Kemoterapi Berisiko Malnutrisi

212

SEMARANG – Malnutrisi pada pasien kanker merupakan multifaktorial, baik yang disebabkan oleh tumor atau terapi kanker. Faktor tersebut diklasifikasikan menjadi tiga kategori utama, antara lain penurunan asupan makanan, malabsorpsi (gangguan penyerapan di usus), dan gangguan metabolik yang mengakibatkan tidak efisien, metabolisme yang boros (wasteful).

Hal itu dikatakan oleh dr Arien Himawan saat menjadi pembicara pada seminar Peran Diet, Zat Gizi dan Penyakit Kanker di RS Tlogorejo, kemarin. Menurut Ahli penyakit kanker tersebut, malnutrisi merupakan salah satu penyebab terjadinya defisiensi semua zat gizi tubuh, sehingga memperburuk sistem kekebalan tubuh serta fungsi organ dan metabolik.

”Selain asupan makanan yang tidak adekuat, faktor terutama di antara faktor patogenetik yaitu perubahan yang diinduksi oleh sitokin pada pengaturan sistem kekebalan tubuh dan terjadi perubahan metabolik pada metabolisme protein, lemak dan karbohidrat. Sehingga menyebabkan anoreksia (penurunan nafsu makan), hipermetabolisme, inflamasi sistemik, keletihan, dan depresi,” terang Arien.

Menurutnya, terapi kanker seperti kemoterapi dan radiasi sering menyebabkan mual, muntah, diare, mukositis, mulut menjadi kering, kesulitan menelan dan perubahan indra pengecap (dysguesia), sehingga efek dari terapi tersebut dapat meningkatkan risiko malnutrisi. ”Diet pada pasien kanker diberikan sesuai dengan status gizi pasien, kondisi klinis, terapi medikamentosa, laboratorium, serta adanya penyakit lain atau proses inflamasi yang menyertai penyakit,” katanya.

Selain itu, lanjutnya, diet yang memadai dapat memperbaiki proses klinis penyakit keganasan pada fase akut dan selama kondisi pemulihan setelah operasi, kemoterapi, atau radioterapi. Wholefood diet adalah mengonsumsi banyak buah segar dan sayuran, serta dengan asupan inumonutrisi yang disesuaikan dengan kebutuhan penderita. ”Tujuan terapi gizi untuk pasien kanker yaitu perbaikan fungsi dan memberikan hasil klinis yang lebih baik dengan memperbaiki asupan kalori dan zat gizi yang adekuat untuk mempertahankan berat badan tetap ideal, mencegah dan mengobati kekurangan gizi, mencegah terjadinya malnutrisi lebih lanjut akibat efek pengobatan kanker, mengurangi efek samping dari terapi kanker, dan meningkatkan kualitas hidup,” tuturnya.

Komposisi asupan zat gizi harus lengkap, imbuhnya lagi, yaitu mengandung zat gizi makro yang terdiri atas karbohidrat, protein dan lemak dan mengandung zat gizi mikro seperti vitamin, mineral dan mikronutrien lain seperti antioksidan. ”Peran mikronutrien antioksidan adalah mampu menghambat atau mencegah proses oksidasi, menangkap radikal bebas dalam tubuh. Antioksidan banyak ditemukan pada pada buah dan sayur, antara lain vitamin E, vitamin C, dan karotenoid, misalnya buah naga, jambu biji, manggis, wortel, tomat, brokoli dan masih banyak lagi,” paparnya.

Menurutnya, pencegahan penyakit kanker sangat sulit, yang dapat dilakukan dengan memilih makanan yang sehat (tanpa pengawet, tanpa bahan pewarna dan penyedap rasa), melakukan aktivitas fisik, dan mencapai dan mempertahankan berat badan ideal. (ewb/zal/ce1)