BAGONG GUGAT: Puncak frustrasi wong cilik Bagong, diselesaikan dengan minum minuman keras. (ABDUL MUGHIS/JAWA POS RADAR SEMARANG)
BAGONG GUGAT: Puncak frustrasi wong cilik Bagong, diselesaikan dengan minum minuman keras. (ABDUL MUGHIS/JAWA POS RADAR SEMARANG)

Selama kurang lebih tiga bulan terakhir, para aktivis teater ini latihan rutin hingga larut malam. Mereka sempat diuber-uber satpam hingga digeruduk warga saat latihan. Seperti apa?

ABDUL MUGHIS

MENENGOK aktivitas pertunjukan teater, barangkali satu kata pertama yang terlintas adalah melelahkan. Latihan, latihan dan latihan. Begitu yang setiap saat dilakukan. Mereka seperti tak mengenal waktu siang, sore, ataupun malam hari. Kapan saja latihan.

Teater memang seperti kehidupan alam ghaib yang dihuni oleh orang-orang gila. Aktivitas para pelakunya sering dibilang aneh, karena tidak seperti aktivitas orang normal. Komentar miring tak jarang menyambanginya.

Baik berisiknya proses latihan yang hingga larut malam dan menyita banyak waktu. Tak jarang, mereka sempat digeruduk warga dan satpam karena jam malam sudah habis. Terpaksa latihan pun terhenti.

Seperti halnya proses pertunjukan Wayang Kloning Teater Beta Fakultas Tarbiyah Universitas Islam Negeri (UIN) Walisongo Semarang ini. Kali ini, para aktivis kesenian tersebut membawakan lakon Bagong Gugat. Naskah karya yang ditulis Danang Diska Atmaja dan disutradarai Mohammad Kafabih itu dipentaskan untuk tour 3 kota, yakni Semarang, Salatiga dan Jepara.

Di Semarang sendiri, pertunjukan wayang kontemporer tersebut dihelat di Auditorium 1 UIN Walisongo Semarang, Rabu (3/6) kemarin, sekitar pukul 20.00, cukup mampu menyedot penonton. Ratusan orang tampak berjubel memenuhi ruang pertunjukan yang berkapasitas kurang lebih 400 penonton tersebut.

”Proses penggarapan teater memang sangat melelahkan. Selain menyita banyak waktu, juga memeras pikiran. Belum lagi ke soal pendanaan,” kata Lurah Teater Beta Semarang, Zaenal Arifin Bongor saat berbincang dengan Jawa Pos Radar Semarang usai pementasan di Auditorium 1 Universitas Islam Negeri (UIN) Walisongo Semarang, Rabu (3/6) kemarin.

Namun demikian, jelas Bongor, aktivitas teater adalah kerja ilmiah yang mencerahkan. Sebab, selalu saja ada aktivitas melatih kepekaan dalam menangkap apa saja. ”Kami berusaha aktif meluangkan waktu berdiskusi soal apa saja. Meski hanya sesederhana berkumpul sambil ngopi bareng, kami berusaha berdiskusi untuk menangkap fenomena-fenomena kehidupan di sekitar kita,” katanya.

Baik fenomena sosial-politik, kebudayaan, negara, agama, cinta hingga Tuhan. Sebab, lanjutnya, hal itulah yang kemudian memantik inspirasi untuk diekspresikan sebagai kerja ilmiah melalui bentuk karya pertunjukan teater. ”Kami saat latihan tak jarang digeruduk warga dan satpam. Lantaran kerap latihan hingga larut malam. Tapi ini justru yang berkesan,” katanya.

Menurutnya, semangat latihan tidak boleh surut. Terbukti, setidaknya ia bersama tim Wayang Kloning tersebut berhasil meramaikan iklim kesenian di Kota Semarang. ”Itu belum berbicara hasil pementasan yang kadang kurang memuaskan. Tapi bagaimanapun, proses teater adalah belajar dalam hal apa pun,” katanya.

Pementasan kali ini, lanjut Bongor, pentas Bagong Gugat akan berlanjut untuk pentas di Jepara 13 Juni dan Salatiga 16 Juni 2015 mendatang. ”Kami berusaha memberi ruang kepada warga teater di komunitas kami. Pengalaman masing-masing aktor memang berbeda-beda. Ini sekaligus untuk pembelajaran mereka,” katanya.

