Laila Mufti Adhaningrum. (Faiz Urhanul Hilal/Jawa Pos Radar Semarang)
Laila Mufti Adhaningrum. (Faiz Urhanul Hilal/Jawa Pos Radar Semarang)

BAGI Laila Mufti Adhaningrum, duta wisata Kota Pekalongan, dengan memahami perbedaan, maka akan terpupuk rasa toleransi yang berujung penerimaan. Hanya karena berbeda, tak perlu berujung konflik.

Gadis kelahiran Pekalongan 21 Mei 1994 itu menceritakan, pemikirannya itu merupakan buah pengalamannya ketika mewakili kota kelahirannya dalam Jambore Pemuda Indonesia (JPI) di Palangkaraya Kalimantan Timur akhir 2014 lalu.

“Biasanya di lingkungan sekitar hanya bertemu dengan orang yang memiliki sedikit perbedaan. Namun di JPI, banyak orang dari berbagai daerah dengan perbedaan drastis,” ungkapnya.

Hal itulah yang dimanfaatkan untuk menempa dirinya dalam rangka saling mengenal dan belajar berbagai hal dari budaya lain. Mulai dari kesenian, kerajinan dan interaksi masyarakat.

“Mulai dari Maluku, Gorontalo, Riau, juga di Kalimantan Tengah yaitu masyarakat Dayak. Menarik sekali perbedaan itu. Sama-sama belajar, bersosialisasi membangun persahabatan dalam budaya yang berbeda,” kata gadis yang intim disapa Laili ini.

Mahasiswi Universitas Pekalongan (Unikal) Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP), Program Studi Pendidikan dan Sastra Indonesia itu mengungkapkan bahwa adanya perbedaan seharusnya menjadi sarana untuk saling menguatkan, bukan pelarian pemicu perpecahan.

“Kalau kita bisa memahami betul perbedaan, maka yang muncul adalah toleransi. Bukannya konflik perpecahan. Itu bisa diimplementasikan dalam kehidupan sehari-hari,” tuturnya sembari tersenyum. (hil/ida)