Berburu Bahan hingga Luar Kota, Butuh Waktu Satu Bulan dan Dana Jutaan

291
PENAMPIL TERBAIK: Beberapa penampil terbaik SNC 2015 berfoto bersama piala yang mereka dapatkan sebagai salah satu bentuk kebanggaan dapat berkontribusi demi Kota Semarang. (IST)
PENAMPIL TERBAIK: Beberapa penampil terbaik SNC 2015 berfoto bersama piala yang mereka dapatkan sebagai salah satu bentuk kebanggaan dapat berkontribusi demi Kota Semarang. (IST)

Kostum nan unik, megah, dan mewah yang kita lihat dalam gelaran Semarang Night Carnival (SNC) 2015 beberapa waktu lalu, merupakan hasil karya siswa. Butuh kesabaran dan ketelitian untuk menghasilkan kostum yang indah. Dari ratusan peserta SNC 2015, tim penilai menobatkan sejumlah kostum siswa sebagai pemenang.

Usaha Karindra Duhita Anindyaguna dalam membuat kostum Semarang Night Carnival (SNC) 2015, berbuah manis. Dari ratusan peserta SNC dengan kostum berbagai bentuk dan tema, kostum miliknya dinobatkan sebagai kostum terbaik dari kategori SMA. Usahanya selama ini hingga ke luar kota, hanya demi mendapatkan bahan baku kostum, terbayar sudah.

Dia mengaku dari sejumlah bagian, yang paling sulit adalah membuat mahkota. Untuk mahkotanya sendiri memiliki berat sekurangnya 2 kg. ”Namun saya juga mencari rotan hingga ke Kendal serta untuk mencari ijuk warna-warni,” tukasnya.

Meski berat beban membawa kostum hingga 5 kg, namun semua nyaris terbayar dengan kebanggaan bisa berkonstribusi demi Kota Semarang. Karin, sapaan akrabnya, juga merasa berbangga karena dari empat wakil SMA 3, hanya dirinya yang mendapat penghargaan penampil terbaik SNC 2015 ini.

Rasa bangga juga menyelimuti hati Valka Isaf De Lasta. Kostum milik siswi SMP 4 Semarang itu, dianggap yang paling unik dan menarik di kategori SMP. Kesibukannya membuat kostum yang memakan waktu hampir satu bulan itu seakan terbayar dengan predikat juara. Kostum miliknya dengan tema etnis Cina itu memiliki berat 5 kilogram. ”Biayanya saja lebih dari Rp 1 juta,” terangnya.

Tak beda, Laksmi Kinanti juga mengakui sulitnya membuat kostum etnis Jawa yang dikenakannya. Ia dan ibunya bahkan rela blusukan dari pasar ke pasar untuk mencari bahan kostum yang dipersyaratkan berasal dari bahan-bahan anyaman atau tikar. Dia pun merogoh kocek Rp 600 ribu untuk menghasilkan kostum yang berhasil mengantarkannya meraih gelar 20 kostum terbaik SNC 2015.

Selain mendapat penghargaan atas hasil karyanya, siswi SMP 19 itu mengaku banyak mendapat teman baru selama workshop SNC. ”Saya juga menemukan teman yang kini bahkan sudah menjadi sahabat dekat karena kami sering bertemu sejak dua bulan saat masih workshop,” imbuhnya.
Diakui, dalam membuat kostum karnaval, membutuhkan ketekunan dan kesabaran. Bahkan untuk menghasilkan karya terbaik, Zephyra Aisya Dalimarta, peserta lain, rela mencari bahan dasar kostum etnis Jawa hingga ke Pasar Beringharjo di Jogjakarta. Dana sebesar hampri Rp 2 juta, dihabiskannya untuk membuat baju yang didominasi manik-manik dan dihias dengan potongan karung goni. ”Saya mendapatkan ide membuat kostumnya dari internet, hanya dibantu kakak,” kata siswi SMP 5 ini. (rizal/ce1)