Sutradara, Mohammad Kafabih menjelaskan, Bagong Gugat sendiri merupakan naskah yang ditulis oleh anggota sendiri. Secara singkat, naskah ini memuat konflik pertumpahan darah antara Arjuna dan Ekalaya. Arjuna yang statusnya beristri, terlibat percintaan dengan Dewi Anggraeni, istri Ekalaya.

Sang Ekalaya yang marah besar kemudian mencari Arjuna untuk menyelesaikan masalah secara laki-laki. Terjadilah duel adu kesaktian yang menegangkan. Arjuna tewas di ujung anak panah dari genggaman tangan Ekalaya. Namun kematian Arjuna mendapat pembelaan dari Sang Guru Begawan Durna dan Prabu Krisna (Dewa). Arjuna yang sudah tewas akhirnya dihidupkan kembali oleh Krisna.

Atas hal itulah, masalah lain mencuat. Bagong melihat, bahwa sosok Arjuna yang selama ini diagung-agungkan sebagai tokoh ksatria justru menyelingkuhi istri orang lain. Terlebih saat sudah meninggal, Arjuna justru malah dihidupkan kembali oleh Prabu Krisna dan Begawan Durna.

Bagong melihat, dalam masalah ini, baik murid, guru maupun dewa, telah bersekongkol. Ketiganya dinilai sama-sama memiliki sikap yang egois dan hanya berpikir untuk kebahagiaan pribadi semata. Sedangkan pihak lain yang dirugikan, dalam hal ini Ekalaya justru diabaikan. Bagong pun menggugatnya di hadapan Romo Semar yang dikenal sebagai tokoh bijak. Namun justru Romo Semar pun membiarkannya.

”Kami memang mengangkat tema klasik, yakni persoalan cinta. Nilai-nilai yang berusaha kami sisipkan bahwa masyarakat kita cenderung memilih hal-hal yang hanya bersifat untuk kebahagiaan diri sendiri. Sedangkan aspek manfaat untuk orang banyak diabaikan. Jika mindset masyarakat sudah demikian, maka hancur dan jadilah malapetaka. Namun demikian, kami mempersilakan penonton memberi penafsiran sesuai dengan sudut pandangnya,” ujarnya.

Dikatakannya, Bagong sendiri penggambaran wong cilik, telanjur stres melihat fenomena yang terjadi. Sedangkan Semar satu-satunya tokoh yang diharapkan mampu memberi pencerahan juga cuek terhadap masalah tersebut. Bagong hanya memeroleh petuah-petuah absurd yang tidak ia mengerti. ”Maka yang bisa dilakukan Bagong adalah menggugat sesuai kemampuannya sebagai rakyat kecil yang bodoh. Namun ia tidak mau dibodohi,” katanya.

Puncak frustrasi si Bagong diikuti sikap bodoh. Bagong menenggak minuman keras hingga kehilangan akal sehatnya. Saat ia mengigau dalam kondisi mabuk, Bagong berubah menjadi dewa keadilan. Dengan berpenampilan fisik berjenggot putih sepanjang pusar, Bagong yang mendadak sakti itu memerintahkan Petruk dan Gareng untuk menangkap Krisna, Durna dan Arjuna untuk dihakimi terkait konflik tersebut.

”Mau diakui atau tidak, fenomena mabuk adalah fenomena sederhana yang mudah saya temui di masyarakat. Apa pun masalahnya. Ini gugatan terbodoh yang dilakukan Bagong sebagai wong cilik,” katanya.

Semar pun hanya bisa berpesan bahwa kekuasaan itu seperti pedang bermata dua. Bisa membunuh musuh, juga bisa membunuh diri sendiri. Menang jadi arang, kalah jadi abu. ”Saya pribadi mengakui, naskah ini masih jauh dari sempurna. Kami masih sangat membutuhkan kritik dan saran untuk perbaikan selanjutnya. Kami menyadari masih banyak detail yang luput dari penggarapan,” katanya.

Sementara itu, seorang pengamat teater Tri Muda’i mengatakan, berbicara wayang memuat banyak simbol sarat makna. Wayang memuat unsur tari, visual, lagu (musik) dan falsafah cerita. ”Dalam pertunjukan ini, saya belum melihat unsur wayang,” kritiknya.

Pementasan tersebut didukung kurang lebih 20 aktor dan aktris, serta tim ilustrator, pementasan ini mampu membuat ratusan penonton tak beranjak hingga purna naskah berdurasi kurang lebih 1 jam itu. Namun demikian, kecelakaan-kecelakaan panggung tak luput dari aktor dalam pementasan tersebut. (*/ida/ce1)