Disoal, Betonisasi Jalan Agus Salim Dihentikan

221
DIHENTIKAN: Kepala Dinas Bina Marga Kota Semarang Iswar Aminudin dan Ketua DPRD Kota Supriyadi saat meninjau lokasi pembangunan Jalan Agus Salim yang diprotes warga. Untuk sementara pengerjaan dihentikan hingga pedagang dipindah. (NUR CHAMI/JAWA POS RADAR SEMARANG)
DIHENTIKAN: Kepala Dinas Bina Marga Kota Semarang Iswar Aminudin dan Ketua DPRD Kota Supriyadi saat meninjau lokasi pembangunan Jalan Agus Salim yang diprotes warga. Untuk sementara pengerjaan dihentikan hingga pedagang dipindah. (NUR CHAMI/JAWA POS RADAR SEMARANG)

SEMARANG – Proyek pembetonan di Jalan KH Agus Salim disoal kalangan pedagang Pasar Johar yang menempati penampungan sementara di sepanjang jalan tersebut. Pedagang berharap pembangunan jalan tersebut dihentikan, karena aktivitas proyek menutup akses pedagang dan pembeli.

Pantauan di lapangan, para pekerja sudah mulai membongkar paving di badan Jalan Agus Salim. Utamanya ddari arah bundaran Bubakan sampai dengan persimpangan Pekojan. Sedangkan dari Pekojan sampai Pasar Johar dan dari arah Pasar Johar sampai Bubakan belum dilakukan kegiatan. Pedagang sendiri mendirikan lapak sementara di Jalan Agus Salim hanya dari Pasar Johar sampai Pekojan.

Aksi protes pedagang tersebut mengundang perhatian Ketua DPRD Kota Semarang, Supriyadi dan Kepala Dinas Bina Marga Kota Semarang, Iswar Amanuddin. Keduanya, langsung turun ke lokasi menemui para pedagang untuk mendengar keluhan. Ketika pihak pun menggelar diskusi di balai Kelurahan Purwodionatan untuk mencari solusi.

Dalam pertemuan diskusi tersebut, di hadapan Ketua DPRD Kota dan Kepala Dinas Bina Marga Kota, para pedagang mengaku baru berjualan pada akhir bulan Mei lalu. Terkait, adanya proyek pembangunan Jalan di KH Agus Salim, pedagang mengeluh dengan alasan pembongkaran paving karena aktivitas tersebut menutup akses jalan untuk pedagang dan pembeli. Menurut para pedagang, proyek tersebut berdampak terhadap turunnya pendapatan pedagang.

”Sampai tanggal 25 Mei kami belum berjualan karena lapak sementara di Jalan Agus Salim belum siap. Sampai saat ini baru sekitar 50 persen pedagang yang berjualan. Tapi Jalan Agus Salim yang sisi timur malah dibongkar,” kata perwakilan pedagang Zaenal Arifin.

Selain, menutup akses, pembongkaran paving juga mengakibatkan debu bertebaran yang dinilai mengganggu pernapasan para pedagang yang ada di sekitar. Selain itu, debu tersebut juga mengotori barang dagangan pedagang. Karena itu, para pedagang meminta pembangunan jalan agar dihentikan setidaknya sampai mereka pindah ke tempat penampungan sementara di lahan Masjid Agung Jawa Tengah (MAJT). ”Kami meminta proyek dihentikan lebih dulu sampai lapak pindah ke MAJT,” tegasnya.

Menanggapi hal tersebut, Ketua DPRD Kota Semarang, Supriyadi menyetujui permintaan para pedagang agar pengerasan Jalan KH Agus Salim dihentikan sementara. Menurutnya, kegiatan pengerasan jalan mengganggu aktivitas pedagang lantaran samping bahu jalan tersebut digunakan parkiran serta akses bongkar muat barang pedagang. ”Hari ini para pedagang mulai berjualan. Tapi kontraktor, pengerjaan pengerasan jalan sesuai dengan surat perintah kerjanya sudah mulai membongkar paving di Jalan Agus Salim. Sehingga solusinya mempertemukan langsung pedagang dan Dinas Bina Marga, dan Alhamdulillah tadi disetujui pembongkaran jalan dihentikan dulu,” ungkapnya.

Kepala Dinas Bina Marga Kota Semarang, Iswar Aminuddin mengatakan, kontrak dengan rekanan PT Asta Saka sudah mulai dikerjakan sejak 7 Mei lalu. Hanya saja, proyek tersebut terkendala lantaran adanya musibah kebarakan, dan lokasi Jalan KH Agus Salim dijadikan tempat penampungan pedagang untuk pasar darurat sementara. Sehingga pengerjaan tidak bisa sesuai rencana. ”Sebenarnya pengerjaan fisik Jalan Agus Salim, memang di kedua sisi yaitu dari bundaran Bubakan sampai Pasar Johar dan sebaliknya. Pedagang tidak melarang kami bekerja, tapi minta diatur agar pekerjaan dilakukan dulu dari bundaran Bubakan sampai Pekojan, kemudian dari Pekojan sampai Pasar Johar nanti setelah pedagang pindah ke MAJT,” jelasnya.

Pihaknya tidak mempermasalahakan permintaan pedagang, karena kontraktor tetap bisa mengerjakan proyek pengerasan jalan dari Bubakan sampai Pekojan. Hanya saja, pihaknya memastikan proyek pekerjaan pengerasan Jalan KH Agus Salim sepanjang 1 kilometer dengan konstruksi beton dengan anggaran seluruh badan jalan termasuk saluran akan ditutup dengan beton karena anggarannya Rp 6,6 miliar tersebut dikhawatirkan akan molor. ”Kami akui pengerjaan jalan ini bisa mundur, namun masa waktu pekerjaan sampai dengan akhir Desember, sedangkan pedagang akan pindah ke MAJT ditargetkan pada H+7 Lebaran atau akhir Juli, sehingga kami masih bisa berharap pengerjaan pengerasan jalan ini selesai tepat waktu,” pungkasnya. (mha/zal/ce1)