PEDULI ODHA : Mensos saat mengunjungi Rumah Sadar yang menampung 564 orang penderita HIV/AIDS (ODHA) di Desa Mojokerto, Kecamatan Reban, Batang. (TAUFIK HIDAYAT/JAWA POS RADAR SEMARANG)
PEDULI ODHA : Mensos saat mengunjungi Rumah Sadar yang menampung 564 orang penderita HIV/AIDS (ODHA) di Desa Mojokerto, Kecamatan Reban, Batang. (TAUFIK HIDAYAT/JAWA POS RADAR SEMARANG)

BATANG-Sebanyak 5,4 juta bayi dari 32 bayi di bawah lima tahun (Balita) di Indonesia mengalami gizi buruk. Akibatnya, balita mengalami ganguan baik fisik maupun intelektualnya.

Data gizi buruk tersebut disampaikan langsung oleh Menteri Sosial (Mensos) Republik Indonesia, Khofifah Indar Parawansa, saat membuka Jambore Gizi Tahun 2015 di Lapangan Satrian, Desa/Kecamatan Subah, Kabupaten Batang, Minggu sore (31/5) kemarin. Sebelumnya Mensos juga mengunjungi Rumah Sadar yang menampung 564 orang penderita HIV/AIDS (ODHA) di Desa Mojokerto, Kecamatan Reban, Batang.

Khofifah menyatakan bahwa terindikasinya 5,4 juta balita yang mengalami gizi buruk, sangat mempengaruhi tumbuh kembang balita, baik secara fisik maupun intelektual. “Balita yang terlahir dengan gizi buruk, sangat potensial mengalami ketidakseimbangan tumbuh kembang baik secara fisik maupun intelektualnya,” katanya.

Karena itulah, katanya, pemerintah pada tahun 2015 ini, menyiapkan generasi hingga tahun 2045 sebagai generasi emas. Sehingga seluruh gizi balita harus tercukupi dengan baik, demikian juga dengan ibu yang mengandungnya.

“Untuk menanggulangi gizi buruk di Kemensos, ada Program Keluarga Harapan untuk 8 persen masyarakat kurang mampu. Penerimaanya adalah ibu hamil sebesar Rp 1 juta, agar mendapatkan asupan gizi yang baik untuk janin maupun ibunya. Sehingga, berat badan bayi saat dilahirkan tidak rendah,” tuturnya.

Sedangkan Mensos saat mengunjungi Rumah Sadar mengatakan, bahwa Kabupaten Batang memiliki jalan pantura terpanjang dan banyaknya lokalisasi, sehingga sangat potensial terjadinya penyebaran HIV/AIDS. Karena itu, Pemkab Batang harus membuat aturan yang tegas, tidak hanya memberikan sanksi kepada Wanita Pekerja Seks (WPS), namun juga penggunanya yakni para pria hidung belang.

Tingginya warga di Batang yang terkena ODHA sebanyak 564 orang, menunjukkan perlu adanya program rehabilitas terhadap para WPS tersebut. “Mensos akan membiayai rehablitas para WPS, sebesar Rp 3 juta selama tiga bulan. Dengan catatan, mereka tidak kembali pada pekerjaannya yang lama sebagai WPS. Namun program ini tidak berlaku bagi mucikari,” tegas Mensos.

Sementara itu, Bupati Batang, Yoyok Riyo Sudibyo menandaskan bahwa di Kabupaten Batang telah dilaksanakan pelayanan gizi, berupa pendidikan gizi, suplementasi gizi, tata laksana gizi, dan surveilans gizi. “Semua itu, kami laksanakan mulai dari pelayanan kesehatan di tingkat paling dasar, yakni Posyandu hingga ke RSUD Batang,” tandas Yoyok, saat menyampaikan sambutan di Jambore Gizi 2015 kemarin. (thd/ida)