Efektivitas Zona Selamat Sekolah

514
TETAP NGEBUT: Zona Selamat Sekolah di Jalan Puspowarno Raya Semarang Barat. (NURCHAMIM/JAWA POS RADAR SEMARANG)
TETAP NGEBUT: Zona Selamat Sekolah di Jalan Puspowarno Raya Semarang Barat. (NURCHAMIM/JAWA POS RADAR SEMARANG)

MARKA jalan atau tanda peringatan yang diberi nama Zona Selamat Sekolah dinilai masih kurang efektif. Pasalnya, masih banyak pengendara yang tidak paham terhadap marka tersebut. Mereka cenderung melanggar. Disemprit, malah melaju kencang.

Zona selamat merupakan pengembangan dari zebra cross. Namun bentuk marka ini lebih memiliki ukuran luas dan memanjang, berupa cat berwarna merah di aspal jalan raya terutama di depan lokasi sekolah atau tempat-tempat ramai yang berfungsi sebagai area penyeberangan khusus bagi pejalan kaki.

Di setiap ujung zona selamat tersebut juga terdapat zebra cross berbentuk garis membujur berwarna putih dengan tebal garis 300 mm, panjang sekurang-kurangnya 2.500 mm. Tujuannya jelas baik, yakni untuk memberi hak keselamatan bagi pejalan kaki yang hendak menyeberang di jalan raya ramai. Namun faktanya kadang belum seperti yang diharapkan. Seringkali para pengendara terlihat nyelonong dan tidak menghiraukan marka jalan seperti zona selamat tersebut.

Entah itu bukti bahwa marka zona selamat di depan sekolah tidak efektif, atau kurangnya sosialisasi untuk melakukan pendidikan displin berlalu lintas kepada masyarakat umum. Sehingga yang terjadi, masyarakat malah gemar melanggar aturan. Ironisnya lagi, seakan marka jalan hanya jadi hiasan jalan belaka. Padahal, persoalan sepele itu bisa mengakibatkan nyawa melayang sia-sia.

Sutrisno, 55, warga Delik Rejo RT 3 RW 11 Kelurahan Tandang, Tembalang, Semarang, mencontohkan marka Zona Selamat Sekolah di depan SMP/SMA Muhammadiyah di Jalan Tentara Pelajar Semarang. Dia menilai, adanya marka Zona Selamat Sekolah di jalur tersebut tidak efektif.
”Di sini jalur ramai. Intensitas pengendara yang melintas sangat banyak. Terlebih jam-jam masuk ada pulang sekolah. Marka Zona Selamat Sekolah itu tidak ada pengaruhnya sama sekali. Pengendara sering disemprit, malah justru semakin melaju kencang. Mereka malah semakin ngebut. Zona Selamat Sekolah tidak efektif untuk keselamatan tanpa didukung petugas jaga,” kata pria yang bekerja sebagai tukang parkir di dekat SMP/SMA Muhammadiyah Semarang saat ditemui Jawa Pos Radar Semarang, Minggu (31/5).

Menurutnya, justru yang berpengaruh menyelamatkan dalam penyeberangan di sekolah adalah petugas yang membantu menyeberangkan anak sekolah. ”Iya, justru yang berpengaruh adalah satpam dan polisi yang bertugas mencarikan jalan, membantu proses penyeberangan. Namanya juga orang banyak, mungkin juga masih banyak masyarakat tidak paham marka tersebut,” ujarnya.

Dikatakannya, untuk jalan ramai seperti di Jalan Tentara Pelajar Semarang, sangat diperlukan petugas yang membantu menyeberangkan para siswa. ”Apalagi untuk siswa SD, di SDN Jomblang 1 misalnya. Kalau untuk siswa SMA dan SMP Muhammadiyah masih lumayan bisa lebih hati-hati sendiri. Faktor siswanya sendiri juga memengaruhi keselamatan, kadang siswanya juga asal nyelonong. Namanya juga anak-anak. Kadang pengendaranya yang ugal-ugalan,” katanya.

Dia menyebut, Jalan Tentara Pelajar merupakan jalur rawan kecelakaan. Di Zona Selamat Sekolah di depan SMP/SMA Muhamadiyah itu sendiri sering terjadi kecelakaan. ”Wah ya sering ada kecelakaan. Malah dulu ada pengendara kecelakaan sampai meninggal. Itu belum lama, kurang lebih satu tahun lalu,” katanya.

Menurutnya, penyeberangan Zona Selamat Sekolah tak jarang menimbulkan efek kemacetan. Terutama pada jam-jam sibuk seperti pagi saat masuk sekolah, dan jam pulang sekolah. ”Mungkin kalau di sini, melihat jalurnya ramai, seharusnya lebih tepat diberi jembatan penyeberangan. Hal itu agar tidak menimbulkan efek kemacetan. Pengendara juga tidak terganggu,” cetusnya.

Siswi SMP Muhammadiyah, Diyanti, 14, mengatakan hal senada. Menurutnya, Zona Selamat Sekolah tersebut cenderung tidak membuat pengendara mengurangi kecepatan. ”Meski ada Zona Selamat Sekolah, pengendara masih tetap kencang soalnya. Mereka tidak menghiraukan adanya zona selamat. Paling ya kita sendiri yang harus hati-hati, jangan lari dan lain-lain,” kata Diyanti diiyakan temannya.

