penarikan SPI, bisa saat penerimaan biar gratis dan eliminasi berjalan sesuai dengan tingkat kemampuan siswa, baru setelah penerimaan dibicarakan tentang uang gedung yang ada,” tuturnya.

Menurutnya, membangun pendidikan yang lebih baik memang bukan hanya tanggung jawab pemerintah saja, namun juga semua pihak termasuk orang tua wali. Selain waktu penarikan yang kurang tepat dia juga berharap besaran SPI juga tidak dipatok sama rata. ”Besarannya harus diperhatikan benar, jangan sampai memberatkan dan disesuaikan dengan tingkat kemampuan siswa, tapi pada dasarnya yang namanya sumbangan harusnya tidak dilarang, tapi harus diwadahi,” imbuhnya.

Sekolah swasta dan beberapa sekolah menengah negeri di Kota Semarang memang masih menerapkan uang gedung. Besarannya bervariasi tiap sekolah, mulai dari satu juta hingga lima juta rupah.

SMA Kesatrian 2 Semarang misalnya, sekolah yang beralamatkan di Jalan Gajah ini, menarik rata-rata uang gedung sebesar Rp 5,5 juta. Ketua Panitia penerimaan peserta didik baru SMA tersebut, Maryusis mengatakan angka tersebut bukan berarti tidak dapat berkurang. ”Tapi masih bisa nego sesuai dengan prestasi siswa, bahkan bisa digratiskan,” ujar Maryusis. (ewb/zal/ce1)