SEMARANG- Potensi pasar produk anti virus masih sangat menjanjikan seiring percepatan perkembangan dan daya serap teknologi. Apalagi, selama ini perkembangan malware makin menunjukkan kerumitannya sebagai upaya tindak kejahatan di dunia maya.

Marketing Director PT Prosperita ESET Indonesia, Chrissie Maryanto, mengatakan, dari data yang ada, pengguna anti virus ESET berasal dari seluruh sektor, dimana segmen bisnis mendominasi 60-70 persen dan sisanya ritel. Sedangkan pihaknya memprediksi Jawa Tengah akan menduduki peringkat ketiga market share setelah Jakarta dan Jawa Timur. “Perusahaan manufaktur mendominasi segmen bisnis penjualan produk ESET di Jawa Tengah. Satu perusahaan bisa menggunakan 300-500 side user,” katanya.

Menurutnya, industrinya di Jawa Tengah banyak dan itu potensinya besar. Walaupun banyak juga yang masih ala home industri menggunakan satu komputer atau bahkan masih pakai mesin ketik. “Penggunaan sistem proteksi antivirus sangat penting, terutama segmen bisnis. Pasalnya, serangan virus makin berkembang, satu diantaranya paling baru adalah CTB-Locker yang sifatnya merusak file,” ungkapnya.

Jika sampai kena CTB-Locker, lanjutnya, biasanya pembuat virus itu minta tembusan dengan harga tinggi untuk bisa dapat kunci. Untuk membayar pun tidak ada jaminan mendapatkan kunci, tapi bisa saja untuk pemerasan. “Untuk itu, ESET Sofware keamanan komputer dan gadget buatan Slovakia meluncurkan ESET Business Edition Versi 6. Keistimewaan dari produk terbaru ini adalah pada sistem manajemen antivirus yang mumudahkan kerja para IT Manager/Admin. Dapat memproteksi berbagai serangan virus seperti ramnit, sality, virut, botnet, ctb-locker, scam dan masih banyak lagi,” ujarnya.

Technical Consultant PT Prosperita ESET Indonesia, Yudhi Kukuh menambahkan, sistem lisensi terpusat berbasis cloud memungkinkan para IT perusahaan memonitor multi lisensi berbeda dari banyak anak perusahaan via web. “Sangat sesuai untuk perusahaan kelas menengah dan enterprise dengan ratusan hingga puluhan ribu komputer dan gadget yang harus dimanage dengan efisien,” imbuhnya.

Yudhi menuturkan, satu fitur untuk solusi manajemen bandwidth juga makin ditingkatkan. Bandwidth Throttling adalah fitur yang memberikan keleluasaan bagi IT Admin untuk membatasi pemakaian bandwitdh untuk update ESET. “Sistem proxy sebagai server architecture memungkinkan remote location tidak membutuhkan instalasi server. Cukup dengan ESET remote administrator proxy lalu lintas data dari dan ke server utama akan dimanage dengan baik,” jelasnya.

Menurutnya, native remote administrator (ERA) dengan 100 persen linux OS dan berbasis Web akan menjadi andalan, mengingat banyak perusahaan memakai Linux Server untuk menghemat budget. Dengan ERA yang bisa diinstall di Linux, praktis tidak akan ada penambahan budget karena tidak memerlukan lisensi OS. (amh/smu)