SALATIGA – Wali Kota Salatiga, Yuliyanto mentargetkan pengosongan pasar Rejosari atau biasanya disebut pasar Sapi, sebelum lebaran. Langkah tegas ini dilakukan agar pasar yang sudah terbengkalai beberapa tahun akibat musibah kebakaran bisa segera dibangun dan ditempati kembali oleh para pedagang. “Pasar tetap akan dibangun dan harapannya sebelum lebaran sudah dikosongkan sehingga bisa segera dimulai pengosongannya,” katanya, kemarin.

Sejumlah penghuni tempat penampungan pedagang sementara Pasar Rejosari mendesak pihak Pemkot Salatiga bertindak tegas terhadap sejumlah pedagang ruko yang hingga saat ini masih menempati lokasi pasar yang akan direnovasi. Pasalnya, keberadaan beberapa pedagang yang menentang pembangunan dengan investasi di pasar ini dinilai menjadi penyebab tertundanya pelaksanaan pembangunan pasar tradisional tersebut.

Setiawan, 60, salah satu pengurus Persatuan Pedagang Pasar Rejosari (P3R) mendesak pemerintah agar tidak memperlakukan secara istimewa terhadap para pedagang yang menolak dan memindahkan semua ke tempat penampungan sebelum tiba bulan puasa Ramadhan. “SP3 sudah diberikan pada 5 Mei tapi belum juga ada tindakan. Dan bahkan sampai keluar SP4 pada akhir Mei tapi mengapa masih juga tiadak ada ketegasan,” katanya.

Ketidaktegasan pemerintah dirasa sangat merugikan penghuni lapak yang menjadi korban kebakaran Pasar Rejosari pada enam tahun silam. Mereka sangat berharap pembangunan pasar Rejosari oleh investor segera terrealisasi agar mereka bisa segera kembali berdagang secara normal. Sebab, selama menempati pasar darurat, omset para pedagang turun sangat drastis di bawah separo dari kondisi sebelumnya. “Yang namanya darurat ya seperti apa. Kami ini korban kebakaran yang dikorbankan lagi karena pembangunan pasar terus diulur waktunya,” imbuhnya.

Setiawan menambahkan, bahwa seharusnya akhir bulam Mei lalu semua pedagang yang menempati ruko sudah pindah ke tempat penampungan pedagang tapi masih ‘digondeli’ oleh pihak tertentu termasuk beberapa anggota dewan yang menolak pembangunan pasar Rejosari oleh investor. Karena semakin diulur, harga lapak dikhawatirkan akan semakin membengkak.

“Secara pribadi saya lebih senang jika pembangunan pasar dikelola oleh investor, karena sarananya akan lebih diperhatikan sehingga mampu lebih banyak menarik pengunjung untuk berbelanja. Soal harga lapak yang penting terjangkau dan bisa dicicil,” tambahnya.

DPRD Kota Salatiga dipastikan tidak mengambil sikap terkait polemik pengosongan pasar Rejosari untuk segera dibangun. Kalangan dewan juga menandaskan tidak menghalangi adanya pengosongan. Dewan saat ini masih terus melakukan komunikasi dengan eksekutif terkait harga kios dan los. “DPRD sama sekali tidak mengeluarkan sikap terkait pengosongan pasar Rejosari. Kami tidak ingin memperkeruh suasana yang ada dan niatan kami adalah untuk memfasilitasi agar ditemukan solusi terbaik,” kata Wakil Ketua DPRD Fathur Rahman.

Ia menambahkan, jika yang terpenting adalah harga kios dan los untuk secepatnya disepakati. Disinggung mengenai adanya sejumlah anggota dewan yang menolak pengosongan, Maman menyebutkan jika itu merupakan hak masing – masing. Namun secara kelembagaan belum ada sikap sama sekali. (sas/fth)