Gas Langka, Warga Gunakan Kayu

156

TENGARAN—Kelangkaan gas elpiji terjadi sejak 3 hari lalu di sejumlah wilayah di Kecamatan Tengaran Kabupaten Semarang. Di antaranya di Jalan Tingkir-Suruh dan Salatiga-Senjoyo. Karena itulah, beberapa penjual gas memilih menggunakan kayu untuk memasak.

Diduga penyebab kelangkaan gas elpiji tersebut lantaran kebutuhan warga semakin meningkat. Diiringi juga dengan perpindahan pengguna gas elpiji 12 kg ke 3 kg, lantaran harga gas 12 kg lebih mahal.

Surtini, 43, warga Desa Bener, Kecamatan Tengaran yang sehari-hari menjual gas elpiji mengaku beberapa hari ini baralih memasak dengan menggunakan kayu bakar. Biasanya gas datang setiap dua hari sekali. Karena warga panik dan khawatir gas elpiji akan habis, menyebabkan satu keluarga langsung membeli 3 sampai 4 tabung gas elpiji. Wajar saja, setiap kali gas datang langsung habis.

“Selain itu, di perbatasan dua wilayah ini, banyak warga Salatiga yang membeli gas di wilayah Kabupaten Semarang dan sebaliknya. Sehingga kelangkaan gas terjadi secara bersamaan,” ungkapnya.

Hal senada diungkapkan oleh Safruddin, 34, di Pasar Kembangsari, Tengaran. Dirinya menyayangkan sering terjadinya kelangkaan gas. Kalau mau menaikkan gas, tidak perlu dibuat langka. Karena berapapun harga gas, pasti dibeli masyarakat. Hanya karena menaikkan Rp 1000 sampai Rp 2000, malah mematikan penjualan pedagang kecil. “Kalau begini, yang dirugikan masyarakat. Gara-gara seribu sampai dua ribu rupiah, menghilangkan perputaran ratusan ribu rupiah,” ungkapnya. (abd/ida)