DIBERSIHKAN: Jelang peringatan Tri Suci Waisak 2559/2015, seorang biksu membersihkan patung Buddha di kompleks Vihara Mahavira Graha Semarang kemarin. (NURCHAMIM/JAWA POS RADAR SEMARANG)
DIBERSIHKAN: Jelang peringatan Tri Suci Waisak 2559/2015, seorang biksu membersihkan patung Buddha di kompleks Vihara Mahavira Graha Semarang kemarin. (NURCHAMIM/JAWA POS RADAR SEMARANG)

TAWANG MAS – Jelang peringatan Tri Suci Waisak 2559/2015 yang jatuh pada Selasa (2/6) hari ini, umat Buddha menggelar berbagai persiapan. Di Vihara Mahavira Graha Semarang, sejumlah biksu tampak membersihkan patung Buddha yang ada di sekitar vihara, Senin (1/6) siang kemarin. Selain itu, para biksu menyalakan lilin sebagai simbol pelita keselamatan.

Pada hari sebelumnya, juga digelar prosesi pemandian rupang Buddha atau Yi Fo serta melakukan sembahyang dan pembacaan dhamma. Malam kemarin juga dilakukan upacara pertobatan 88 Buddha atau Namaskara yang diisi meditasi dan penyalaan pelita.

Sekretaris Jenderal World Buddhist Sangha Council, Pimpinan Vihara Mahavira Graha Semarang, YM Venerable Prajnavira Mahasthavira, dalam pesan Waisak mengatakan, jika saat ini dunia sedang dilanda keresahan oleh sebagian orang yang tidak bertanggung jawab. Menurut dia, masalah terbesar saat ini adalah kerusakan bumi, kesenjangan sosial, kegagalan pemerintahan, serta kekerasan dalam rumah tangga.

”Kita sebagai murid Sang Buddha, ajaran dharma mengajarkan umat untuk melatih diri agar bisa mencapai kesucian hati dan pikiran, serta mengendalikan diri dari keserakahan dan nafsu,” katanya.

Melalui pelatihan diri berdasarkan sekte Mahayana, Theravada maupun Vajrayana, kata dia, setiap umat Buddha perlu mengoreksi diri atas kesalahan di masa lampau untuk kemudian membangun diri dan masyarakat yang harmonis, serta kehidupan yang damai penuh dengan kesadaran.

”Jika kita hendak menyelamatkan dunia dari masa sulit ini, maka harus dimulai dari kemauan setiap orang untuk bersama-sama menyumbangkan waktu dan pikiran, bersedia menanggung segala hasil dari kesalahan masa lampau kemudian memperbaikinya, memberikan sumbangsih, dan penuh rasa tanggung jawab untuk bersama-sama mengajak orang di sekeliling kita,” paparnya.

Dengan melatih diri untuk menaklukkan keserakahan (lobha), kebencian (dosa), kebodohan (moha), melatih kemoralan (sila), konsentrasi (samadi), kebijaksanaan (prajna), serta mengembangkan Bodhicitta untuk membersihkan diri dari segala kekotoran batin (kilesa).

”Dengan semangat perdamaian marilah kita mengembangkan ajaran Buddha, yakni ajaran cinta kasih yang universal untuk menyelamatkan dunia. Dengan demikian ajaran Dharma Sang Buddha akan terus berkumandang di seluruh penjuru di pelosok dunia,” katanya.

Kepada umat, Prajnavira Mahasthavira berharap dengan menyambut kelahiran Buddha, bisa diberi panjang umur, dan bisa membersihkan batin jasmani serta mendapatkan kebahagiaan di dalam ajaran Sang Buddha. (den/aro/ce1)