Dia juga mengaku hal yang sangat membantu dalam penyeberangan adalah adanya peran satpam dan polisi yang ditugaskan membantu menyeberangkan di jalur tersebut. ”Kalau pagi biasanya ada Pak Satpam dan Pak Polisi. Tapi nggak tentu, kadang ada kadang tidak,” ujar siswi kelas 8 itu bersama dua temannya, Ifa dan Elsa.

Kasat Lantas Polrestabes Semarang, AKBP Pungky Bhuana, mengatakan, marka Zona Selamat Sekolah merupakan program Dinas Perhubungan, Komunikasi dan Informtika (Dishubkominfo) Kota Semarang. Pihaknya menilai, adanya Zona Selamat Sekolah merupakan langkah positif yang membangun. ”Bagus, intinya itu warning (peringatan, Red) agar pengendara lalu lintas minimal mengurangi kecepatannya,” kata Pungky.

Menurutnya, marka Zona Selamat Sekolah sangat diperlukan. Terutama di titik-titik rawan kecelakaan. Adanya marka zona selamat juga secara otomatis memberikan efek kejut bagi pengendara. ”Pengendara kalau melihat hal yang aneh kan otomatis dia mengurangi kecepatan. Zona selamat itu memakai warna cat merah misalnya. Filosofinya kan begitu,” terangnya.

Selain itu, kata dia, zona selamat juga berfungsi melokalisasi bagi pejalan kaki secara khusus. Tentunya menyediakan fasilitas dengan tujuan keselamatan. ”Kami juga setiap hari menugaskan minimal satu anggota untuk bertugas di titik rawan seperti itu. Misalnya di depan SMAN 3, SMA Pangudi Luhur Don Bosko Semarang, termasuk di depan SMP/SMA Muhammadiyah Jalan Tentara Pelajar itu,” katanya.

Mengenai apakah sudah efektif atau belum, Pungky mengaku belum melakukan evaluasi atau pengkajian secara mendalam. ”Yang jelas sangat membantu. Kalau pengkajian secara mendalam, kami belum melakukan,” kilahnya.

Ditanya soal jembatan penyeberangan, Pungky menjelaskan, antara marka Zona Selamat Sekolah dan jembatan penyeberangan memiliki konsep berbeda. ”Konsepnya berbeda. Termasuk soal penghematan pembiayaan. Tapi yang lebih tepat menjelaskan adalah Dishub,” katanya.

Terpisah, Kepala Dishubkominfo Kota Semarang, Agus Harmunanto, menjelaskan, Zona Selamat Sekolah merupakan fasilitas yang secara khusus diperuntukkan bagi pejalan kaki. ”Fungsinya sangat penting sekali. Apalagi volume kendaraan yang semakin tinggi. Itu demi keselamatan masyarakat, baik pengemudi kendaraan, maupun pejalan kaki,” ujarnya.
Selain fasilitas marka Zona Selamat Sekolah, juga dilengkapi rambu ”Hati-Hati”, termasuk pita kejut di zona selamat tersebut. Zona selamat sejauh ini memiliki payung hukum, yakni berdasarkan Undang-Undang (UU) Nomor 22 tahun 2009 tentang lalu lintas dan angkutan jalan.

”Jika ada pengendara menabrak pejalan kaki di zona selamat, dia bisa diberi sanksi pidana lebih berat. Apalagi sampai mengakibatkan meninggal dunia,” terang Agus saat dikonfirmasi Jawa Pos Radar Semarang, Minggu (31/5).

Agus menegaskan, pejalan kaki yang menggunakan fasilitas zona selamat mendapat perlindungan hukum. ”Keselamatan dia nomor satu. Maka kalau ada pejalan kaki menyeberang di jalur zona selamat, pengendara motor harus berhenti,” terangnya.

Sejauh ini, Agus mengaku telah melakukan sosialisasi kepada masyarakat terkait marka zona selamat tersebut. Tujuannya agar masyarakat disiplin dan menaati hukum. Termasuk memberikan hak keselamatan kepada pejalan kaki.

Di Semarang sendiri, titik lokasi zona selamat dipilih berdasarkan tingkat kerawanan kecelakaan. ”Hanya di tempat-tempat yang kami nilai rawan. Jadi, kami selaku pembina lalu lintas menyiapkan fasilitas selain zebra cross demi keselamatan pemakai jalan,” katanya.
Adanya marka zona selamat tersebut, Agus berharap masyarakat mengetahui dan melaksanakan disiplin berlalu lintas. ”Di dalam UU sudah dijelaskan, pengendara harus berhenti saat ada pejalan yang berada di zona selamat,” bebernya.

Sehingga jika ada pengendara menabrak pejalan kaki yang berada di zona selamat, dipastikan pengendara tersebut salah. ”Kecuali kalau pejalan kaki itu tidak berada di zona selamat. Artinya di luar zona selamat,” ujarnya. (abdul mughis/aro/ce1)